ERGONOMI

OLEH

I GUSTI MADE OKA SUPRAPTA

 

 

I. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

Ergonomi adalah ilmu, teknologi dan seni untuk menyerasikan alat, cara kerja dan lingkungan pada kemampuan, kebolehan dan batasan manusia sehingga diperoleh kondisi kerja dan lingkungan yang sehat, aman, nyaman dan efisien sehingga tercapai produktivitas yang setinggi-tingginya (Manuaba, 2003d).  Pendekatan ergonomi  dapat digunakan untuk mengelola suatu aktivitas di tempat kerja, sehingga sangat diperlukan dalam suatu kegiatan yang melibatkan manusia di dalamnya dengan memperhitungkan kemampuan dan tuntutan tugas. Dengan ergonomi dapat ditekan dampak negatif pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena dengan ergonomi berbagai penyakit akibat kerja, kecelakaan, pencemaran, keracunan, ketidak-puasan kerja, kesalahan unsur manusia, bisa dihindari atau ditekan sekecil-kecilnya (Manuaba, 2003b).

Memperhatikan hal tersebut di atas maka pembelajaran juga merupakan suatu aktivitas kerja yang perlu dikelola dengan pendekatan ergonomi. Pembelajaran dengan pendekatan ergonomi dapat menyeimbangkan antara tuntutan tugas (beban kerja) dan kapasitas (kemampuan, kebolehan dan keterbatasan) pebelajar sehingga mereka dapat belajar secara efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien serta tercapai prestasi yang setinggi-tingginya.

Kombinasi antara tugas (task), organisasi (organization) dan lingkungan (environment) merupakan kondisi kerja yang harus diterima dalam proses belajar mengajar. Bila kombinasi  antara tugas, organisasi dan lingkungan tersebut belum ergonomis maka dapat menimbulkan gangguan pada diri pebelajar sehingga kondisi belajar menjadi tidak sehat, tidak aman, tidak nyaman dan tidak efektif.  Kapasitas pebelajar dalam menerima tugas dan lingkungan belajar yang tidak ergonomis berbeda-beda tergantung pada kemampuan, kebolehan dan keterbatasan masing-masing. Tubuh akan berusaha melakukan adaptasi terhadap perubahan tersebut. Bila tubuh tidak mampu beradaptasi maka akan menimbulkan gangguan kualitas kesehatan, seperti keluhan muskuloskeletal meningkat, kelelahan meningkat dan  kebosanan meningkat. Penurunan kualitas kesehatan  akan berpengaruh terhadap  luaran proses belajar.

Untuk menganalisis keserasian antara tugas (task), organisasi (organization) dan lingkungan (environment) dalam proses pembelajaran dapat digunakan delapan  aspek ergonomi yaitu status gizi mahasiswa, sikap kerja, penggunaan tenaga otot, kondisi lingkungan, kondisi waktu, kondisi informasi, kondisi sosial budaya, dan kondisi manusia-mesin. Bila kombinasi antara tugas (task), organisasi (organization) dan lingkungan (environment) dalam proses pembelajaran sudah serasi maka akan membuat seseorang merasa nyaman dalam melakukan aktivitas di ruang belajar tersebut.

Dewasa ini, nampaknya kaidah-kaidah ergonomi belum diterapkan dalam proses pembelajaran dengan perangkat pendukungnya berupa sarana dan perasarana pembelajaran, baik di kampus maupun di sekolah. Misalnya: (a) pada proses pembelajaran sebagian besar pengajar masih menggunakan metode ceramah, sehingga pebelajar duduk statis dalam jangka waktu lama, aktivitas bersifat  monoton dan tidak disertai dengan istirahat aktif; (b)  ukuran tempat duduk dan meja belajar, penempatan papan tulis, penempatan layar LCD dan layar overhead projector,  pembuatan tulisan di papan tulis, pembuatan tulisan dalam plastik transparansi, pembuatan power point, pemakaian lampu penerang di ruang belajar, dan mikroklimat di ruang belajar nampaknya belum memenuhi syarat-syarat ergonomi. Sehingga dengan demikian  maka dipandang perlu untuk mengkaji ergonomi dalam pembelajaran.

 

1.2 Rumusan Masalah

            Bertitik tolak dari latar belakang tersebut di atas, dapat dibuat rumusan masalahnya sebagai berikut.

1)  Mengapa ergonomi diperlukan dalam proses pembelajaran?

2)  Upaya-upaya apa yang dilakukan untuk mengatasi masalah pembelajaran yang tidak ergonomis secara efektif dan efisien?

3)  Apa kendala-kendala yang mungkin akan dihadapi dalam upaya mengatasi masalah ruang belajar yang tidak ergonomis?

 

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan yang ingin dicapai pada penulisan ini adalah sebagai berikut.

1)      Untuk mengkaji masalah pembelajaran  ditinjau dari sudut pandang ergonomi.

2)      Untuk mencari alternatif dan solusi yang tepat dalam menanggulangi masalah pembelajaran yang tidak ergonomis secara efektif dan efisien.

3)      Untuk mengetahui kendala-kendala yang mungkin akan dihadapi dalam upaya untuk mengatasi masalah ruang belajar yang tidak ergonomis.

 

1.4 Manfaat Penulisan

Manfaat yang diharapkan dari penulisan ini adalah sebagai berikut.

1)      Dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi tentang pembelajaran berbasis ergonomis.

2)      Dapat dimanfaatkan sebagai acuan dalam mendesain ruang belajar yang ergonomis.

3)      Dapat dimanfaatkan sebagai sumber bacaan menyangkut tentang syarat-syarat ergonomi yang diterapkan dalam proses pembelajaran.

 

2. MATERI  DAN METODE

Materi dalam kajian ini adalah berupa pendapat-pendapat para pakar yang mengungkapkan, melaporkan hasil penelitian dan mengkaji kaidah-kaidah ergonomi yang bisa diterapkan dalam pembelajaran.

Metode yang digunakan adalah berupa telaah kepustakaan atau studi litaratur yang berusaha untuk dikaji secara mendalam dan disajikan secara naratif berdasarkan fakta-fakta yang diuangkapkan oleh pakar-pakar ergonomi dan pembelajaran serta observasi dilakukan secara langsung terhadap objek yang dipelajari. Data yang didapat dianalisis secara deskriptif.

3. TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Pembelajaran dan Penerapan Ergonomi dalam Pembelajaran

3.1.1 Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah suatu proses dengan tahapan aktivitas yang terprogram sehingga pada diri pebelajar terjadi perubahan prilaku. Perubahan perilaku itu meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Ada beberapa istilah yang dikenal dalam pembelajaran, antara lain: pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, teknik pembelajaran dan model pembelajaran.   Pendekatan pembelajaran adalah suatu proses pembelajaran  yang sifatnya masih sangat umum. Ada dua jenis pendekatan  pembelajaran, yaitu:  pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) dan  pendekatan pembelajaran yang  berpusat pada guru (teacher centered).  Strategi  pembelajaran  adalah rencana tindakan  (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Misalnya  strategi pembelajaran kooperatif  dapat direncanakan dengan  menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok.  Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: ceramah,  demonstrasi,  diskusi,  simulasi,  laboratorium,  pengalaman lapangan,  brainstorming,  debat,  simposium, dan sebagainya. Teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Apabila antara pendekatan, strategi, metode, dan teknik  pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir pembelajaran (Sanjaya, 2009; Trianto, 2007; Wena, 2009).

3.1.2   Pembelajaran Konvensional

Selain hal tersebut di atas kita juga mengenal pembelajaran konvensional dan pembelajaran inovatif. Pembelajaran konvensional  adalah  pembelajaran yang didominasi oleh pengajar dan berlangsung  secara klasikal.  Pebelajar hanya menerima apa yang disampaikan oleh pengajar, aktivitas belajar pebelajar sangat kurang  dan  pembelajaran kurang bermakna karena pebelajar lebih banyak menghapal. Pembelajaran konvensional  memiliki kekhasan tertentu, misalnya  mengutamakan hapalan daripada pengertian, mengutamakan hasil daripada proses, dan pengajaran berpusat pada pengajar. Jadi kegiatan  utama pengajar adalah menerangkan dan pebelajar mendengarkan atau mencatat apa yang disampaikan pengajar. Jadi ciri-ciri pembelajaran konvensional sebagai berikut: (a) pembelajaran berlangsung secara klasikal; (b) pebelajar tidak mengetahui apa tujuan mereka belajar pada hari itu; (c)  pengajar  mengajar dengan berpedoman pada buku teks, dengan mengutamakan metode ceramah; (d) pebelajar harus mengikuti cara belajar yang dipilih oleh pengajar, serta dengan patuh mempelajari urutan yang ditetapkan pengajar;  dan (e) tidak  mendapat kesempatan untuk menyatakan pendapat.

 

3.1.3   Pembelajaran Inovatif

Ada beberapa model pembelajaran inovatif diantaranya adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning), model pengajaran langsung (direct instruction), pengajaran berdasarkan masalah (problem based instruction) dan pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (Madiya, 2010; Trianto, 2007).   Arends (2007), mengemukakan ada beberapa tipe pembelajaran kooperatif  yaitu:  Student Teams Achievement Division (STAD), Group InvestigationJigsaw, Think-Pair-Share (TPS) dan  Numbered Heads Together (NHT).

Pembelajaran kooperatif  lebih menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai paling sedikit ada tiga yaitu kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan bahan pelajaran, toleransi dan penerimaan terhadap  keaneka ragaman, serta pengembangan keterampilan sosial (Arends, 2007). Lebih jauh Sanjaya (2009) menyatakan bahwa ada empat unsur penting dalam strategi pembelajaran kooperatif, yaitu: (a) adanya peserta dalam kelompok, (b) adanya aturan kelompok, (c) adanya upaya belajar setiap anggota kelompok, (d) adanya tujuan yang harus dicapai. Aktivitas pembelajaran  dilakukan dalam kegiatan kelompok, sehingga antar peserta dapat saling membelajarkan diri melalui tukar pikiran, pengalaman, maupun gagasan-gagasan.

Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning merupakan  pembelajaran yang memberi kesempatan kepada pebelajar untuk bekerja sama dengan sesama pebelajar dalam tugas-tugas yang terstruktur. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok dan ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka  yang bersifat  efektif di antara anggota kelompok. Hubungan kerja seperti itu memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat dilakukan pebelajar  untuk mencapai keberhasilan belajar berdasarkan kemampuan dirinya secara individu dan andil dari anggota kelompok lain selama belajar bersama dalam kelompok (Karlina, 2009).

Arends (2007) menyebutkan karakteristik pembelajaran kooperatif di antaranya: (a) pebelajar bekerja dalam kelompok kooperatif untuk menguasai materi akademis; (b) anggota-anggota dalam kelompok diatur terdiri dari pebelajar yang berkemampuan rendah, sedang dan tinggi; (c) jika memungkinkan, masing-masing anggota kelompok kooperatif berbeda suku, budaya, dan jenis kelamin; (d) sistem penghargaan berorientasi kepada kelompok bukan individu. Pembelajaran dengan pendekatan  kooperatif, yaitu pembelajaran yang dilaksanakan secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai  tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap pebelajar belajar. Semua anggota tim (anggota kelompok) harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itulah, kreteria keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh keberhasilan tim. Setiap kelompok bersifat heterogen. Artinya, kelompok terdiri atas anggota yang memiliki kemampuan akademik, jenis kelamin, dan latar belakang sosial yang berbeda. Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat saling memberi dan menerima pengalaman, sehingga diharapkan setiap anggota dapat memberikan kontribusi terhadap keberhasilan kelompok.  Pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka dan saling memberikan informasi. Interaksi tatap muka akan memberikan pengalaman yang berharga kepada setiap anggota kelompok untuk bekerja sama, menghargai setiap perbedaan, memanfaatkan kelebihan masing-masing anggota, dan mengisi kekurangan masing-masing.  Pembelajaran kooperatif melatih pebelajar untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan di masyarakat.   Masalah yang dibahas dalam diskusi kelompok adalah masalah yang berkaitan dengan situasi dunia  nyata   atau   isu-isu  sosial   dan  teknologi  yang  ada   di masyarakat, sehingga  ada hubungan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.  Akibatnya  pembelajaran menjadi  bermakna atau disebut juga  pembelajaran kontekstual (Dzaki, 2009; Nurohman, 2008; Sumintono, 2008;  Widyatiningtyas, 2008). Teori konstruktivis, yang menyatakan bahwa  pengajar  tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada pebelajar, tetapi  pebelajar harus membangun sendiri pengetahuan didalam benaknya. Pengajar  memberikan  kesempatan kepada pebelajar untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui penemuan masalah-masalah yang ada di lingkungannya, isu-isu yang ada dimasyarakat dan perkembangan teknologi di masyarakat (Tamalene, 2009).

Konstruktivisme merupakan salah satu perkembangan model pembelajaran mutakhir yang mengedepankan aktivitas pebelajar dalam setiap interaksi edukatif untuk dapat melakukan eksplorasi dan menemukan pengetahuannya sendiri. Kontruktivisme menekankan bahwa semua pebelajar mulai dari usia kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi memiliki gagasan atau pengetahuan tentang lingkungan dan peristiwa atau gejala yang terjadi di lingkungan sekitarnya (Admin, 2009).

Pengajar mempunyai peran penting untuk membantu pebelajar membangun pengetahuan dan keterampilannya. Dengan demikian, pebelajar dapat membuat suatu keputusan yang bertanggung jawab mengenai isu-isu sosial, khususnya isu yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Salah satu cara yang populer untuk memperkenalkan pebelajar dengan isu-isu sosial itu adalah dengan meminta kepada pebelajar untuk mencari artikel-artikel tentang materi pelajaran yang akan dibahas. Pencarian ini bisa di jurnal-jurnal ataupun di internet dan dibawa  ke kelas pada saat  proses pembelajaran. Dengan penggunaan pendekatan ini maka dalam proses pembelajarannya, kita mempunyai konsekuensi bahwa selain kita menanamkan pemahaman pebelajar terhadap konsep-konsep, prinsip-prinsip atau teori-teori, kita perlu juga membangun  pemahaman pebelajar terhadap isu-isu sosial, teknologi yang berkaitan dengan konsep itu, dan kemungkinan penggunaannya di lingkungan masyarakat atau dalam kehidupan sehari-hari.

3.1.4  Pembelajaran  Berbasis Ergonomi

Selama ini pembelajaran yang dilaksanakan oleh pengajar belum menerapkan kaidah-kaidah ergonomi. Penggunaan pembelajaran supaya lebih diminati maka harus dikombinasikan dengan prinsip: (a)  PAKEM (partisipasi, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan); (b)  ENASE (efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien); dan (c)  I2M3 (inspiratif, inovatif, menantang, menyenangkan, dan memotivasi).

Pembelajaran  akan menjadi pembelajaran   PAKEM, ENASE, dan I2M3 (Direktorat Pembinaan TK&SD, 2009),  bila dikaitkan dengan kaidah-kaidah ergonomi.

Ergonomi adalah ilmu, teknologi dan seni untuk menyerasikan alat, cara kerja dan lingkungan pada kemampuan, kebolehan dan batasan manusia sehingga diperoleh kondisi kerja dan lingkungan yang sehat, aman, nyaman dan efisien sehingga tercapai produktivitas yang setinggi-tingginya (Manuaba, 2003d).  Ergonomi sangat diperlukan di dalam suatu kegiatan yang melibatkan manusia di dalamnya dengan memperhitungkan kemampuan dan tuntutan tugas. Dengan ergonomi dapat ditekan dampak negatif pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena dengan ergonomi berbagai penyakit akibat kerja, kecelakaan, pencemaran, keracunan, ketidak-puasan kerja, kesalahan unsur manusia, bisa dihindari atau ditekan sekecil-kecilnya (Manuaba, 2003b).

Agar keluhan otot, kelelahan dan kebosanan dapat diminimalkan maka  tugas (task), organisasi (organization) dan lingkungan  (environment) perlu diserasikan dengan kemampuan, kebolehan dan keterbatasan mahasiswa sehingga terwujud pembelajaran lebih manusiawi. Sehingga  perlu dipertimbangkan delapan  aspek ergonomi sebagai dasar perbaikan model pembelajaran seperti faktor energi atau status gizi, sikap kerja, penggunaan tenaga otot secara maksimal dan efisien, kondisi lingkungan, kondisi waktu, kondisi informasi, kondisi sosial budaya dan interaksi manusia–mesin (Manuaba, 2003b). Analisis terhadap delapan aspek ergonomi diharapkan  kondisi kerja  pada saat pembelajaran dapat diterima oleh mahasiswa.

 

3.2 Kaidah Ergonomi dalam Mendesain Meja dan Kursi Belajar

Agar meja  belajar nyaman dipakai pada waktu belajar, maka ukuran-ukurannya harus disesuaikan dengan antropometrik orang yang akan memakainya.  Bila meja belajar terlalu tinggi maka bahu akan lebih sering terangkat pada saat menulis atau meletakkan tangan di atas meja dan bila terlalu rendah maka sikap tubuh akan membungkuk pada saat menulis. Sikap tubuh yang seperti itu dapat mengakibatkan sakit pada otot-otot pinggang atau punggung dan sakit pada otot-otot leher dan bahu. Secara fisiologis rasa sakit tersebut muncul sebagai akibat dari akumulasi kelelahan yang diakibatkan oleh penumpukan asam laktat pada otot-otot tersebut. Ini bisa terjadi karena pada sikap paksa didominasi oleh kontraksi otot statis dengan respirasi yang bersifat anaerobik. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dipilih meja belajar yang sesuai dengan si pemakainya. Grandjean (2000) menganjurkan agar tinggi meja untuk menulis dan membaca dalam posisi duduk adalah antara 74–78 cm untuk laki-laki dan antara 70–74 cm untuk wanita.  Sedangkan Dul & Weerdmeester (1993) menyatakan bahwa untuk kegiatan yang sering menggunakan mata, tangan dan lengan sebaiknya bidang kerja berada pada     0 – 15 cm di atas tinggi siku.

Agar tempat duduk nyaman dipakai pada waktu belajar, maka ukuran-ukurannya harus disesuaikan dengan antropometri orang yang akan memakainya. Dalam hal ini diperlukan pembakuan terhadap ukuran-ukuran tubuh/ antropometri oprang-orang Indonesia pada umumnya atau orang-orang Bali pada khususnya, sehingga dalam mendesain tempat duduk dapat mengacu kepada ukuran-ukuran tersebut. Seandainya ukuran-ukuran baku tersebut belum ada, dapat dilakukan pengukuran terhadap antropometri siswa atau mahasiswa yang akan menggunakan tempat duduk tersebut. Tetapi jika data antropometri siswa atau pemakai tersebut tidak ada, maka dapat digunakan persyaratan tempat duduk sebagai berikut (Nala, 1994).

1)  Tinggi alas duduk dari lantai 38 – 54 cm (setinggi telapak kaki sampai belakang lutut atau popliteal).

2)  Alas duduk hendaknya agak miring ke belakang (14o – 24o dari bidang horizontal atau dari lantai).

3)  Kemiringan ini diperlukan, agar tubuh tidak melorot ke depan pada saat duduk.

4) Ujung tepi depan alas duduk dibuat agak bulat untuk untuk menghindari tekanan pada bagian bawah paha. Ujung bagian depan ini dapat ditinggikan 4o – 6o dari alas duduk.

5)  Luas alas duduk sebaiknya  disesuaikan dengan ukuran pantat yaitu:   40 – 45 cm melintang dan 38 – 42 cm membujur.

6)  Sandaran pinggang dan punggung hendaknya agak miring ke belakang dengan sudut 105o – 110o terhadap alas duduk. Bentuk sandaran pinggang dan punggung sebaiknya disesuaikan dengan lengkung vertebrae pada tubuh manusia. Sandaran tersebut akan menopang punggung dan pinggang dengan baik bila ukuran tingginya 48 – 50 cm dari alas duduk dan lebarnya 32 – 36 cm.

3.3 Kaidah Ergonomi dalam Penempatan Papan Tulis, Layar OHP atau Layar LCD.

Papan tulis yang digunakan sebagai sarana belajar, kadang-kadang ditempatkan pada tempat yang tidak mengacu kepada kaidah-kaidah ergonomi, sehingga dapat memunculkan gangguan fisiologis berupa rasa sakit atau lelah pada otot-otot mata dan otot-otot leher pebelajar saat membaca tulisan atau pesan yang dibuat di papan tulis tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu diketahui kaidah-kaidah ergonomi yang dapat digunakan sebagai acuan di dalam penempatan papan tulis. Grandjean (2000) menganjurkan agar rotasi mata saat melihat suatu objek, tidak lebih dari 5o di atas bidang horizontal dan 30o di bawah bidang horizontal. Itu berarti penempatan papan tulis hendaknya memperhitungkan pebelajar yang duduk paling depan dan paling belakang, sehingga rotasi mata mereka tetap berada pada rentangan tersebut di atas. Untuk itu tinggi papan tulis harus mengacu kepada tinggi mata siswa atau pebelajar dalam posisi duduk. Persyaratan lainnya adalah: (a) bahannya tidak mengkilat; (b) warna terang; (c) lebarnya disesuaikan dengan orientasi maksimum mata pada sudut 5o  di atas bidang horizontal dan 30o di bawah bidang horizontal dan jarak antara papan tulis dengan tempat duduk pebelajar di tengah-tengah pada baris paling belakang; dan (d) panjangnya mengacu pada rumus “a = k x d” dimana “a” adalah panjang papan tulis, “k” adalah konstanta (0,33) dan “d” adalah jarak antara papan tulis dengan deret tempat duduk paling belakang (Woodson, et al. 1992).

3.4 Penerangan Ruangan

Kaidah Ergonomi dalam Mendesain Pencahayaan (Lighting)  sangat penting, agar pekerjaan dapat dilakukan dengan benar dan dalam situasi nyaman. Selain itu pada saat melakukan aktivitas dapat melihat objek dengan jelas dan cepat, sehingga tidak melelahkan otot-otot mata. Prinsip pencahayaan yang baik adalah sebagai berikut (Manuaba, 1992).

1) Jumlah  atau  intensitas pencahayaan yang diperlukan hendaknya disesuaikan dengan jenis pekerjaan, tajam lihat seseorang dan lingkungannya.

2)   Diupayakan agar mendapatkan penampilan penglihatan sebesar 100%.

3)  Di dalam merencanakan pencahayaan, di samping efisiensi penglihatan, faktor keamanan, kenyamanan dan keselamatan perlu diperhitungkan.

4)  Intensitas   pencahayaan  yang  baik  adalah  minimal 200 lux,  atau disesuaikan dengan jenis aktivitas di tempat tersebut.

5) Pencahayaan harus diutamakan pada pekerjaan pokok, kemudian pada latar belakangnya dan terakhir pada lingkungannya (dinding, atap, lantai dan lain-lain).

Untuk kegiatan belajar (membaca dan menulis) diperlukan intensitas pencahayaan sebesar 350 – 700 lux (Grandjean, 2000).

Intensitas pencahayaan di kelas perlu diperbaiki, tetapi lampu sebagai cahaya buatan hanya boleh dihidupkan jika kondisi ruangan gelap. Rumus yang dipakai menghitung jumlah lampu yang akan dipasang, setelah diketahui intensitas cahaya yang dibutuhkan adalah sebagai berikut.

X = (a X 60 X 1/15 watt) : b

Keterangan      :

X         =          jumlah lampu yang akan dipakai

a          =          luas ruangan dalam m2

b          =          kekuatan lampu yang akan dipakai

Untuk memperoleh penerangan sebesar 600 lux, berapa diperlukan lampu TL 40 watt dalam ruangan seluas 100 m2,  dapat dilihat pada perhitungan sebagai berikut.

X =  (100 x 60 x 1/15 watt) : 40 watt

X = 400 watt : 40 watt

X = 10 lampu TL

Jadi diperlukan 10 lampu TL

Jenis lampu neon (TL) memberikan penerangan sebesar 75% dan radiasi panas hanya 25%, tetapi memiliki kekurangan berupa efek getaran. Efek getaran dapat diatasi dengan menutup bagian ujung lampu TL ± 8 cm pada lampu TL 20 watt, ± 10 cm pada lampu TL 40 watt jika hanya memakai 1 buah lampu TL. Lampu TL dipasang dengan pola T, agar pebelajar terhindar dari efek getaran tersebut. Tujuan yang lebih penting adalah untuk mengurangi penyebab kelelahan otot mata, agar mutu hasil belajar tetap terjaga dengan baik karena otot mata lebih rileks pada saat melihat objek di dalam ruang belajar. Pemakaian penerangan alami harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

1)   Luas jendela agar diupayakan 1/5 luas lantai.

2)  Lantai dan plafon berwarna lembut atau putih agar membantu refleksi sinar serta mengurangi kontras (Sutajaya, 2005).

3.5 Kaidah Ergonomi dalam  Membuat Tulisan di Transparansi

Ketika menggunakan overhead projector untuk menampilkan informasi yang ingin disampaikan ke anak didik, kadang-kadang tidak memperhatikan seberapa besar huruf yang digunakan, berapa baris kalimat yang seharusnya ditulis pada satu plastik transparansi, berapa ukuran plastik transparansi yang dipakai dan bagaimana pengaturan lampu penerang. Ketidak-pedulian tersebut mengakibatkan penampilan tulisan atau informasi di layar overhead projector tidak terbaca oleh pebelajar yang duduk paling belakang. Masalah ini sering muncul, karena belum diperhatikannya kaidah-kaidah ergonomi, sehingga dapat mengakibatkan respon fisiologis yang tidak menguntungkan, seperti misalnya terjadi akomodasi mata yang tidak alamiah yang sudah tentu akan mempercepat munculnya kelelahan pada mata.

Untuk mengatasi masalah tersebut di atas, dalam hal ini perlu dikaji tentang kaidah-kaidah ergonomi yang dapat diterapkan dalam pemakaian huruf tersebut yaitu (Manuaba, 1998):

1)  Ukuran dan warna huruf yang nyaman dibaca, hendaknya mengikuti aturan sebagai berikut.

(1) Tinggi huruf (dalam mm) = jarak baca (dalam mm) dibagi 200

(2)  Lebar huruf  = 2/3 x tinggi huruf

(3) Tebal huruf  = 1/6 x tinggi huruf

(4) Jarak antara 2 huruf = 1/5 x tinggi huruf

(5) Jarak antara 2 kata = 2/3 x tinggi huruf

(6) Jarak antara 2 baris kalimat = 1 x tinggi huruf

(7) Jika warna hurufnya hitam maka latar belakangnya putih, kuning atau oranye muda

(8) Jika warna hurufnya biru tua atau hijau tua maka latar belakangnya putih

(9) Jenis hurufnya adalah huruf balok.

2)  Menentukan ukuran plastik transparansi.

Cara menentukan ukuran plastik transparansi agar efisien dan efektif adalah:

(1)   Plastik transparansi ukuran folio dipotong melintang, sehingga diperoleh dua potong plastik transparansi yang siap ditulisi.

(2)   Pada plastik tersebut tulisan dibuat sejajar dengan lebar plastik, dengan jumlah baris kalimat tidak lebih dari 10 baris.

Dengan mengikuti kaidah-kaidah ergonomi seperti tersebut di atas, diharapkan agar mata berakomodasi secara alamiah pada saat membaca tulisan yang ditampilkan pada layar overhead projector, sehingga kelelahan mata tidak cepat muncul.

3.6  Kaidah  ergonomi dalam merancang slide power point dalam pembelajaran

               Beberapa kaidah  ergonomi dalam merancang slide power point dalam pembelajaran.  Dalam merancang presentasi dengan menggunakan slide power point, ada beberapa kaidah  estetika dan ergonomis yang perlu diperhatikan di antaranya seperti: (1) Tata cara pembuatan judul slide power point yaitu sebagai berikut: (a) judul slide power point ringkas, dan tata letaknya pas,  (b) jumlah kata 2-5 dan buat sub judul dibawahnya jika terlalu panjang,  (c) besar huruf 20-28 font ( untuk memilih antara 20-28 font disesuaikan atau tergantung pada jenis hurufnya);     (2) Tata cara pembuatan isi slide power point  yaitu sebagai berikut:  (a) Isi slide sederhana, bahan tidak seluruhnya dituangkan dalam slide. Satu halaman presentasi hanya mengandung satu jenis informasi atau idea dan isi slide tidak bermakna ganda, sehingga dapat membingungkan mahasiswa. Pesan disajikan melalui gagasan yang unik dan tidak klise (tidak sering digunakan), agar media pembelajaran yang dibuat tampil segar dan menarik perhatian, serta susunlah materi yang hendak disampaikan secara sistematik (runut), agar alur pesan dapat dicerna secara lancar. Bila menggunakan singkatan, gunakanlah yang populer, (b) Dalam satu baris gunakan 3-5 kata dan jumlah baris kalimat tidak lebih dari 9 baris, maksudnya agar tidak terkesan ruet atau tidak mengakibatkan keengganan mahasiswa untuk membaca tulisan tersebut,  (c) Konsisten dalam menggunakan ukuran huruf dalam satu halaman slide, ukuran hurufnya adalah 18-24 font ( untuk memilih antara 18-24 font disesuaikan atau tergantung pada jenis hurufnya),  (d) Konsisten dalam pengaturan warna, bila menggunakan huruf hitam maka warna dasarnya putih dan bila menggunakan huruf putih maka warna dasarnya biru tua. Penggunaan  huruf yang terlalu banyak warna warni  akan dapat menimbulkan kelelahan mata mahasiswa  (Adri, 2008; Hartati, 2009; Pardede, 2008; Said, 2009).

3.7 Kaidah Ergonomi dalam Menentukan  Mikroklimat di Ruang Belajar

Mikroklimat di ruang belajar ditentukan oleh suhu udara, suhu permukaan (suhu di atas meja, jendela, dinding, lantai dan lain-lain), kelembaban udara, gerakan udara, dan kualitas udara. Suhu yang dirasakan seseorang merupakan rerata dari suhu udara dan suhu permukaan. Untuk rasa nyaman, perbedaan suhu udara dan suhu permukaan hendaknya sekecil mungkin. Oleh karena itu, diambil patokan agar perbedaan rerata suhu permukaan hendaknya tidak lebih dari 2 – 3o C di atas atau di bawah suhu udara, sedangkan perbedaan suhu antara di dalam dan di luar ruangan, tidak lebih dari 4o C. Jika melebihi batas tersebut, hendaknya dibuat ruang antara untuk proses adaptasi terhadap perbedaan suhu tersebut (Manuaba, 2004 b).

Suhu udara di satu ruangan, hendaknya antara 20 – 24o C pada musim dingin dan antara 23 – 26o C di musim panas (Helander, 2005), sedangkan kelembaban relatif di satu ruangan tidak boleh kurang dari 30% atau antara 40 – 60% di musim panas, merupakan kelembaban relatif yang memberi suasana nyaman di ruangan tersebut. Suhu nyaman untuk daerah tropis adalah antara 22 s.d. 28o C dengan kelembaban relatif antara 70 s.d. 80% (Manuaba, 2004 b).

Gerakan udara di satu ruangan memberi pengaruh kepada suhu yang dirasakan seseorang. Agar gerakan udara tersebut tidak menimbulkan dampak yang tidak diinginkan,  dianjurkan agar gerakan udara di dalam ruangan tidak lebih dari 0,2 m/ detik (Manuaba, 2004 b).

Seandainya mikroklimat di ruang belajar tidak diperhatikan, sehingga ruang tersebut menjadi panas,  akan timbul respon fisiologis sebagai berikut.  (1) Rasa lelah yang diikuti dengan hilangnya efisiensi kerja mental dan fisik meningkat. (2) Denyut jantung meningkat.  (3) Tekanan darah meningkat.  (4) Aktivitas alat pencernaan menurun.     (5) Suhu inti tubuh meningkat.  (6) Aliran darah ke kulit juga meningkat. (7) Produksi keringat meningkat.

Melihat dampak negatif yang ditimbulkan oleh suhu ruangan yang panas, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk mendisain ruang belajar yang mengacu kepada kaidah-kaidah ergonomi, demi tercapainya produktivitas belajar yang setinggi-tingginya. Dengan demikian, berarti energi yang dikeluarkan sepenuhnya untuk kegiatan belajar dan tidak ada energi yang terbuang untuk mengatasi kondisi ruangan yang tidak nyaman.

 

4. PEMBAHASAN

4.1 Ergonomi Diperlakukan di dalam Pembelajaran

Ruang belajar yang ergonomis tentunya akan membuat seseorang merasa nyaman di dalam melakukan aktivitasnya di ruang tersebut. Ergonomi sesuai dengan mottonya “sehat, aman, nyaman, selamat, efektif dan efisien” mengupayakan agar ruang belajar betul-betul dalam kondisi yang mengakibatkan orang yang beraktivitas di ruangan tersebut, energinya hanya digunakan untuk belajar bukan untuk mengatasi kondisi ruangan yang tidak nyaman. Dengan demikian berarti ergonomi memang sangat diperlukan di dalam mendesain ruang belajar. Sikap kerja siswa/ mahasiswa pada saat proses pembelajaran hendaknya dalam posisi fisiologis dan tidak menimbulkan sikap paksa (Grandjean, 2000). Sikap alamiah dapat mencegah kontraksi otot dan peregangan tendo berlebihan. Antisipasi terhadap perubahan sikap tubuh pada saat pembelajaran adalah (a)  ukuran alat kerja dan stasiun kerja disesuaikan dengan antropometri siswa/ mahasiswa, sehingga dapat mengurangi keluhan muskuloskeletal; (b) mencegah otot berkontraksi dalam waktu lama sehingga perlu istirahat aktif,  karena istirahat aktif dapat mempercepat waktu pemulihan (Nala, 2002).  Sehingga dengan demikian maka dalam mendesain ruang belajar perlu disesuaikan antara antropometri orang yang akan belajar di tempat tersebut dengan meja dan kursi yang akan digunakan. Tinggi meja hendaknya disesuaikan dengan tinggi siku orang yang akan menggunakannya, sedangkan tinggi tempat duduk hendaknya disesuaikan dengan tinggi poplitea-nya. Seandainya banyak orang yang menggunakan meja dan tempat duduk tersebut, maka ukuran antropometri mereka ditetapkan berdasarkan persentil (dalam hal ini digunakan persentil 5). Kedalaman kursi mengacu kepada panjang buttock poplitea pemakai, juga menggunakan persentil 5. Lebar kursi mengacu kepada lebar buttock dengan menggunakan persentil 95. Tinggi sandaran mengacu kepada tinggi bahu yang diukur dari bidang yang diduduki dengan menggunakan persentil 5. Sedangkan lebar sandaran mengacu kepada lebar bahu, dengan menggunakan persentil 95. Dengan mengikuti kaidah-kaidah tersebut diharapkan tidak ada lekuk-lekuk tubuh yang tertekan atau tidak terjadi sikap tubuh yang tidak alamiah. Penempatan papan tulis di ruang kuliah atau ruang belajar di sekolah-sekolah belum mengacu kepada kaidah-kaidah ergonomi, padahal penempatan papan tulis yang tidak tepat dapat mengganggu kesehatan siswa atau mahasiswa yang belajar di tempat tersebut. Dalam hal ini penempatan papan tulis yang salah dapat mengganggu akomodasi mata saat membaca informasi yang tertera di papan tulis tersebut atau sering menimbulkan sikap  tubuh yang tidak alamiah terutama pada leher yang tentunya dapat menimbulkan gangguan otot pada organ tersebut. Terkait dengan masalah tersebut maka dalam mendesain ruang belajar khususnya dalam menempatkan papan tulis hendaknya mengacu kepada tinggi mata siswa/ mahasiswa dalam posisi duduk. Dengan demikian informasi di papan tulis tidak lebih dari 50 di atas horizontal plane dan 300 di bawah horizontal plane. Sikap kerja yang bertentangan dengan sikap alami tubuh, akan menimbulkan kelelahan dan cedera otot-otot. Dalam sikap yang tidak alamiah tersebut akan banyak terjadi gerakan otot yang tidak fisiologis sehingga  boros energi. Hal itu akan menimbulkan strain dan cedera otot-otot skeletal (Adiputra, 2008).

Permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan otot pada  proses pembelajaran masih bersifat statis, karena proses tersebut bersifat teacher centered sehingga pembelajaran didominasi oleh pengajar. Pada proses pembelajaran sebagian besar pengajar masih menggunakan metode ceramah.  Siswa/ mahasiswa duduk statis dalam jangka waktu lama, aktivitas bersifat  monoton dan tidak disertai dengan istirahat aktif.    Setiap otot memanjang atau memendek akan membutuhkan energi,  energi berasal dari simpanan energi dalam tubuh. Simpanan energi tersebut berasal dari makanan dan minuman yang dikonsumsi sebelumnya. Manusia bekerja dengan tugas berat akan membutuhkan energi lebih besar dibandingkan dengan bekerja dengan tugas ringan (Adiputra, 2008). Selama kontraksi otot diperlukan tersedianya ATP secara kontinyu. Ketersediaan  energi tergantung pada ketersediaan oksigen dan nutrisi yang dihantarkan oleh sistem sirkulasi.  Kontraksi otot statis (isometrik) dalam waktu relatif lama menyebabkan sirkulasi darah tidak optimal,  sehingga mengurangi asupan oksigen dan zat makanan.  Dengan demikian asupan energi berkurang sehingga mempercepat  timbulnya kelelahan. Disamping itu akumulasi asam laktat merangsang reseptor rasa nyeri sehingga dirasakan sebagai keluhan muskuloskeletal. Dengan demikian kerja otot statis mempercepat timbulnya kelelahan dan keluhan muskuloskeletal (Guyton & Hall, 2000).  Untuk mengantisipasi masalah ini dalam proses pembelajaran maka stasiun kerja dan alat kerja harus disesuaikan dengan antropometri siswa/ mahasiswa. Teknik pembelajaran  diupayakan agar aktivitas siswa/ mahasiswa menjadi lebih dinamis dengan jalan  kontraksi otot statis diubah menjadi dinamis (Sutajaya, 2005).

Aspek lingkungan kerja sangat menentukan prestasi kerja seseorang. Lingkungan yang tidak kondusif di tempat kerja, akan memberikan beban tambahan bagi tubuh,  padahal  tubuh sedang melaksanakan beban utama yaitu aktivitas yang sedang dilaksanakan. Demikian juga lingkungan dingin, kelembaban relatif, penipisan kadar oksigen, adanya zat pencemar dalam udara juga akan mempengaruhi penampilan kerja. Permasalahan mikroklimat di ruang belajar juga sering diabaikan, sehingga siswa atau mahasiswa yang belajar di tempat tersebut akan teraniaya oleh mikroklimat yang tidak adekuat. Konsekuensinya energi yang mereka keluarkan tidak sepenuhnya untuk kegiatan belajar, akan tetapi akan ada energi yang dikeluarkan untuk melawan mikroklimat yang tidak adekuat tersebut. Ventilasi silang sangat diperlukan untuk mengatasi panas di ruang belajar, karena dengan ventilasi silang dapat meningkatkan sirkulasi udara di dalam ruangan. Masalah intensitas pencahayaan juga masih kurang.  Padahal Grandjean (2000) mempersyaratkan 350 – 700 lux untuk kegiatan membaca dan menulis. Kondisi tersebut diprediksi dapat menimbulkan kelelahan mata pebelajar. Disamping itu Adiputra (2008) menyatakan bahwa  penerangan di tempat kerja, adanya kebisingan, lingkungan kimia, biologi dan lingkungan sosial di tempat kerja berpengaruh terhadap prestasi dan produktivitas kerja. Kaidah-kaidah ergonomi yang diterapkan untuk mengatasi mikroklimat di ruang belajar harus diterapkan sejak perencanaan, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk hal itu bisa diminimalkan.

Kondisi waktu  perlu diperhatikan agar pada diri siswa/ mahasiswa tidak terjadi kelelahan yang berlebihan, dan perlu penyesuaian antara lama pembelajaran dengan jumlah waktu istirahat.  Permasalahan yang dijumpai terkait dengan kondisi waktu adalah belum diterapkan istirahat aktif,   sehingga mahasiswa duduk dalam jangka waktu lama saat beraktivitas. Padahal Nala (2002) menyarankan agar  pembelajaran dengan pendekatan ergonomi memberlakukan  istirahat aktif, karena istirahat aktif dapat mempercepat  pemulihan terhadap kelelahan.

Permasalahan yang berkaitan dengan kondisi informasi adalah jarang ditemukan adanya papan kerja yang berfungsi sebagai tempat untuk menempel informasi hasil kerja siswa/ mahasiswa. Demikian pula informasi yang disampaikan dalam bentuk media pembelajaran oleh pengajar ke siswa/ mahasiswa belum memenuhi kaidah-kaidah ergonomi, seperti ukuran huruf  dan penempatannya. Penggunaan huruf di papan tulis ukurannya tidak beraturan dan tidak konsisten atau  tidak sesuai dengan rumus huruf yang ergonomis.    Aturan dalam membuat tulisan di plastik transparansi dengan menerapkan kaidah-kaidah ergonomi tampaknya belum banyak diketahui dan diterapkan, sehingga terkadang banyak kita jumpai tulisan-tulisan di plastik transparansi yang mirip tulisan di koran yaitu tulisannya kecil-kecil, jaraknya rapat dan jumlah baris dalam satu plastik transparansi sangat banyak. Demikian pula pada pembuatan  slide power point, belum mengikuti kaidah-kaidah ergonomi. Hal ini akan mengakibatkan keengganan orang untuk membaca informasi yang ada di tulisan tersebut. Untuk itu perlu dikaji lebih jauh tentang hal itu, sehingga informasi yang ingin disampaikan melalui tulisan di plastik transparansi tersebut bisa efektif dan efisien yang tentunya pada akhirnya membuat orang yang menerima informasi tersebut merasa nyaman saat membacanya. Ukuran tulisan dan jumlah baris tulisan dari atas ke bawah dengan jarak yang ergonomis tentu akan membuat orang yang membaca tulisan tersebut akan merasa senang dan ada keinginan untuk membaca. Jika kaidah-kaidah ergonomi tidak diterapkan dalam membuat tulisan tersebut tentunya akan mengakibatkan munculnya kelelahan mata dan kebosanan  (Pardede, 2008).

Permasalahan yang berkaitan dengan kondisi sosial budaya adalah hubungan  antara sesama siswa/ mahasiswa dan hubungan antara siswa/ mahasiswa dengan  pengajar pada saat pembelajaran  belum harmonis. Hal ini disebabkan karena  pembelajaran didominasi oleh guru/ dosen dengan menggunakan metode ceramah.  Dalam rangka untuk membina dan meningkatkan motivasi kerja siswa/ mahasiswa dalam melaksanakan tugas-tugasnya,  ternyata kondisi sosial seperti  pemberian  penghargaan bagi yang berhasil dan  hukuman  bagi yang salah belum dilakukan oleh pengajar, karena orientasinya hanya hasil pembelajaran. Kondisi sosial  seharusnya banyak dimanfaatkan oleh pimpinan tempat kerja untuk membina dan membangkitkan motivasi kerja, seperti sistem penghargaan bagi yang berhasil dan hukuman bagi yang salah dan lalai bekerja (Adiputra, 2008). Kondisi sosial menyangkut hubungan siswa/ mahasiswa dengan orang lain baik dengan pengajar dan orang tuanya maupun dengan temannya dapat mempengaruhi konsentrasi dan kegiatan belajarnya.

4.2 Upaya-upaya yang Efektif dan Efisien untuk Mengatasi Masalah Pembelajaran  yang Tidak Ergonomis

            Banyak upaya yang telah dilakukan dalam perbaikan pembelajaran, termasuk  membuat ruang belajar yang nyaman, namun langkah yang efektif dan efisien belum banyak yang diketahui, sehingga dalam mengupayakan ruang belajar yang nyaman diperlukan banyak biaya yang dapat bertindak sebagai penghambat dalam merealisasikan keinginan tersebut. Terkait dengan hal tersebut, dalam hal ini dikemukakan beberapa alternatif langkah-langkah yang efektif dan efisien dalam upaya meningkatkan kenyamanan belajar di ruang belajar yaitu :

1)      Kaidah-kaidah ergonomi dalam pembelajaran khususnya dalam rangka pengadaan sarana dan prasarana pembelajaran hendaknya sudah diterapkan sejak perencanaan, sehingga pengeluaran biaya yang tidak perlu bisa diminimalkan.

2)      Diupayakan agar penerapan ergonomi dilakukan secara preventif (bersifat pencegahan) dan penerapan ergonomi secara curatif (bersifat pengobatan atau perbaikan) hendaknya dijadikan sebagai alternatif kedua, seandainya alternatif pertama sama sekali tidak dapat dilakukan.

3)      Penerapan ergonomi akan lebih berhasil jika melalui pendekatan “SHIP” (Sistemik, Holistik, Interdisipliner dan Partisipatori )

4)      Kaidah-kaidah ergonomi pada awalnya diterapkan pada bagian yang mudah dikerjakan dan biayanya murah, karena ini akan merangsang perbaikan-perbaikan berikutnya, seandainya sudah dirasakan manfaatnya.

5)      Penerapan ergonomi dalam mendesain ruang belajar yang ergonomis hendaknya didasari oleh sikap optimis, bahwa perbaikan itu memang dapat meningkatkan produktivitas belajar. Dalam hal ini kemampuan, kemauan dan keberanian untuk berubah sangat dituntut, sehingga sikap sulit berubah bisa dikikis perlahan-lahan tapi pasti, dengan melihat keberhasilan yang dapat diwujudkan melalui penerapan kaidah-kaidah ergonomi.

6)      Sikap apriori bahwa ergonomi sifatnya mahal dan sulit diterapkan hendaknya dihilangkan sama sekali, karena hal ini akan mengakibatkan motivasi, inovasi dan eksplorasi seseorang terkait dengan upaya meningkatkan kenyamanan ruang belajar melalui penerapan kaidah-kaidah ergonomi bisa terhambat.

7)      Pengajar hendaknya menerapkan proses pembelajaran inovatif berbasis ergonomi, yaitu teknik pembelajaran  diupayakan agar aktivitas siswa/ mahasiswa menjadi lebih dinamis dengan jalan  kontraksi otot statis diubah menjadi dinamis.

Dengan memperhatikan ketujuh langkah-langkah di atas, berarti ergonomi dalam penerapannya, hendaknya didukung oleh semua pihak dan dikaji secara interdisipliner, sehingga diperoleh hasil yang optimal atau maksimal.

 

4.3  Kendala-kendala yang Dihadapi dalam Upaya Mengatasi Masalah Ruang Belajar  yang Tidak Ergonomis

Setiap upaya pasti ada kendalanya dan kendala itu hendaknya jangan dihindari tapi harus diatasi atau dihadapi, betapapun sulit dan rumitnya, karena hal ini akan membawa dampak bagi kesiapan seseorang dalam mengatasi berbagai macam kendala terkait dengan masalah yang dihadapi. Kendala-kendala yang mungkin akan dihadapi dalam penerapam kaidah-kaidah ergonomi dalam pembelajaran adalah sebagai berikut.

1)      Para desainer ruangan belum banyak yang tahu tentang kaidah-kaidah ergonomi, sehingga dalam penerapannya tidak optimal atau dalam mendesain ruangan lebih ditekankan pada unsur estetis dan ekonomis.

2)      Belum disadarinya tentang dampak negatif suatu ruang belajar yang tidak nyaman terhadap produktivitas belajar siswa/ mahasiswa yang belajar di dalamnya.

3)      Masih banyak orang yang beranggapan bahwa ergonomi itu mahal dan sulit diterapkan.

4)      Orang baru menyadari bahwa ergonomi itu penting, ketika mereka sudah terkena akibat yang ditimbulkan oleh kondisi kerja yang tidak ergonomis, karena pada dasarnya sikap manusia cenderung reaktif bukan proaktif.

5)      Penerapan ergonomi sering gagal, karena belum semua orang menyadari bahwa ergonomi itu penting dan harus diterapkan.

6)      Akibat yang ditimbulkan oleh kondisi kerja yang tidak ergonomis tidak seketika terjadi dan lebih sering bersifat akumulatif, sehingga upaya perbaikan tidak seketika dapat dilihat atau dinikmati hasilnya.

Dengan mengkaji kendala-kendala tersebut di atas hendaknya kita tidak menyerah dan menerima apa adanya atau membiarkan anak didik kita selalu dalam kondisi ruang belajar yang tidak ergonomis, akan tetapi perlu diupayakan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut dengan satu tekad bahwa ergonomi memang mutlak perlu untuk diterapkan. Sikap yang demikian tentu akan menggugah keinginan kita untuk segera berpikir dan bertindak dalam mengatasi ruang belajar yang belum menerapkan kaidah-kaidah ergonomi. Dalam hal ini perbaikan yang paling sederhana atau paling mudah dan paling murah biayanya kita gunakan sebagai langkah awal di dalam bertindak dan setelah dilihat dan dinikmati hasilnya baru dilanjutkan dengan perbaikan-perbaikan yang lebih kompleks. Misalnya kalau kita sudah tahu bahwa penempatan papan tulis terlalu tinggi atau terlalu rendah karena penempatannya tidak mengacu kepada tinggi mata siswa/mahasiswa yang belajar di ruangan tersebut, dapat kita perbaiki hanya dengan memindahkan paku penggantung papan tulis tersebut. Kalau mikroklimat di ruang belajar tidak adekuat, karena tidak ada ventilasi silang sehingga ruangan menjadi panas dan sirkulasi udara tidak lancar, maka hanya dengan menjebol sesuai keperluan, sehingga memungkinkan terjadinya ventilasi silang tampaknya merupakan suatu pekerjaan yang tidak terlampau sulit dan biayanya juga tidak terlampau mahal jika dibandingkan dengan nilai kesehatan dan kenyamanan siswa/mahasiswa yang belajar di ruangan tersebut.

Dengan melihat kedua contoh perbaikan yang murah dan mudah dikerjakan tersebut, hendaknya kita semua mulai berpikir bahwa sebenarnya penerapan ergonomi bukan sesuatu yang mahal dan sulit dikerjakan. Asal kita mau, mampu dan berani berbuat tampaknya semua itu bukan suatu yang mustahil untuk dikerjakan.

 

5. PENUTUP

5.1 Simpulan

Dari hasil kajian tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.

1)      Penerapan ergonomi mutlak diperlukan pada proses pembelajaran, sehingga diperoleh kondisi pembelajaran yang sehat, aman, nyaman, efisien dan efektif yang pada akhirnya diperoleh produktivitas belajar yang setinggi-tingginya.

2)      Ruang belajar yang ergonomis dapat menambah kenyamanan belajar, sehingga energi yang dikeluarkan dapat sepenuhnya dimanfaatkan untuk kegiatan belajar dan bukan untuk mengatasi kondisi ruang belajar yang tidak ergonomis.

3)      Ada beberapa kendala yang tampaknya agak sulit untuk diatasi di dalam mendesain ruang belajar yang ergonomis, karena menyangkut masalah dana dan perilaku atau keinginan untuk berubah.

 

5.2 Saran

Saran yang nampaknya penting untuk disampaikan pada kesempatan ini adalah  sebagai berikut.

1)      Dalam mendesain atau meredesain ruang belajar, disarankan untuk selalu menerapkan kaidah-kaidah ergonomi.

2)      Kaidah-kaidah ergonomi harus diterapkan sejak dini, sehingga tidak memerlukan biaya yang besar atau tidak ada biaya yang terbuang percuma.

3)      Karena melihat begitu besarnya manfaat yang diperoleh dari desain ruang belajar yang ergonomis, maka kendala apapun yang dihadapi dan betapapun sulitnya, hendaknya diatasi secara efektif dan efisien demi tercapainya produktivitas belajar setinggi-tingginya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Adiputra, N.2008. Upaya Kesehatan Kerja Tenaga Kesehatan Kabupaten/ Kota dan Puskesmas Propinsi Bali. [cited 2010 November 14] Available from:    http://www.balihesg.org – balihesg

 

Admin. 2009. Konstruktivisme dalam Pembelajaran Sain dan Matematika [cited 2010 Januari 4] Available from: http://lpmpjogja.diknas.go.id/index2.php? option= com_content&do_pdf=1&id=328

 

Adri, M. 2008. Implementasi Power Point Dalam Pembelajaran. [cited 2010 Februari 10] Available from: http://openpdf.com/ebook/model-pengajaran-berbasis-ergonomi-pdf.html

 

Arends, R.I. 2007. Belajar untuk Mengajar. Edisi Ketujuh.  Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Direktorat Pembinaan TK&SD. 2009. Mengenal Metode Pembelajaran Pakem. [cited 2010 Februari 10] Available from: http://sekolahku.info/artikel/mengenal-metode-pembelajaran-pakem/

 

Dul, J., Weerdmeester, B.  1993. Ergonomic for Beginners A Quick Reference Guide. London: Taylor & Francis.

 

Dzaki, M. F. 2009. Pendekatan Sains Teknologi Society (STS). [cited 2009 Desember 2 ] Available from: http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/ 2009 /03/pendekatan-sains-teknologi-society-sts.html.

 

Grandjean, E., Kroemer, K.H.E.  2000. Fitting the Task to the Human. A Textbook of Occupational Ergonomics. Fifth  Edition. Piladelphie: Taylor & Francis.

 

Guyton,A.C dan J.E. Hall. 2000.  Fisiologi Kedokteran. Irawati Setiawan (ed).  Edisi 10.  Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. 101-112.

 

Hartati, T. 2009. Beberapa Kaidah Dalam Merancang Slide Yang Efektif. [cited 2010 Februari 11] Available from: http://titahartati.blogspot.com/2009/07/ms-powerpoint-2003.html

 

Helander, M.G & Lo Shuan. 2005. Reducing Design Complexxity Will Improve Usability in Product Design. In Proceeding of Seaes IPS Conference, 23 – 25 May. Bali. Indonesia. p. 6-10.

 

Madiya, IW., Sanjaya, IP.H., dan Subudi, IK. 2010. Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) Dan Implementasinya Dalam         Pembelajaran Sains. [cited 2011 Januari 16] Available from: file:///C:/Documents%20and%20Settings/pak%20oka/My%20Documents/ model-pembelajaran-sains-teknologi.html

 

Manuaba, A. 1992. Pencahayaan (lighting). Denpasar: Lab. Faal FK UNUD.

 

Manuaba, A. 1998. Penerapan Ergonomi Kesehatan Kerja di Rumah Tangga (Bunga Rampai Vol. II) Denpasar: Program Studi Ergonomi-Fisiologi Kerja Universitas Udayana

 

Manuaba, A. 2003 a. Total Ergonomic Approach to Enhance and Harmonize The Development of Agriculture, Tourism and Small Scale Industry, with Special Reference to Bali. Dalam: Purwanto, W., Sugema, L.l., dan Ushada, M. editors. Prosiding Seminar Nasional Ergonomi. Yogyakarta: Perhimpunan Ergonomi Indonesia dan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada. p.16 – 21.

 

Manuaba, A. 2003 b. Optimalisasi Aplikasi Ergonomi dan Fisiologi Olahraga dalam Rangka Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja dan Prestasi Atlet. Makalah. Disampaikan pada Seminar Nasional Ergonomi dan Olahraga di Universitas Negeri Semarang, 12 April 2003.

 

Manuaba,A. 2003c. Holistic disign is a must to attain sustainable product. The National Seminar on Product Design and Development Industrial Engineering UK Maranatha. Bandung, 4-5 Juli 2003.

 

Manuaba, A. 2003d. Optimalisasi Aplikasi Ergonomi dan Fisiologi Olahraga dalam Rangka Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja dan Prestasi Atlet. Makalah. Disampaikan pada Seminar Nasional Ergonomi dan Olahraga di Universitas Negeri Semarang, 12 April 2003.

 

Manuaba, A. 2004 a. Membangun Desa Tanaman Hias Petiga melalui Tiga Sektor Potensial Ekonomi Bali Secara Harmoni dalam Rangka Pembangunan Bali Berlanjut. Makalah. Denpasar: Bali-HESG, Bagian Fisiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana.

 

Manuaba, A. 2004 b. Kontribusi Ergonomi dalam Pembangunan, dengan Acuan Khusus Bali. Dalam: Purwanto, W., Mulyati, G.T., dan Saroyo, P. Yogyakarta: Perhimpunan Ergonomi Indonesia dan Jurusan Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada. p 160 – 165.

 

Nala, N. 1994. Penerapan Teknologi Tepat Guna di Pedesaan. Denpasar: Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Udayana.

 

Nala, N.2002.Prinsip Pelatihan Fisik Olahraga. Denpasar: Komite Olahraga Nasional Indonesia Daerah Bali. hal. 57.

 

Nurohman, S. 2008.  Penerapan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) dalam Pembelajaran IPA Sebagai Upaya Peningkatan Life Skills Peserta Didik. [cited 2009 Desember 2] Available from: http://shobruwordpress. compublikasi/ sains-teknologi-masyarakat/.

 

Pardede, B.D. 2008. Panduan Pengembangan Multimedia Pembelajaran-4.     [cited 2009 April 16] Available from: http://pakdesmart75.wordpress.com /2008/06/ 01/panduan-pengembangan-multimedia-pembelajaran-4/

 

Said, F.E. 2009.Analisis Sistem Informasi-Teknik&Desain  Presentasi. [cited 2010 Maret 24] Available from: http://fairuzelsaid.wordpress.com/2009/12/02/ analisis-sistem-informasi-teknik-presentasi/

 

Sanjaya, W. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Cetakan ke-6. Jakarta: Prenada Media Group.

 

Sumintono, B. 2008. Mengemas Sains Teknologi dan Masyarakat dalam Pengajaran Sekolah. [cited 2009 Desember 5] Available from: http://netsains.com /2008 /01/mengemas-sains-teknologi-dan-masyarakat-dalam-pengajaran-sekolah/.

 

Sutajaya, IM. 2005. Pembelajaran melalui Pendekatan Sistemik, Holistik, Interdisipliner, dan Partisipatori (SHIP)  mengurangi Kelelahan, Keluhan Muskuloskletal,    dan Kebosanan serta Meningkatkan Luaran Proses Belajar Mahasiswa Biologi IKIP Singaraja. (Desertasi). Denpasar: Program Pascasarjana Universitas Udayana.

 

Tamalene, M.N. 2009. Pendekatan Dalam Pembelajaran. [cited 2009 Desember 29] Available from: http://biotamalene.blogspot.com/

 

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka 41-62.

 

Wena, M. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, Suatu Tinjauan  Konseptual Operasional. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Widyatiningtyas. 2008. Pembentukan Pengetahuan Sains Teknologi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA. [cited 2009 Nopember 25] Available from:  http://educare.e-fkipunla.net/index2.php?option=comcontent&dopdf=  1&id= 43.

 

Woodson, W.E, Tillman, B. & Tillman, P. 1992. Human Factors Design Handbook. New York : McGraw Hill.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: