Kaidah ergonomi dalam menentukan mikroklimat di ruang kuliah Oleh : Dr. I Gusti Made Oka Suprapta

ERGONOMI

Kaidah ergonomi dalam menentukan mikroklimat di ruang kuliah

Oleh:

Dr. I Gusti Made Oka Suprapta

 

Mikroklimat di ruang kuliah ditentukan oleh suhu udara, suhu permukaan (suhu di atas meja, jendela, dinding, lantai dan lain-lain), kelembaban udara, gerakan udara, dan kualitas udara. Suhu yang dirasakan seseorang merupakan rerata dari suhu udara dan suhu permukaan. Untuk rasa nyaman, perbedaan suhu udara dan suhu permukaan hendaknya sekecil mungkin. Oleh karena itu, diambil patokan agar perbedaan rerata suhu permukaan hendaknya tidak lebih dari 2 – 3o C di atas atau di bawah suhu udara, sedangkan perbedaan suhu antara di dalam dan di luar ruangan, tidak lebih dari 4o C. Jika melebihi batas tersebut, hendaknya dibuat ruang antara untuk proses adaptasi terhadap perbedaan suhu tersebut (Manuaba, 2004 b).

    Suhu udara di satu ruangan, hendaknya antara 20 – 24o C pada musim dingin dan antara 23 – 26o C di musim panas (Helander & Shuan, 2005), sedangkan kelembaban relatif di satu ruangan tidak boleh kurang dari 30% atau antara 40 – 60% di musim panas, merupakan kelembaban relatif yang memberi suasana nyaman di ruangan tersebut. Suhu nyaman untuk daerah tropis adalah antara 22 s.d. 28o C dengan kelembaban relatif antara 70 s.d. 80% (Manuaba, 2004 b).

    Gerakan udara di satu ruangan memberi pengaruh kepada suhu yang dirasakan seseorang. Agar gerakan udara tersebut tidak menimbulkan dampak yang tidak diinginkan, dianjurkan agar gerakan udara di dalam ruangan tidak lebih dari 0,2 m/ detik (Manuaba, 2004 b ).

    Seandainya mikroklimat di ruang belajar tidak diperhatikan, sehingga ruang tersebut menjadi panas, akan timbul respon fisiologis sebagai berikut. (a) rasa lelah yang diikuti dengan hilangnya efisiensi kerja mental dan fisik meningkat; (b) denyut jantung meningkat; (c) tekanan darah meningkat; (d) aktivitas alat pencernaan menurun; (e) Suhu inti tubuh meningkat; (f) aliran darah ke kulit juga meningkat; dan (g) produksi keringat meningkat (Tarwaka, dkk., 2004).

Melihat dampak negatif yang ditimbulkan oleh suhu ruangan yang panas, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk mendesain ruang kuliah yang mengacu kepada kaidah-kaidah ergonomi, demi tercapainya produktivitas belajar yang setinggi-tingginya. Dengan demikian, berarti energi yang dikeluarkan sepenuhnya untuk kegiatan belajar dan tidak ada energi yang terbuang untuk mengatasi kondisi ruangan yang tidak nyaman. Pengetahuan tentang mikroklimat di ruang kuliah dapat dimanfaatkan sebagai acuan di dalam mendesain ruang kulih yang nyaman dan tidak menimbulkan respon fisiologis yang tidak diinginkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: