ERGONOMI

OLEH

I GUSTI MADE OKA SUPRAPTA

 PENDAHULUAN

1.1      Latar belakang

Pendekatan SHIP (sistemik, holistik, interdisipliner, partisipatori) merupakan suatu  kajian ergonomi yang dapat mengelola suatu aktivitas di tempat kerja. Penerapan ergonomi sebaiknya dilakukan secara sistemik, dikaji melalui lintas disiplin ilmu (interdisipliner) dan holistik serta menggunakan pendekatan partisipatori, agar semua komponen yang ada dapat diajak atau dilibatkan berpartisipasi sejak perencanaan sampai tahap pelaksanaan maupun dalam evaluasinya, sehingga mereka akan mengetahui keberhasilan atau kegagalannya dan secara bersama-sama mencari kembali solusinya serta mereka akan merasa ikut memiliki. Pendekatan SHIP harus dilaksanakan secara konsekuen agar diperoleh hasil yang maksimal dan dampak negatif yang ditimbulkan akan bisa ditekan seminimal mungkin (Manuaba, 1999 dan 2004).

Dalam pendekatan SHIP ditekankan bahwa masalah harus dipecahkan secara: (a) sistemik atau melalui pendekatan sistem, dimana semua faktor yang berada di dalam satu sistem dan diperkirakan dapat menimbulkan masalah harus ikut diperhitungkan sehingga tidak ada lagi masalah yang tertinggal atau munculnya masalah baru sebagai akibat dari keterkaitan sistem; (b) holistik artinya semua faktor atau sistem yang terkait atau diperkirakan terkait dengan masalah yang ada, haruslah dipecahkan secara proaktif dan menyeluruh; (c) interdisipliner artinya semua disiplin terkait harus dimanfaatkan, karena makin kompleksnya permasalahan yang ada diasumsikan tidak akan terpecahkan secara maksimal jika hanya dikaji melalui satu disiplin, sehingga perlu dilakukan pengkajian melalui lintas disiplin ilmu; dan (d) partisipatori artinya semua orang yang terlibat dalam pemecahan masalah tersebut harus dilibatkan sejak awal secara maksimal agar dapat diwujudkan mekanisme kerja yang kondusif dan diperoleh produk yang berkualitas sesuai dengan tuntutan jaman (Manuaba, 2003 a dan 2003 b).

Memperhatikan hal tersebut di atas maka pembelajaran juga merupakan suatu aktivitas kerja yang perlu dikelola dengan pendekatan ergonomi. Penggunaan  pendekatan SHIP dalam mengelola suatu aktivitas pembelajaran dapat diartikan sebagai upaya pemberdayaan seseorang agar lebih terbuka, transparan, delegatif, kolaboratif, dapat menghargai perbedaan, dapat menghargai manajemen waktu dan konflik, mampu bekerja dalam tim, mampu mengurangi arogansi, tidak memonopoli waktu, dan sadar akan demokrasi dan hak-hak asasi manusia (Manuaba, 2002). Pembelajaran dengan pendekatan SHIP dapat menyeimbangkan antara tuntutan tugas (beban kerja) dan kapasitas (kemampuan, kebolehan dan keterbatasan) pebelajar sehingga mereka dapat belajar secara efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien serta tercapai prestasi yang setinggi-tingginya (Manuaba, 2002).

Pembelajaran dengan pendekatan SHIP menuntut aktivitas kelas berpusat pada pebelajar, bermakna dan otentik. Pembelajaran ini menggunakan pengetahuan awal, pengalaman, dan minat pebelajar dalam pembelajaran yang mendukung pengkonstruksian pengetahuan secara aktif. Pembelajaran dengan pendekatan SHIP   melibatkan para pebelajar dalam interaksi sosial untuk mengembangkan pengetahuan dan   menghendaki pergeseran peran pebelajar dari pengamat informasi secara pasif menjadi pebelajar yang  aktif, kritis, dan kreatif dalam menganalisis dan mengaplikasikan fakta-fakta, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari. Sehingga dengan demikian pembelajaran dengan pendekatan SHIP menghendaki pergeseran peran pebelajar yang semula hanya bertindak sebagai penerima informasi secara pasif menjadi: (a) pebelajar yang aktif dan inovatif; (b) pebelajar yang mampu berpikir kritis dan kreatif dalam menganalisis dan mengaplikasikan fakta, konsep dan prinsip yang dipelajari; (c) pebelajar yang mampu bekerja dalam tim secara kondusif; (d) pebelajar yang mampu mengkaji masalah secara sistemik, holistik dan interdisipliner; dan (e) pebelajar yang peka terhadap masalah yang ada di masyarakat yang ditelusuri secara partisipatori (Manuaba, 2003b).  Mengingat pendekatan SHIP akhir-akhir ini menjadi suatu kajian menarik yang banyak didiskusikan oleh para ahli karena keampuhannya  dalam mengelola suatu aktivitas di tempat kerja, maka dipandang perlu untuk mengkaji masalah pembelajaran dikaitkan dengan pendekatan SHIP (sistemik, holistik, interdisipliner dan partisipatori).

 

1.2 Rumusan Masalah

            Bertitik tolak dari latar belakang tersebut di atas, dapat dibuat rumusan masalahnya sebagai berikut.

1)  Mengapa pendekatan SHIP diperlukan dalam pembelajaran?

2)  Upaya-upaya apa yang dilakukan untuk menerapkan pendekatan SHIP dalam pembelajaran?

3)  Apa kendala-kendala yang mungkin akan dihadapi dalam upaya penerapan pendekatan SHIP dalam pembelajaran?

 

1.3 Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai pada penulisan ini adalah sebagai berikut.

1)      Untuk mengkaji bahwa pendekatan SHIP diperlukan dalam pembelajaran.

2)      Untuk mengkaji upaya-upaya yang dilakukan untuk menerapkan pendekatan SHIP dalam pembelajaran.

3)      Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan pendekatan SHIP dalam pembelajaran.

 

1.4  Manfaat Penulisan

Manfaat yang diharapkan dari penulisan ini adalah sebagai berikut.

1)      Dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi tentang pendekatan SHIP dalam mengelola suatu aktivitas di tempat kerja.

2)      Dapat dimanfaatkan sebagai acuan dalam menerapkan pendekatan SHIP dalam pembelajaran.

3)      Dapat dimanfaatkan sebagai sumber bacaan menyangkut tentang  jenis-jenis pembelajaran yang relevan menggunakan pendekatan SHIP dan upaya-upaya dalam penggunakaan pendekatan SHIP dalam pembelajaran.

2. MATERI  DAN METODE

Materi dalam kajian ini adalah berupa pendapat-pendapat para pakar yang mengungkapkan, melaporkan hasil penelitian dan mengkaji penekatan SHIP yang bisa diterapkan dalam pembelajaran.

Metode yang digunakan adalah berupa telaah kepustakaan atau studi litaratur yang berusaha untuk dikaji secara mendalam dan disajikan secara naratif berdasarkan fakta-fakta yang diuangkapkan oleh pakar-pakar ergonomi dan pakar-pakar pendidikan,  serta data yang didapat dianalisis secara deskriptif.

 

3.  KAJIAN TEORI.

3.1 Pendekatan SHIP

Pendekatan SHIP (sistemik, holistik, interdisipliner, partisipatori) merupakan suatu kajian ergonomi yang dapat mengelola suatu aktivitas di tempat kerja.  Pendekatan SHIP mengandung makna proses identifikasi, analisis dan pemecahan masalah harus dilakukan secara sistemik, holistik dan interdisipliner serta partisipatori berbagai komponen terkait.

Segala kegiatan yang melibatkan manusia termasuk pembelajaran pengelolaannya harus menggunakan pendekatan SHIP agar kendala-kendala yang dihadapi menjadi minimal. Setiap upaya pembangunan seharusnya menghasilkan kondisi kerja  serta lingkungan yang sehat, aman, nyaman, selamat maupun efisien karena merupakan komponen penting kualitas hidup. Komponen itu harus dikelola sedemikian rupa sehingga selalu bisa dicermati dalam semua tingkatan proses produksi, sejak fase perencanaan sampai evaluasinya. Cukup banyak metode ilmiah bisa dipakai untuk pengembangan suatu tempat kerja agar menjadi lebih manusiawi serta kompetitif dan lestari, tetapi yang pertama kali harus dilakukan dalam mendekati masalah adalah menempatkan permasalahan tersebut pada konteks pendekatan SHIP karena berkaitan dengan sistem dan sifat kehidupan yang holistik ditunjang berbagai disiplin ilmu serta hasil dari proses partisipasi berbagai kepentingan.

Pendekatan SHIP selayaknya diterapkan secara konsekuen, jika diinginkan sistem dan proses kerja serta produk kompetitif, berkelanjutan dan manusiawi. Sistem kerja, lingkungan kerja, layout tempat kerja, motivasi pekerja, transportasi, perencanaan, manajemen produksi serta produk harus dikelola secara ergonomis yang terintegrasi di dalam keseluruhan prosesnya. Pendekatan SHIP, terkait secara khusus dengan pembelajaran yang berbasis ergonomi, dilihat dari sarana dan prasarana pembelajaran akan digunakan oleh manusia memiliki aspek kajian sebagai berikut (Manuaba, 2003 b).

1) Pendekatan sistemik

Pendekatan sistemik  menanganani setiap sistem secara terpadu, agar berbagai unsur yang  saling berhubungan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang mudah dikelola. Dengan demikian, sistem yang dipilih dan digunakan akan sesuai dengan tempat dan waktunya. Pendekatan sistemik pada pembelajaran  dilandasi fakta adanya manusia, sarana dan prasarana pembelajaran, lingkungan, serta mikroklimat yang memiliki karakteristik berbeda di setiap tempat dan waktu. Karakteristik pebelajar pada proses pembelajaran memiliki persyaratan, yang harus diperhitungkan pada proses pembelajaran tersebut. Semua karakteristik itu perlu ditangani secara bijak, agar faktor yang berbeda tidak muncul sebagai kendala selama proses pembelajaran berlangsung sehingga mendukung upaya perbaikan yang dilakukan. Melalui pendekatan sistemik maka ergonomi memberikan kontribusi untuk mengoptimalkan keterlibatan fisik, mental serta unsur dinamis di dalam pembelajaran yang akan meningkatkan kesehatan, sehingga berhasil meningkatkan proses dan hasil belajar.

Secara sistemik, dipertimbangkan keterkaitan antar bagian dalam kesatuan sistem yang utuh. Pada setiap komponen dalam dunia pendidikan seperti manusia, sarana dan prasarana pembelajaran, lingkungan dan mikroklimat merupakan sistem yang memiliki prasyarat untuk dikaji dalam hubungannya dengan proses pembelajaran. Fokus utama kajiannya adalah manusia yang disebut pebelajar, memiliki sistem di dalam tubuhnya yang diasumsikan harus dijadikan pedoman dalam pengelolaan aktivitas. Hal ini mendorong pemecahan masalah secara menyeluruh, dengan harapan tidak ada lagi permasalahan yang tertinggal atau mungkin muncul, sementara persoalan itu sudah ada pada sistem yang sama. Pebelajar sangat tergantung pada struktur dan fungsi organ tubuh yang membentuknya, sebagai sistem saling mendukung untuk menjaga tidak terjadi keluhan dan cedera pada tubuh pebelajar. Sistem memiliki keterikatan erat dengan fungsi karena jika ingin menerangkan sesuatu fungsi maka harus dipandang sebagai suatu sistem.   Berpikir sistem berarti berpikir tentang bagian-bagian dari keseluruhan dan cara bagian-bagian itu menunjukkan reaksi dalam kaitan antara satu bagian dengan bagian lainnya dalam konteks keseluruhannya. Konsep sistem merupakan kerangka acuan yang luas, supaya memungkinkan penyesuaian yang lebih efektif terhadap lingkungan yang berubah dengan cepat. Konsep sistem tidak diarahkan pada suatu hal khusus sebagai suatu fenomena individual, tetapi lebih pada pola fenomena total yang menciptakan lingkungan yang lebih baik.

2) Pendekatan holistik

Berbagai aspek yang mempengaruhi karakteristik  pebelajar pada setiap proses pembelajaran berlangsung, terutama jika dikaitkan dengan proses pembelajaran perlu kajian holistik agar mampu meningkatkan prestasi belajar dan kelangsungan proses pembelajarannya lebih manusiawi.  Berbagai hal di luar sistem perlu mendapat perhatian, mungkin akan berkembang menjadi sesuatu yang harus ditangani juga. Dengan demikian, diperoleh sistem lain atau faktor penyelesaian lain yang terlibat di dalam sistemnya. Hasil belajar dipengaruhi oleh banyak faktor yang bersumber dari dalam diri maupun luar diri pebelajar.  Ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, yaitu: faktor internal, berupa kebugaran fisik, gizi, intelegensi, genetik, bakat, minat, motivasi dan faktor  psikologis lainnya seperti bosan, malas, emosi, sulit konsentrasi dan lainnya.   Sedangkan faktor eksternal  adalah penerapan model pembelajaran, lingkungan fisik, lingkungan sosial dan sarana pembelajaran (Sutajaya, 2005).

Pemecahan masalah berdasarkan pendekatan holistik ini, sebagai strategi untuk menghasilkan solusi tepat guna dan relevan dengan situasi serta kondisi sebenarnya. Berbagai aspek yang mempengaruhi prestasi belajar pebelajar pada setiap proses pembelajaran berlangsung, perlu kajian holistik agar mampu meningkatkan prestasi belajar dan kelangsungan proses pembelajarannya lebih manusiawi.

3) Pendekatan interdisipliner

Walaupun ergonomi sudah didukung oleh berbagai jenis ilmu, tetapi berbagai permasalahan yang sudah semakin kompleks ternyata juga tetap belum berhasil dipecahkan secara oprtimal sehingga perlu melibatkan pihak lain dari berbagai jenis disiplin berbeda. Perkembangan masalah yang semakin kompleks khususnya dibidang sosial-budaya, psikologi serta lingkungan fisik maka ilmu pengetahuan dan teknologi lain harus dikembangkan untuk memecahkan berbagai masalah tersebut (Manuaba, 2000). Pendekatan interdisipliner merupakan upaya melibatkan berbagai disiplin terkait agar pembelajaran berbasis ergonomi yang diprogramkan layak diterapkan jika ditinjau dari aspek ergonomi, fisiologi, psikologi, anatomi, antropometri, desain, teknologi, estetika, ekonomi dan nilai-nilai budaya yang dianut oleh masyarakat pemakainya.

Identifikasi berbagai masalah perlu dilakukan untuk bisa mengembangkan sarana dan prasarana pembelajaran yang manusiawi, sehingga berbagai disiplin harus dilibatkan untuk diperoleh hasil yang memuaskan. Pengembangan sarana dan prasarana pembelajaran membutuhkan sumbangan pemikiran bidang ilmu desain, teknik, sosial budaya, ekonomi, politik dan sebagainya (Manuaba, 2000). Setiap perbaikan harus dapat  mencegah terjadinya cedera dan sakit akibat kerja, mengurangi beban fisik maupun mental, mendorong terwujudnya kemampuan dan kepuasan kerja. Teknologi yang akan dipakai dalam proses mendesain sarana dan prasarana pembelajaran  perlu dikaji bersama-sama, dengan melibatkan disiplin terkait agar sistemnya bisa sederhana dan sesuai keterampilan yang dimiliki oleh masyarakat di sekitarnya. Secara ekonomis, tidak menimbulkan atau menciptakan jurang pemisah antara golongan ekonomi lemah dan kuat.  Pemilihan teknologi desain sarana dan prasarana pembelajaran selayaknya lebih mempertimbangkan asas manfaat, mudah dikerjakan, biaya produksi serta perawatan murah, ramah lingkungan, memiliki daya tarik dan harga terjangkau.

 

4) Pendekatan partisipatori

Melibatkan pemakai dalam proses desain sarana dan prasarana pembelajaran, sebagai salah satu upaya untuk memperoleh kepuasan dan menghasilkan peralatan pembelajaran berdaya guna tinggi bagi pemakainya. Dalam perancangan suatu produk, diskusi dengan pemakai yang berkaitan dengan tujuan pengembangan desain sarana dan prasarana pembelajaran merupakan suatu keharusan.

Pilihan perbaikan perlu dilakukan melalui diskusi/ lokakarya sebelum desain sarana dan prasarana pembelajaran terwujud. Hasilnya dibahas bersama untuk menemukan wujud desain  sarana dan prasarana pembelajaran yang bisa memenuhi harapan semua pihak.  Pertimbangan sistem, kajian holistik dan berbagai jenis keputusan hasil diskusi yang melibatkan disiplin terkait sekaligus melengkapi  pembahasan partisipasi pemakai desain sarana dan prasarana pembelajaran tersebut.

Berdasarkan uaraian tersebut, maka dapat diyakini bahwa  desain sarana dan prasarana pembelajaran dengan pendekatan SHIP akan mampu memberikan hasil yang maksimal yaitu dalam hal:  (1) pemakaian tenaga otot lebih efisien; (2) kecelakaan berkurang dan bahkan memungkinkan dihilangkan; (3) kelelahan berkurang; (4) penyakit akibat kerja berkurang; (5) kesalahan kerja berkurang dan kerusakan diminimalkan; (6) kenyamanan maupun kepuasan kerja meningkat; (7) pemanfaatan waktu lebih efisien; (8) mutu produk dan produktivitas meningkat; (9) efisiensi kerja juga meningkat; dan (10) biaya untuk mengatasi penyakit akibat kerja serta kecelakaan waktu bekerja berhasil dikurangi yang secara langsung bisa menekan biaya operasional (Manuaba, 2000).

 

3.2 Pembelajaran

3.2.1  Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah suatu proses dengan tahapan aktivitas yang terprogram sehingga pada diri pebelajar terjadi perubahan prilaku. Perubahan perilaku itu meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Ada beberapa istilah yang dikenal dalam pembelajaran, antara lain: pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, teknik pembelajaran dan model pembelajaran.   Pendekatan pembelajaran adalah suatu proses pembelajaran  yang sifatnya masih sangat umum. Ada dua jenis pendekatan  pembelajaran, yaitu:  pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) dan  pendekatan pembelajaran yang  berpusat pada guru (teacher centered).  Strategi  pembelajaran  adalah rencana tindakan  (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Misalnya  strategi pembelajaran kooperatif  dapat direncanakan dengan  menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok.  Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: ceramah,  demonstrasi,  diskusi,  simulasi,  laboratorium,  pengalaman lapangan,  brainstorming,  debat,  simposium, dan sebagainya. Teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Apabila antara pendekatan, strategi, metode, dan teknik  pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir pembelajaran (Sanjaya, 2009; Trianto, 2007; Wena, 2009).

3.2.2   Pembelajaran Konvensional

Selain hal tersebut di atas kita juga mengenal pembelajaran konvensional dan pembelajaran inovatif. Pembelajaran konvensional  adalah  pembelajaran yang didominasi oleh pengajar dan berlangsung  secara klasikal.  Pebelajar hanya menerima apa yang disampaikan oleh pengajar, aktivitas belajar pebelajar sangat kurang  dan  pembelajaran kurang bermakna karena pebelajar lebih banyak menghapal. Pembelajaran konvensional  memiliki kekhasan tertentu, misalnya  mengutamakan hapalan daripada pengertian, mengutamakan hasil daripada proses, dan pengajaran berpusat pada pengajar. Jadi kegiatan  utama pengajar adalah menerangkan dan pebelajar mendengarkan atau mencatat apa yang disampaikan pengajar. Jadi ciri-ciri pembelajaran konvensional sebagai berikut: (a) pembelajaran berlangsung secara klasikal; (b) pebelajar tidak mengetahui apa tujuan mereka belajar pada hari itu; (c)  pengajar  mengajar dengan berpedoman pada buku teks, dengan mengutamakan metode ceramah; (d) pebelajar harus mengikuti cara belajar yang dipilih oleh pengajar, serta dengan patuh mempelajari urutan yang ditetapkan pengajar;  dan (e) tidak  mendapat kesempatan untuk menyatakan pendapat.

3.2.3   Pembelajaran Inovatif

Ada beberapa model pembelajaran inovatif diantaranya adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning), model pengajaran langsung (direct instruction), pengajaran berdasarkan masalah (problem based instruction) dan pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (Madiya, 2010; Trianto, 2007).   Arends (2007), mengemukakan ada beberapa tipe pembelajaran kooperatif  yaitu:  Student Teams Achievement Division (STAD), Group InvestigationJigsaw, Think-Pair-Share (TPS) dan  Numbered Heads Together (NHT).

Pembelajaran kooperatif  lebih menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai paling sedikit ada tiga yaitu kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan bahan pelajaran, toleransi dan penerimaan terhadap  keaneka ragaman, serta pengembangan keterampilan sosial (Arends, 2007). Lebih jauh Sanjaya (2009) menyatakan bahwa ada empat unsur penting dalam strategi pembelajaran kooperatif, yaitu: (a) adanya peserta dalam kelompok, (b) adanya aturan kelompok, (c) adanya upaya belajar setiap anggota kelompok, (d) adanya tujuan yang harus dicapai. Aktivitas pembelajaran  dilakukan dalam kegiatan kelompok, sehingga antar peserta dapat saling membelajarkan diri melalui tukar pikiran, pengalaman, maupun gagasan-gagasan.

Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning merupakan  pembelajaran yang memberi kesempatan kepada pebelajar untuk bekerja sama dengan sesama pebelajar dalam tugas-tugas yang terstruktur. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok dan ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka  yang bersifat  efektif di antara anggota kelompok. Hubungan kerja seperti itu memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat dilakukan pebelajar  untuk mencapai keberhasilan belajar berdasarkan kemampuan dirinya secara individu dan andil dari anggota kelompok lain selama belajar bersama dalam kelompok (Karlina, 2009).

Arends (2007) menyebutkan karakteristik pembelajaran kooperatif di antaranya: (a) pebelajar bekerja dalam kelompok kooperatif untuk menguasai materi akademis; (b) anggota-anggota dalam kelompok diatur terdiri dari pebelajar yang berkemampuan rendah, sedang dan tinggi; (c) jika memungkinkan, masing-masing anggota kelompok kooperatif berbeda suku, budaya, dan jenis kelamin; (d) sistem penghargaan berorientasi kepada kelompok bukan individu.

.

3.3  Penerapan SHIP dalam Pembelajaran

Penerapan ergonomi sebaiknya dilakukan secara sistemik, dikaji melalui lintas disiplin ilmu (interdisipliner) dan holistik serta menggunakan pendekatan partisipatori, agar semua komponen yang ada dapat diajak atau dilibatkan berpartisipasi sejak perencanaan sampai tahap pelaksanaan maupun dalam evaluasinya, sehingga mereka akan mengetahui keberhasilan atau kegagalannya dan secara bersama-sama mencari kembali solusinya serta mereka akan merasa ikut memiliki ( Manuaba, 1999). Dengan demikian pendekatan SHIP dapat diartikan sebagai upaya pemberdayaan seseorang agar lebih terbuka, transparan, delegatif, kolaboratif, dapat menghargai perbedaan, dapat menghargai manajemen waktu dan konflik, mampu bekerja dalam tim, mampu mengurangi arogansi, tidak memonopoli waktu, dan sadar akan demokrasi dan hak-hak asasi manusia (Manuaba, 2002).

Pembelajaran holistik menuntut aktivitas kelas berpusat pada pebelajar, bermakna dan otentik. Pembelajaran holistik menggunakan pengetahuan awal, pengalaman, dan minat siswa dalam pembelajaran yang mendukung pengkonstruksian pengetahuan secara aktif. Pembelajaran holistik juga menyediakan makna dan tujuan belajar serta melibatkan para pebelajar dalam interaksi sosial untuk mengembangkan pengetahuan (Santyasa, 2003). Pembelajaran holistik menghendaki pergeseran peran pebelajar dari pengamat informasi secara pasif menjadi pebelajar aktif, sebagai pebelajar dan evaluator yang mandiri, sebagai pemikir kritis dan kreatif dalam menganalisis dan mengaplikasikan fakta-fakta, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari (Santyasa, 2003).

Keunggulan dari pendekatan SHIP pada proses pembelajaran adalah sebagai berikut (Sutajaya, 2005; Manuaba, 2002).

1)  Pebelajar bisa melakukan istirahat aktif.

2)  Pebelajar bisa bergerak secara dinamis sehingga didominasi oleh kontraksi  otot dinamis dalam proses pembelajaran.

3) Pebelajar memperoleh kesempatan yang sama dan merata dalam menyampaikan ide, pertanyaan, saran, jawaban dan pendapatnya.

4)  Pebelajar dididik untuk belajar mendengarkan pendapat temannya.

5)  Pebelajar akan terlatih untuk mengemukakan pendapatnya di depan orang  banyak.

6)  Pebelajar akan belajar untuk memanfaatkan waktu belajar secara efektif dan efisien.

7)  Dapat  mengurangi kebosanan pada saat proses pembelajaran berlangsung;

8)  Pebelajar akan lebih terbuka dan transparan di dalam setiap pemikiran dan langkahnya.

9)  Pebelajar akan mampu mengapresiasikan opini yang berbeda dan bersedia menerima pikiran yang berbeda yang merupakan nilai tambah dari organisasi masa depan.

10)  Pebelajar diajak belajar untuk bekerja dalam tim di mana pendapat atau persepsi yang berbeda harus bisa diterima sebagai suatu kenyataan yang kemudian secara demokratis dijadikan sebagai satu pengertian yang sama dan disetujui bersama.

11) Pebelajar dapat menumbuh-kembangkan kesadaran dan apresiasinya terhadap suatu aturan diskusi dan brainstorming.

12)  Pebelajar diajak untuk belajar menghormati hak dan kewajiban seseorang tanpa memaksakan kehendak sendiri sehingga pebelajar bisa belajar untuk menahan diri dan tidak memonopoli waktu.

13)  Membiasakan pebelajar untuk melihat dan mengkaji masalah secara holistik dan sistemik bukan hanya memandang dari satu aspek saja.

14)   Pebelajar diajak untuk peka terhadap permasalahan di masyarakat terkait dengan apa yang sedang dibahas di dalam pembelajaran. Dari hasil studi pendahuluan ditemukan bahwa proses pembelajaran didominasi oleh kontraksi otot statis sehingga berpeluang memunculkan keluhan muskuloskeletal dan kelelahan.

3.4 Jenis-jenis Pembelajaran yang Relevan Menggunakan Pendekatan SHIP

              Pembelajaran yang relevan menggunakan pendekatan SHIP adalah pembelajaran partisipatif. Menurut Afifuddin (2009), pembelajaran partisipatif pada intinya dapat diartikan sebagai upaya pendidik untuk mengikut sertakan pebelajar dalam kegiatan pembelajaran yaitu dalam tahap perencanaan program, pelaksanaan program dan penilaian program. Partisipasi pada tahap perencanaan adalah keterlibatan pebelajar dalam kegiatan mengidentifikasi kebutuhan belajar, permasalahan, sumber-sumber atau potensi yang tersedia dan kemungkinan hambatan dalam pembelajaran. Partisipasi dalam tahap pelaksanaan program kegiatan pembelajaran adalah keterlibatan pebelajar dalam menciptakan iklim yang kondusif untuk belajar. Dimana salah satu iklim yang kondusif untuk kegiatan belajar adalah pembinaan hubungan antara pebelajar, dan antara pebelajar dengan pendidik sehingga tercipta hubungan kemanusiaan yang terbuka, akrab, terarah, saling menghargai, saling membantu dan saling belajar. Partisipasi dalam tahap penilaian program pembelajaran adalah keterlibatan pebelajar dalam penilaian pelaksanaan pembelajaran maupun untuk penilaian program pembelajaran. Penilaian pelaksanaan pembelajaran mencakup penilaian terhadap proses, hasil dan dampak pembelajaran. Afifuddin (2009) mengatakan bahwa ada beberapa model pembelajaran partisipatif diantaranya adalah (1) Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) seperti: (a) Student Teams Achievement Division (STAD); (b) Group Investigation; (c)  Jigsaw, (d)  Think-Pair-Share (TPS); dan (e) Numbered Heads Together (NHT). (2) Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM).

Pembelajaran dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) juga merupakan pembelajaran partisipatif karena menggunakan pendekatan  kooperatif, yaitu pembelajaran yang dilaksanakan secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai  tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap pebelajar belajar. Semua anggota tim (anggota kelompok) harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itulah, kreteria keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh keberhasilan tim. Setiap kelompok bersifat heterogen. Artinya, kelompok terdiri atas anggota yang memiliki kemampuan akademik, jenis kelamin, dan latar belakang sosial yang berbeda. Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat saling memberi dan menerima pengalaman, sehingga diharapkan setiap anggota dapat memberikan kontribusi terhadap keberhasilan kelompok.  Pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka dan saling memberikan informasi. Interaksi tatap muka akan memberikan pengalaman yang berharga kepada setiap anggota kelompok untuk bekerja sama, menghargai setiap perbedaan, memanfaatkan kelebihan masing-masing anggota, dan mengisi kekurangan masing-masing.  Pembelajaran kooperatif melatih pebelajar untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan di masyarakat.   Masalah yang dibahas dalam diskusi kelompok adalah masalah yang berkaitan dengan situasi dunia  nyata   atau   isu-isu  sosial   dan  teknologi  yang  ada   di masyarakat, sehingga  ada hubungan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.  Akibatnya  pembelajaran menjadi  bermakna atau disebut juga  pembelajaran kontekstual (Dzaki, 2009; Nurohman, 2008; Sumintono, 2008;  Widyatiningtyas, 2008).

Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat menganut  teori konstruktivis, yang menyatakan bahwa  pengajar  tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada pebelajar, tetapi  pebelajar harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Pengajar  memberikan  kesempatan kepada pebelajar untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui penemuan masalah-masalah yang ada di lingkungannya, isu-isu yang ada dimasyarakat dan perkembangan teknologi di masyarakat (Tamalene, 2009).

Konstruktivisme merupakan salah satu perkembangan model pembelajaran mutakhir yang mengedepankan aktivitas pebelajar dalam setiap interaksi edukatif untuk dapat melakukan eksplorasi dan menemukan pengetahuannya sendiri. Kontruktivisme menekankan bahwa semua pebelajar mulai dari usia kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi memiliki gagasan atau pengetahuan tentang lingkungan dan peristiwa atau gejala yang terjadi di lingkungan sekitarnya (Admin, 2009).

Pengajar mempunyai peran penting untuk membantu pebelajar membangun pengetahuan dan keterampilannya. Dengan demikian, pebelajar dapat membuat suatu keputusan yang bertanggung jawab mengenai isu-isu sosial, khususnya isu yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Salah satu cara yang populer untuk memperkenalkan pebelajar dengan isu-isu sosial itu adalah dengan meminta kepada pebelajar untuk mencari artikel-artikel tentang sains, teknologi dan penggunaannya dalam masyarakat. Pencarian ini bisa di jurnal-jurnal ataupun di internet dan dibawa  ke kelas pada saat  proses pembelajaran. Pendekatan ini selalu mengkaitkan antara sains, teknologi dan penggunaan sains dan teknologi itu dalam masyarakat. Dengan penggunaan pendekatan ini dalam pembelajaran sains maka dalam proses pembelajarannya, kita mempunyai konsekuensi bahwa selain kita menanamkan pemahaman pebelajar terhadap konsep-konsep atau prinsip-prinsip sains, kita perlu juga membangun  pemahaman pebelajar terhadap teknologi yang berkaitan dengan konsep itu, dan kemungkinan penggunaannya di lingkungan masyarakat atau dalam kehidupan sehari-hari.

 

3.5 Persiapan Pembelajaran Menggunakan Pendekatan SHIP

Pengajar menggali permasalahan yang dihadapi oleh pebelajar selama proses pembelajaran yang berkaitan dengan aspek ergonomi, melalui lokakarya. Pada saat pebelajar mengikuti lokakarya dengan pengajar,  pebelajar mengemukakan keluhan-keluhan yang dialami selama proses pembelajaran yang berhubungan dengan aspek ergonomi. Pebelajar memberikan data antropometri sehingga  sarana dan prasarana pembelajaran yang diperbaiki sesuai dengan keadaan pebelajar sebagai pengguna.  Pengajar dibantu oleh pebelajar menyiapkan sarana dan prasarana pembelajaran yang ergonomis, dengan pendekatan TTG.

Dari beberapa perbaikan ergonomi yang telah dilakukan oleh para                ahli terbukti bahwa dengan penerapan ergonomi mampu memberikan                 keuntungan secara ekonomi, meningkatkan  keselamatan    dan    kenyamanan   kerja.                Menurut Manuaba (2000) Penerapan ergonomi yang baik dan benar memberikan manfaat sebagai berikut. (a) pemakaian tenaga otot bisa lebih efisien; (b) pemanfaatan waktu lebih efisien; (c) kelelahan berkurang; (d) kecelakaan kerja berkurang atau dapat ditiadakan; (e) penyakit akibat kerja berkurang; (f) kenyamanan dan kepuasan kerja meningkat; (g) efisiensi kerja meningkat; (h) mutu produk dan produktivitas kerja meningkat; (i) kesalahan kerja berkurang dan kerusakan dapat diminimalkan; dan (j) pengeluaran untuk mengatasi  kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat dikurangi yang konsekuensinya biaya operasional dapat ditekan.

Salah satu bentuk pendekatan yang dipergunakan untuk perbaikan kondisi kerja adalah pendekatan ergonomi total (Manuaba, 2005; 2006). Pendekatan ergonomi total adalah suatu pendekatan yang menggabungkan antara konsep penerapan teknologi tepat guna (TTG) dan pendekatan SHIP (Sistemik, Holistik, Interdisipliner, dan Partisipatori). Pendekatan  ergonomi total pada pembelajaran  mengandung dua aspek yaitu: (a) pendekatan sistemik, holistik, interdisipliner dan partisipatori (SHIP); dan (b) pemanfaatan teknologi tepat guna (TTG).

Pada fase persiapan pembelajaran dikaji menggunakan pendekatan SHIP dan TTG, yaitu mengenai: ukuran meja dan kursi belajar, penempatan papan tulis dan layar OHP, pembuatan papan kerja, penambahan lampu penerangan, dan pembuatan media pembelajaran.      Kajian teknologi tepat guna sangat penting dilakukan dalam alih  teknologi dari negara maju ke  negara berkembang seperti Indonesia khususnya, sehingga memenuhi kriteria teknologi tepat guna yang harus dapat dipertanggungjawabkan baik secara teknis, ekonomis, ergonomis maupun secara sosio-kultural. Di samping itu teknologi dimaksudkan agar hemat energi dan tidak merusak lingkungan.

Supaya lebih terperinci maka perlu diuraikan satu persatu dari sisi teknis, ekonomis, ergonomis, sosio-kultural, hemat energi, dan tidak merusak lingkungan.     1.   Secara teknis

Setiap perbaikan hendaknya bertujuan untuk mempermudah dan mempercepat proses kerja. Peralatan hendaknya dirancang dengan mempertimbangkan kemudahan di dalam memperoleh bahan baku yang memenuhi standar,  mudah dibuat, mudah dalam pemeliharaan.

Aplikasi konsep ini ke dalam dunia pendidikan, adalah sebagai berikut.

Dalam pelaksanaan pembelajaran perlu dibuat media pembelajaran . Media pembelajaran bahannya menggunakan alat-alat sederhana yang bisa diperoleh dari lingkungan sekitar sekitar atau tempat tinggal pebelajar. Bahan-bahan bekas yang tidak berguna dimanpaatkan untuk pembuatan media pembelajaran, sehingga konsep daur ulang tepat sasaran.  Dalam hal ini sangat diperlukan kreativitas pengajar dan pebelajar untuk mendesain media pembelajaran yang sederhana dengan tetap mengacu pada konsep keilmuan, kaidah-kaidah ergonomi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Konsep ini juga diterapkan dalam rangka untuk memperbaiki task yang ada di sekolah seperti pembuatan  papan kerja yaitu dengan menggunakan peralatan yang sudah ada dan sudah biasa digunakan oleh para tukang bangunan dan akrab dengan budaya kerja masyarakat setempat. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan kursi kuliah juga  dibeli dari masyarakat setempat. Dalam pembuatan kursi kuliah ini tetap mengacu pada konsep ergonomi, yaitu ukuran meja dan kursi disesuaikan dengan antropometri pebelajar.  Jadi dengan demikian secara teknis dapat diterima baik dari segi  aspek legal, aspek  ergonomis, pemanfaatan bahan yang mudah dirawat dan penerapan aspek daur ulang.

2.   Ekonomis

Setiap perbaikan hendaknya tidak sampai menimbulkan  biaya tinggi, dan penentuan efisiensi hendaknya memperhatikan dampak sosial. Oleh karena itu pemanfaatan ekonomi biaya tinggi dan penggunaan teknologi tinggi hendaknya dilaksanakan dengan bijaksana dengan mempertimbangkan dampaknya kepada manusia.  Ditinjau dari ekonomis, maka pemanfaatan teknologi tepat guna diharapkan mampu menekan biaya pembangunan.

Aplikasi konsep ini ke dalam dunia pendidikan, adalah sebagai berikut.

Secara ekonomis dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas  dapat dijangkau oleh pebelajar atau pihak sekolah. Seperti sudah disampaikan dalam contoh sebelumnya, alat dan bahan yang diperlukan dalam kepentingan pembuatan media pembelajaran  yang sederhana, seluruh biaya yang diperlukan dapat dijangkau oleh pebelajar bahkan mungkin tidak akan mengeluarkan dana sama sekali karena memanpaatkan barang-barang bekas yang ada untuk pembuatan media pembelajaran. Pemanpaatan alat-alat sederhana yang ada dari lingkungan sekolah atau yang ada di rumah pebelajar dalam pembuatan media pembelajaran dapat digunakan untuk memecahkan masalah dari sisi finansial karena mahalnya alat-alat  yang dibeli dipasaran.

Dalam penerapan konsep ergonomi untuk memperbaiki task, organisasi dan lingkungan sekolah, masalah ekonomi finansial bukan merupakan suatu beban bagi pebelajar, karena bahan-bahan dan peralatan yang digunakan juga dapat dijangkau oleh para pebelajar bahkan dari pihak sekolah ikut membantu pelaksanaan perbaikan kondisi sekolah untuk menuju ke arah kondisi yang lebih ergonomis.

3.   Ergonomis

Setiap perbaikan bertujuan untuk meningkatkan kesehatan secara fisik dan mental sehingga tercapai kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu hendaknya selalu memperhatikan kondisi kerja dalam rangka mencegah timbulnya penyakit dan cedera akibat kerja, mengurangi beban kerja fisik dan mental, meningkatkan kepuasan kerja, kehidupan sosial budaya, serta mengupayakan pengaturan sistem kerja sehingga terjadi keseimbangan unsur ekonomi, sosial budaya dan antropometri dalam hubungan manusia-mesin untuk meningkatkan efisiensi kerja.

Aplikasi konsep ini ke dalam dunia pendidikan, adalah sebagai berikut.

Perbaikan pada aspek task seperti bangku, tempat duduk, penempatan papan tulis dan layar LCD, penambahan papan kerja, dan perbaikan media pembelajaran. Dengan dilakukan perbaikan dalam aspek task ini diharapkan suasana belajar lebih nyaman dan menyenangkan sehingga keluhan muskuloskletal, kebosanan, kelelahan dapat diminimalkan sedangkan aktivitas dan prestasi belajar  dapat ditingkatkan.

Perbaikan kondisi lingkungan, seperti perbaikan terhadap penerangan ruangan diupayakan antara 350-700 lux untuk membaca dan menulis. Perbaikan kondisi lingkungan ruang belajar ini menjadikan pebelajar belajar lebih nyaman, sehat, efisien dan menyenangkan.

Dengan perbaikan pada aspek task, lingkungan dan organisasi ini dengan mengacu pada kaidah ergonomi akan berdampak positif pada pengguna baik pebelajar itu sendiri maupun para pengajar. Pada pebelajar akan dapat merasakan berkurangnya rasa lelah dalam mengikuti aktivitas pembelajaran, mengurangi keluhan muskuloskeletal, kebosanan, meningkatkan aktivitas belajar dan semuanya bermuara pada peningkatan prestasi belajar. Sedangkan pada pengajar akan merasakan kondisi pembelajaran yang efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien selama berinteraksi dengan mahasiswa.

4.   Sosio-budaya

Perbaikan yang dilakukan hendaknya memperhatikan sikap pekerja terhadap organisasi kerja, kebiasaan bekerja, dinamika kelompok, norma, nilai, kebiasaan, keinginan dan kepercayaan dari pekerja dan masyarakat sekitarnya. Kebutuhan pengguna teknologi dan kesesuaian dengan budaya disertai dengan nilai-nilai estetika hendaknya menjadi perhatian sehingga benar-benar dapat diterima oleh semua pihak serta tidak menimbulkan benturan dengan masyarakat setempat.

Aplikasi konsep ini ke dalam dunia pendidikan, adalah sebagai berikut.

Dalam melakukan perbaikan task dan lingkungan sekolah, para teknisinya atau tukang yang diajak bekerja diambil dari orang tua pebelajar yang anaknya bersekolah di tempat  tersebut, sehingga orang tua akan merasa diperhatikan dan akan timbul rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. Jadi dengan demikian perbaikan task dan lingkungan sekolah yang menuju ke arah yang lebih ergonomis secara sosial budaya akan dapat diterima oleh masyarakat setempat karena mereka ikut terlibat secara langsung di dalamnya.

5.   Hemat energi

Hendaknya dihindari peningkatan penggunaan energi secara berlebihan sehingga merusak tatanan alam yang sudah ada, Hal ini penting dilakukan mengingat sumber daya alam yang tersedia sangat terbatas, sehingga tidak mengganggu kehidupan manusia dimasa yang akan datang. Dalam pemanfaatan teknologi perlu diupayakan penggunaan energi secara efisien.

Aplikasi konsep ini ke dalam dunia pendidikan, adalah sebagai berikut.

Penggunaan energi listrik dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Pengaturan pencahayaan buatan yakni dengan pengaturan tata letak,  jumlah serta besarnya voltage lampu neon yang akan dipasang untuk dapat menerangi seluruh kelas sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar. Bola lampu lebih panas efeknya dibandingkan dengan lampu neon. Untuk penerangan tempat kerja lebih baik memakai lampu neon (Adiputra, 2008). Usahakan menggunakan penerangan alami di ruang belajar, sehingga dapat mengirit penggunanaan energi listrik. Jika digunakan penerangan alami, hendaknya diperhatikan luas jendela 1/5 x luas lantai dan diupayakan agar lantai dan plafon berwarna lembut atau putih untuk membantu refleksi sinar dan untuk mengurangi kontras. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penerangan di ruang belajar dapat diupayakan dengan menyesuaikan intensitas penerangan dengan jenis kegiatan yang dilakukan di ruang belajar.  Hal ini akan sangat membantu untuk mengatasi kelelahan mata yang diakibatkan oleh intensitas penerangan yang tidak cukup.

6.  Tidak merusak lingkungan

Teknologi yang dibuat tidak menimbulkan dampak bagi lingkungan, bahkan tidak merusak lingkungan itu sendiri. Penggunaan material yang dapat merusak lingkungan harus dihindari, polusi, emisi dan perusakan lingkungan dicegah semaksimal mungkin. Hal ini untuk menjaga daya dukung alam dan lingkungan bagi kehidupan manusia secara berkelanjutan.

Aplikasi konsep ini ke dalam dunia pendidikan, adalah sebagai berikut.

Pemanpaatan barang bekas untuk alat dan bahan media pembelajaran  seperti  sampah anorganik, sisa-sisa kayu mebuler, kardus, bekas botol aqua, kaleng dan lain-lainnya memberikan makna tidak merusak lingkungan, sehingga  pemanpaatan sisa-sisa limbah ini sebagai wujud ikut menjaga kesehatan lingkungan dan pelestarian lingkungan.

 

3.6 Pelaksanaan Pembelajaran Menggunakan Pendekatan SHIP     

Setiap otot memanjang atau memendek akan membutuhkan energi,  energi berasal dari simpanan energi dalam tubuh. Simpanan energi tersebut berasal dari makanan dan minuman yang dikonsumsi sebelumnya. Manusia bekerja dengan tugas berat akan membutuhkan energi lebih besar dibandingkan dengan bekerja dengan tugas ringan (Adiputra, 2008). Selama proses pembelajaran akan terjadi kontraksi otot dan diperlukan tersedianya ATP secara kontinyu. Ketersediaan  energi tergantung pada ketersediaan oksigen dan nutrisi yang dihantarkan oleh sistem sirkulasi.     Kontraksi otot statis (isometrik) dalam waktu relatif lama menyebabkan sirkulasi darah tidak optimal,  sehingga mengurangi asupan oksigen dan zat makanan.  Dengan demikian asupan energi berkurang sehingga mempercepat  timbulnya kelelahan. Disamping itu akumulasi asam laktat merangsang reseptor rasa nyeri sehingga dirasakan sebagai keluhan muskuloskeletal. Dengan demikian kerja otot statis mempercepat timbulnya kelelahan dan keluhan muskuloskeletal (Guyton & Hall, 2000).

Untuk mengantisipasi masalah ini dalam proses pembelajaran maka stasiun kerja dan alat kerja harus disesuaikan dengan antropometri pebelajar. Teknik pembelajaran  diupayakan agar aktivitas pebelajar menjadi lebih dinamis dengan jalan  kontraksi otot statis diubah menjadi dinamis. Hal ini bisa terwujud bila pembelajaran dilakukan dengan pendekatan SHIP. Teknik pembelajaran dengan pendekatan SHIP,  didominasi oleh pebelajar,  karena pebelajar aktif melakukan diskusi kelompok dan presentasi. Pebelajar dapat melakukan istirahat aktif dan pendekatan ini mengakibatkan aktivitas pebelajar  menjadi lebih dinamis, karena kontraksi otot statis diubah menjadi dinamis.  Sehingga pebelajar tidak hanya berada di satu tempat akan tetapi mereka harus berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain atau ke papan tulis dan papan kerja untuk memasang  hasil kerja kelompok. Teknik pembelajaran menggunakan pendekatan SHIP menekankan  istirahat aktif pada pebelajar, karena istirahat aktif dapat mempercepat waktu pemulihan (Nala, 1994).

Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan SHIP,  hubungan  antara sesama pebelajar dan hubungan antara pebelajar dengan  pengajar  pada saat pembelajaran  harus harmonis. Pembelajaran didominasi oleh pebelajar, dan sudah mengarah ke pembelajaran kooperatif.  Dengan demikian interaksi antara sesama pebelajar dan interaksi dengan pengajar  sangat bagus. Dalam rangka untuk membina dan meningkatkan motivasi kerja pebelajar dalam melaksanakan tugas-tugasnya,  ternyata kondisi sosial seperti  pemberian  penghargaan bagi yang berhasil dan  hukuman  bagi yang salah sudah dilakukan oleh pengajar  untuk memotivasi belajar pebelajar. Kondisi sosial  seharusnya banyak dimanfaatkan oleh pimpinan tempat kerja untuk membina dan membangkitkan motivasi kerja, seperti sistem penghargaan bagi yang berhasil dan hukuman bagi yang salah dan lalai bekerja (Adiputra, 2008). Kondisi sosial menyangkut hubungan pebelajar dengan orang lain, baik dengan pengajar, orang tuanya,  maupun dengan temannya dapat mempengaruhi konsentrasi dan kegiatan belajarnya. Bila motivasi kerja mahasiswa kurang maka dapat menimbulkan kebosanan (Sutajaya, 2005).

 

4.  PEMBAHASAN

4.1  Pendekata SHIP Diperlukan Dalam Pembelajaran

Pembelajaran  merupakan suatu aktivitas kerja yang perlu dikelola dengan pendekatan ergonomi. Pendekatan SHIP (sistemik, holistik, interdisipliner, partisipatori) merupakan suatu  kajian ergonomi yang dapat mengelola suatu aktivitas di tempat kerja. Sehingga dengan demikian pendekatan SHIP sangat diperlukan dalam mengelola suatu pembelajaran. Hal ini sudah terbukti bahwa pembelajaran melalui pendekatan SHIP dapat mengurangi keluhan muskuloskeletal sebesar 22,31%, kelelahan sebesar 33,11%,   kebosanan sebesar 19,55%, luaran proses belajar dilihat dari interaksi mahasiswa selama kegiatan PBM meningkat sebesar 37,13%, motivasi, ketekunan dan kegairahan mahasiswa dalam mengikuti proses belajar mengajar meningkat sebesar 28,18%, partisipasi mahasiswa dalam proses belajar mengajar meningkat sebesar 26,51%, keberanian dan kemampuan mahasiswa mengemukakan pertanyaan atau pendapat meningkat sebesar 28,51%, hubungan antar mahasiswa dalam proses belajar mengajar meningkat sebesar 33,95%, dan efektivitas pemanfaatan waktu belajar meningkat sebesar 33,75%. (Sutajaya, 2005). Selain itu, Sutapa dan Widana (2009) melaporkan bahwa  proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ergonomik partisipatori di Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali,  memungkinkan mahasiswa bergerak dinamis  atau selalu didominasi oleh kontraksi otot dinamis dan dapat melakukan  istirahat aktif. Setelah perbaikan ternyata mampu mengurangi gangguan  muskuloskeletal sebesar 33,30% (p < 0,05) dan kelelahan sebesar 53,43%  (p < 0,05). Fakta ini sesuai dengan pendapat Nala (1994) yang menyatakan  bahwa dibandingkan dengan kontraksi otot statis, kerja dinamis ini  mempunyai kelebihan, yaitu (1) memerlukan tenaga atau energi yang lebih sedikit dalam usaha yang sama, (2) frekuensi peningkatan denyut nadi lebih
stabil, (3) memperlambat munculnya kelelahan, dan (4) setelah bekerja,  waktu pemulihan otot lebih cepat.

           

4.2  Upaya-upaya  yang dilakukan untuk menerapkan pendekatan SHIP dalam pembelajaran

Pendekatan ergonomi adalah suatu bentuk pendekatan dalam pembelajaran dengan menggunakan kaidah-kaidah ergonomi berupa SHIP dan TTG sebagai dasar acuan untuk memecahkan permasalahan pembelajaran yang dihadapi pengajar sehingga efektivitas dapat tercapai, menimbulkan rasa nyaman bagi pebelajar, kondisi tubuh tetap dalam keadaan sehat. Pembelajaran melalui pendekatan SHIP menghendaki pergeseran peran pebelajar yang semula hanya bertindak sebagai penerima informasi  secara pasif menjadi (1) pebelajar yang aktif dan inovatif, (2) pebelajar yang mampu berpikir kritis dan kreatif dalam menganalisis dan mengaplikasikan fakta, konsep dan prinsip yang dipelajari, (3) pebelajar yang mampu bekerja dalam tim secara kondusif, (4) pebelajar yang mampu mengkaji masalah secara sistemik, holistik dan interdisipliner, dan (5) pebelajar yang peka terhadap masalah yang ada di masyarakat yang ditelusuri secara partisipatori (Manuaba, 2004). Dengan demikian, pembelajaran melalui pendekatan SHIP diharapkan dapat meningkatkan kualitas kesehatan pebelajar dan luaran proses belajarnya. Dalam pendekatan SHIP ditekankan bahwa masalah harus dipecahkan secara:

(1)  Sistemik atau melalui pendekatan sistem, artinya semua faktor yang berada di dalam satu sistem dan diperkirakan dapat menimbulkan masalah harus ikut diperhitungkan sehingga tidak ada lagi masalah yang tertinggal atau munculnya masalah baru sebagai akibat dari keterkaitan sistem. Semua komponen-komponen yang berinteraksi dalam suatu sistem pembelajaran harus dipertimbangkan secara ergonomis sehingga antara sub sistem yang satu dengan sub sistem yang lainnya dalam pembelajaran dapat berjalan secara sinergi. Sub sistem tersebut misalnya: data antropometri pebelajar, sarana dan prasarana pembelajaran (seperti: meja dan kursi kuliah, papan kerja, papan tulis, media pembelajaran) dan lingkungan (seperti: suhu, kelembaban, pencahayaan, kebisingan, kecepatan angin). Sub sistem antropometri pebelajar tentunya digunakan untuk memperbaiki sarana dan prasarana pembelajaran.

(2)  Holistik, artinya semua faktor atau sistem yang terkait atau diperkirakan terkait dengan masalah yang ada, haruslah dipecahkan secara proaktif dan menyeluruh. Pengertian holistik dalam dunia pendidikan selaras dengan pendapat dan hasil penelitian yang disampaikan oleh Santyasa (2003) yang menyatakan bahwa pembelajaran secara holistik adalah mengaktifkan siswa dalam pelaksanaan proses pembelajaran, sedangkan guru hanyalah sebagai moderator dan fasilitator yang dilengkapi dengan media pembelajarannya. Siswa mengembangkan kreativitasnya dalam mengkaji materi pelajaran sehingga muncul pikiran yang kritis pada diri siswa, kreatif, dan mampu mengaplikasikan konsep, prinsip atau hukum-hukum yang telah mereka pelajari ke dalam suatu fakta yang mereka hadapi di lapangan. Sedangkan menurut Susento (2009) pembelajaran holistik (holistic learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman informasi dan mengkaitkannya dengan topik-topik lain sehingga terbangun kerangka pengetahuan. Dalam pembelajaran holistik, diterapkan prinsip bahwa siswa akan belajar lebih efektif jika semua aspek pribadinya (pikiran, tubuh dan jiwa) dilibatkan dalam pengalaman siswa. Dilain pihak Sudrajat (2008) dan Rosadhi (2009) menyampaikan bahwa pendidikan holistik merupakan suatu filsafat pendidikan yang berangkat dari pemikiran bahwa pada dasarnya seorang individu dapat menemukan identitas, makna dan tujuan hidup melalui hubungannya dengan masyarakat, lingkungan alam, dan nilai-nilai spiritual. Sehingga secara historis, pendidikan holistik sebetulnya bukan hal yang baru.

(3)   Interdisipliner, artinya semua disiplin terkait harus dimanfaatkan, karena makin kompleksnya permasalahan yang ada diasumsikan tidak akan terpecahkan secara maksimal jika hanya dikaji melalui satu disiplin, sehingga perlu dilakukan pengkajian melalui lintas disiplin ilmu.

(4)  Partisipatori, artinya semua orang yang terlibat dalam pemecahan masalah tersebut harus dilibatkan sejak awal secara maksimal agar dapat diwujudkan mekanisme kerja yang kondusif dan diperoleh produk yang berkualitas sesuai dengan tuntutan jaman. Sesuai dengan pendapat  Afifuddin (2009) menyatakan bahwa pembelajaran partisipatori pada intinya dapat diartikan sebagai upaya pendidik untuk mengikut sertakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yaitu dalam tahap perencanaan program, pelaksanaan program dan penilaian program. Partisipasi pada tahap perencanaan adalah keterlibatan peserta didik dalam kegiatan mengidentifikasi kebutuhan belajar, permasalahan, sumber-sumber atau potensi yang tersedia dan kemungkinan hambatan dalam pembelajaran. Partisipasi dalam tahap pelaksanaan program kegiatan pembelajaran adalah keterlibatan peserta didik dalam menciptakan iklim yang kondusif untuk belajar. Dimana salah satu iklim yang kondusif untuk kegiatan belajar adalah pembinaan hubungan antara peserta didik, dan antara peserta didik dengan pendidik sehingga tercipta hubungan kemanusiaan yang terbuka, akrab, terarah, saling menghargai, saling membantu dan saling belajar. Partisipasi dalam tahap penilaian program pembelajaran adalah keterlibatan peserta didik dalam penilaian pelaksanaan pembelajaran maupun untuk penilaian program pembelajaran. Penilaian pelaksanaan pembelajaran mencakup penilaian terhadap proses, hasil dan dampak pembelajaran. Dilain pihak Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005, Pasal 19, ayat 1 dengan tegas menyatakan bahwa:”Proses  Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.” Hal ini senada dengan pendapat Purwanto (2008) menyatakan bahwa dalam pembelajaran dengan pendekatan partisipatori, diupayakan siswa aktif, dinamis, dan berlaku sebagai subjek. Keaktifan siswa dalam pembelajaran ini, dalam hal  melakukan kegiatan secara mandiri. Namun, bukan berarti guru harus pasif, tetapi guru juga aktif dalam memfasilitasi belajar siswa dengan suara, gambar, tulisan dinding, dan sebagainya. Guru berperan sebagai pemandu yang penuh motivasi, pandai berperan sebagai mediator, dan kreatif.

Memperhatikan hal tersebut di atas, maka pendekatan SHIP (sistemik, holistik, interdisipliner, partisipatori) dalam pembelajaran  merupakan suatu  kajian ergonomi yang dapat mengelola suatu aktivitas pada proses pembelajaran. Penerapan ergonomi pada pembelajaran sebaiknya dilakukan secara sistemik, dikaji melalui lintas disiplin ilmu (interdisipliner) dan holistik serta menggunakan pendekatan partisipatori, agar semua komponen yang ada dapat diajak atau dilibatkan berpartisipasi sejak perencanaan sampai tahap pelaksanaan maupun dalam evaluasinya, sehingga mereka akan mengetahui keberhasilan atau kegagalannya dan secara bersama-sama mencari kembali solusinya serta mereka akan merasa ikut memiliki. Pendekatan SHIP dalam pembelajaran harus dilaksanakan secara konsekuen agar diperoleh hasil yang maksimal dan dampak negatif yang ditimbulkan akan bisa ditekan seminimal mungkin. Konsekuensinya adalah pembelajaran melalui pendekatan SHIP dapat diseimbangkan antara tuntutan tugas (beban kerja) dan kapasitas (kemampuan, kebolehan dan keterbatasan) pebelajar,  sehingga mereka dapat belajar secara efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien serta tercapai luaran proses dan prestasi belajar yang tinggi.

4.3 Kendala dalam Penerapan Pendekatan SHIP dalam Pembelajaran.

Kendala yang sering dijumpai terkait dengan upaya sosialiosasi pendekatan SHIP dalam pembelajaran  adalah sebagai berikut.

1) Belum diketahui, dipahami, dan dimengertinya tentang penerapan pendekatan SHIP yang merupakan kajian dari ergonomi  sebagai acuan atau standar dalam mendesain sarana dan prasarana serta proses pembelajaran.

2)  Jika pendekatan SHIP dalam pembelajaran  sudah diketahui, namun karena   metode tertentu lebih dipertimbangkan dalam pembelajaran, maka standar yang berlaku dalam pendekatan SHIP sering diabaikan atau dinomorduakan.

3)  Belum diketahui akibat yang akan timbul jika sarana dan prasarana serta metode pembelajaran tidak sesuai dengan kaidah ergonomi yang diimplementasikan dengan pendekatan SHIP, sehingga dalam proses pembelajaran tidak mempertimbangkan kemampuan, kebolehan, dan batasan fisik pebelajar.

4)  Ada pengajar yang agak arogan dan menganggap apa yang diterapkannya dalam proses pembelajaran sudah baik dan benar, padahal mereka belum memasukkan unsur-unsur ergonomi melalui pendekatan SHIP atau belum mengacu kepada respon fisiologis pada organ yang akan menerima dampak negatif dari proses pembelajaran yang berkepanjangan yang disertai dengan sarana dan prasarana yang tidak ergonomi.

5) Karena pertimbangan ekonomi, alokasi waktu, dan biaya yang harus dikeluarkan untuk mendesain ruang belajar yang ergonomis melalui pendekatan SHIP, dan  acuan ergonomi sering diabaikan karena ada anggapan bahwa jika kaidah ergonomi dimasukkan, maka biayanya akan membengkak.

6) Penerapan ergonomi dalam pembelajaran dengan pendekatan SHIP  membutuhkan guru inovatif, proaktif, dan produktif yang sering tidak tersedia di suatu sekolah sehingga prinsip-prinsip ergonomi yang sangat aplikatif tetap dalam batas wacana.

7)  Pembelajaran dengan pendekatan SHIP  memerlukan waktu yang lebih panjang sehingga kadang-kadang melewati waktu belajar yang dijadwalkan.

8) Pebelajar belum terbiasa dengan proses pembelajaran melalui pendekatan SHIP, sehingga pada awal pelaksanaannya perlu sosialisasi.

5. PENUTUP

5.1 Simpulan

Dari hasil kajian tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.

1)      Penerapan pendekatan SHIP mutlak diperlukan dalam proses pembelajaran, sehingga diperoleh kondisi pembelajaran yang sehat, aman, nyaman, efisien dan efektif yang pada akhirnya diperoleh prestasi belajar yang setinggi-tingginya.

2)      Perlu diupayakan pendekatan  secara sistemik, holistik, interdisipliner dan partisipatori (SHIP) dalam proses pembelajaran, karena pendekatan SHIP  merupakan suatu kajian ergonomi yang dapat mengelola suatu aktivitas kerja.

3)      Ada beberapa kendala yang tampaknya agak sulit untuk diatasi dalam upaya penerapan pendekatan SHIP dalam pembelajaran, karena menyangkut masalah dana dan perilaku atau keinginan untuk berubah. Kendala tersebut  dapat dijadikan tantangan sekaligus peluang dalam penerapan pendekatan SHIP di sekolah.

5.2 Saran

Saran yang nampaknya penting untuk disampaikan pada kesempatan ini adalah  sebagai berikut.

1)      Dalam mendesain atau meredesain ruang belajar, disarankan untuk selalu menerapkan pendekatan SHIP.

2)      Pagi pengelola sekolah perlu diupayakan penerapan pendekatan  secara sistemik, holistik, interdisipliner dan partisipatori (SHIP) dalam proses pembelajaran, karena pendekatan SHIP  merupakan suatu kajian ergonomi yang dapat mengelola suatu aktivitas kerja.

3)      Kendala yang dihadapi dalam mensosialisasikan prinsip-prinsip pendekatan SHIP dalam pembelajaran dapat dijadikan tantangan sekaligus peluang dalam penerapan ergonomi di sekolah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Adiputra, N.2008. Upaya Kesehatan Kerja Tenaga Kesehatan Kabupaten/ Kota dan Puskesmas Propinsi Bali. [cited 2010 November 14] Available from:    http://www.balihesg.org – balihesg

 

Admin. 2009. Konstruktivisme dalam Pembelajaran Sain dan Matematika [cited 2010 Januari 4] Available from: http://lpmpjogja.diknas.go.id/index2.php? option= com_content&do_pdf=1&id=328

Afifuddin. 2009.  Pembelajaran Partisipatif. [cited 2010 Juni 10]  Available      from: http : //begawanafif.blogspot.com/2009/02/pembelajaran-partisipatif.html

 

Arends, R.I. 2007. Belajar untuk Mengajar. Edisi Ketujuh.  Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Dzaki, M. F. 2009. Pendekatan Sains Teknologi Society (STS). [cited 2009 Desember 2 ] Available from: http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/ 2009 /03/pendekatan-sains-teknologi-society-sts.html.

 

Guyton,A.C dan J.E. Hall. 2000.  Fisiologi Kedokteran. Irawati Setiawan (ed).  Edisi 10.  Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. 101-112.

 

Karlina, I. 2009. Pembelajaran Kooperatif sebagai Salah Satu Strategi Membangun Pengetahuan Siswa. [cited 2011 Februari 21] Aviable from: http://www.sd-bintalenta.com/images/artikel-ina.pdf.

 

Madiya, IW., Sanjaya, IP.H., dan Subudi, IK. 2010. Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) Dan Implementasinya Dalam         Pembelajaran Sains. [cited 2011 Januari 16] Available from: file:///C:/Documents%20and%20Settings/pak%20oka/My%20Documents/ model-pembelajaran-sains-teknologi.html.

Manuaba, A. 1999. Penerapan Ergonomi Partisipasi dalam Meningkatkan Kinerja Industri (makalah). Disampaikan pada Seminar Nasional Ergonomi. Reevaluasi Penerapan Ergonomi dalam Meningkatkan Kinerja Industri. Surabaya, 23 Nopember.

 

Manuaba, A. 2000. Participatory Ergonomics Improvement at The Workplace. Jurnal Ergonomi Indonesia (The Indonesian Journal of Ergonomics), 1(1,6): 6-10.

 

Manuaba, A. 2002. A Change of The Human Resource Behavior is A Must to Start Management of Change, Special Experience With The Integrated Ergonomics “SHIP” Approach Workshops. Dalam: Arlianto, J.E. Wibowo,E., Kwesal, W., Dely. editors. Proceedings National Industrial Engineering Conference. Surabaya: Departement of Induatrial Engineering Faculty of Engineering, University of Surabaya.p. A.30-A.33.

 

Manuaba, A. 2003 a. Penerapan Ergonomi Meningkatkan Produktivitas. Makalah. Denpasar: Bagian Ilmu Faal Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

 

Manuaba, A. 2003 b. Total Ergonomic Approach to Enhance and Harmonize The Development of Agriculture, Tourism and Small Scale Industry, with Special Reference to Bali. Dalam: Purwanto, W., Sugema, L.l., dan Ushada, M. editors. Prosiding Seminar Nasional Ergonomi. Yogyakarta: Perhimpunan Ergonomi Indonesia dan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada. p.16 – 21.

 

Manuaba, A. 2004. Kontribusi Ergonomi dalam Pembangunan, dengan Acuan Khusus Bali. Dalam: Purwanto, W., Mulyati, G.T., dan Saroyo, P. Yogyakarta: Perhimpunan Ergonomi Indonesia dan Jurusan Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada. p 160 – 165.

 

Manuaba, A. 2005. Pendekatan Holistik dalam Aplikasi Ergonomi. Sosial& Humaniora. Okt.  01: 1-13.

 

Manuaba, A. 2006. Improvement of Working Conditions and Environment through Total Ergonomics Approach to Obtain Humane, Competitive and Sustainable Works System and Products at PT Sumiati Denpasar. Denpasar: Bali Human Ecology Study Groups.

 

Nala, N. 1994. Penerapan  Teknologi  Tepat  Guna  di Pedesaan.  Denpasar: Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Udayana.

 

Nurohman, S. 2008.  Penerapan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam Pembelajaran IPA Sebagai Upaya Peningkatan Life Skills Peserta Didik. [cited 2009 Desember 2] Available from: http://shobruwordpress. compublikasi/ sains-teknologi-masyarakat/.

Purwanto.2008. Penerapan Metode Partisipatori. [cited 2009 Desember 2] Available from: http://purwanto65.wordpress.com/2008/07/21/penerapan-metode-partisipatori/.

Rosadhi. 2009. Penerapan Konsep Pembelajaran Holistik. [cited 2009 Desember 2]     Available  from: http://digilib.sunanampel.ac.id/gdl.php?mod=browse&op =read&id= hubptain-gdl-iranirosad-7515

 

Sanjaya, W. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Cetakan ke-6. Jakarta: Prenada Media Group.

 

Santyasa, I W. 2003. Peluang Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Suatu Tinjauan Teoretik menurut Perspektif Teknologi Pembelajaran). Jurnal Pendidikan dan Pengajaran 4 (36,10): 89-109.

 

Sudrajat. 2008. Pendidikan  Holistik.   [cited 2009 Desember 2]    Available  from:

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/26/pendidikan-holistik/

 

Sumintono, B. 2008. Mengemas Sains Teknologi dan Masyarakat dalam Pengajaran Sekolah. [cited 2009 Desember 5] Available from: http://netsains.com /2008 /01/mengemas-sains-teknologi-dan-masyarakat-dalam-pengajaran-sekolah/.

 

Susento. 2009. Pembelajaran Holistik.  [cited 2009 Desember 5] Available from: http://p4-usd.blogspot.com/2009/05/pembelajaran-holistik.html

 

Sutajaya, IM. 2005. Pembelajaran melalui Pendekatan Sistemik, Holistik, Interdisipliner, dan Partisipatori (SHIP)  mengurangi Kelelahan, Keluhan Muskuloskletal,    dan Kebosanan serta Meningkatkan Luaran Proses Belajar Mahasiswa Biologi IKIP Singaraja. (Desertasi). Denpasar: Program Pascasarjana Universitas Udayana.

 

Sutapa dan Widana. 2009. Penerapan Ergonomik Partisipatori Pada Proses Pembelajaran Mengurangi Gangguan Muskuloskeletal Dan Kelelahan Pebelajar Di Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bali. Prosiding Seminar Nasional Ergonomi IX © TI-UNDIP 2009, 17-18 November 2009. Semarang: UNDIP.

 

Tamalene, M.N. 2009. Pendekatan Dalam Pembelajaran. [cited 2009 Desember 29] Available from: http://biotamalene.blogspot.com/

 

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka 41-62.

 

Wena, M. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, Suatu Tinjauan  Konseptual Operasional. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Widyatiningtyas. 2008. Pembentukan Pengetahuan Sains Teknologi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA. [cited 2009 Nopember 25] Available from:  http://educare.e-fkipunla.net/index2.php?option=comcontent&dopdf=  1&id= 43.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: