PEMBELAJARAN BIOTEKNOLOGI DENGAN PENDEKATAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT BERBASIS ERGONOMI MENINGKATKAN KESEHATAN, LUARAN PROSES, DAN HASIL BELAJAR MAHASISWA IKIP SARASWATI TABANAN

oleh: I Gusti Made Oka Suprapta
Pendidikan Biologi, FPMIPA, IKIP Saraswati Tabanan

Sejak ditetapkan dan diberlakukannya Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, serta dilandasi oleh Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, maka pendidikan di Indonesia, semakin mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Pengadaan sarana dan prasarana pembelajaran, penyetaraan atau peningkatan jenjang pendidikan guru dan dosen, perbaikan kurikulum, serta anggaran pendidikan merupakan suatu prioritas. Anggaran pendidikan untuk APBN 2011 ditetapkan minimal 20% dari APBN dan minimal 20% dari APBD. Secara keseluruhan anggaran pendidikan dalam APBN 2011 sebesar Rp. 248,978 triliun atau sekitar 20,02% dari total belanja Negara (Koster, 2010).
Walaupun pendidikan di Indonesia sudah dan sedang mendapat perhatian dari pemerintah kenyatataan di lapangan banyak siswa yang putus sekolah, tidak lulus ujian, tidak naik kelas, tidak dapat melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, indek prestasi rendah, waktu tamat lebih lama dari ketentuan sehingga hal ini merupakan salah satu parameter kualitas pendidikan masih rendah. Dilihat dari peringkat negara, kualitas pendidikan Indonesia berada di urutan ke-160 dari 194 negara di dunia dan urutan ke-16 dari 50 negara di Asia. Bahkan secara rata-rata, Indonesia masih berada di bawah Vietnam (Muhliz, 2009)
Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia merupakan implikasi dari rendahnya prestasi belajar. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, yaitu: (1) faktor internal, seperti: kebugaran fisik, gizi, intelegensi, genetik, bakat, minat, motivasi dan faktor psikologis lainnya seperti bosan, malas, emosi, sulit konsentrasi dan lainnya; (2) faktor eksternal, seperti: (a) penerapan model pembelajaran; (b) lingkungan sosial seperti sistem nilai di masyarakat terhadap pebelajar yang berprestasi masih rendah, penilaian pemerintah terhadap pebelajar yang berprestasi juga masih rendah, dan adanya pelaksanaan ujian nasional yang tidak mengikuti norma-norma; (c) lingkungan fisik; dan (d) sarana pembelajaran.
Dari hasil penilaian terhadap 27 orang dosen di IKIP Saraswati Tabanan mengenai model pembelajaran yang dilakukannya, didapatkan 92,6% dosen menggunakan model pembelajaran konvensional dengan metode ceramah, 3,7% menggunakan model pembelajaran inovatif dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat, dan sisanya 3,7% menggunakan model pembelajaran inovatif dengan pendekatan Jigsaw. Salah satu faktor yang diyakini mempengaruhi prestasi belajar adalah model pembelajaran yang digunakan oleh dosen. Data rata-rata indek prestasi komulatif (IPK) mahasiswa Jurusan Biologi IKIP Saraswati Tabanan tahun 2010 adalah: (a) IPK > 3.00 (sangat baik) sebanyak 10%; (b) 2.75 < IPK ≤ 3.00 (baik) sebanyak 20%; (c) 2.50 < IPK ≤ 2.75 (cukup) sebanyak 35%; (d) 2.25 < IPK ≤ 2.50 (kurang) sebanyak 30%; dan (e) 2.00 ≤ IPK ≤ 2.25 (sangat kurang) sebanyak 5%. Sedangkan rerata lama studi bagi mahasiswa adalah 4 tahun 6 bulan. Keadaan tersebut jika dibiarkan besar kemungkinan indek prestasi mahasiswa rendah dan waktu tamat lebih lama dari ketentuan. Dengan demikian berarti faktor pembelajaran perlu mendapat perhatian dari dosen, sehingga rerata indek prestasi mahasiswa bisa ditingkatkan serta dapat memperpendek waktu studi. Hal ini sesuai dengan pendapat Fachrurrazi (2010) bahwa pembelajar dituntut untuk menciptakan dan mengembangkan pembelajaran inovatif agar peserta didik dapat belajar lebih aktif untuk membangun pengetahuannya dengan berpedoman pada penggunaan pandangan kontruktivisme.
Pembelajaran adalah suatu proses dengan tahapan aktivitas yang terprogram sehingga pada diri pebelajar terjadi perubahan prilaku. Perubahan perilaku itu meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Pembelajaran konvensional adalah proses pembelajaran yang didominasi oleh pembelajar (teacher centered) dan berlangsung secara klasikal. Pebelajar hanya menerima apa yang disampaikan oleh pembelajar, aktivitas belajar pebelajar sangat kurang dan pembelajaran kurang bermakna karena pebelajar lebih banyak menghapal. Sedangkan pembelajaran inovatif merupakan pembelajaran yang berpusat pada pebelajar (student centered). Ada beberapa model pembelajaran inovatif diantaranya adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning), model pengajaran langsung (direct instruction), pengajaran berdasarkan masalah (problem based instruction) dan pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (Madiya, 2010; Trianto, 2007). Arends (2007), mengemukakan ada beberapa tipe pembelajaran kooperatif yaitu: Student Teams Achievement Division (STAD), Group Investigation, Jigsaw, Think-Pair-Share (TPS) dan Numbered Heads Together (NHT).
Pembelajaran dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan pembelajaran inovatif karena menggunakan pendekatan kooperatif, yaitu pembelajaran yang dilaksanakan secara tim (kelompok). Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan salah satu cara untuk mengintegrasikan pendidikan karakter, yang dewasa ini gencar dibicarakan. Melalui integrasi ini akan membrikan nilai positif pada diri pebelajar, seperti misalnya: (a) pebelajar diajak belajar untuk bekerja sama dalam kelompok dan diajar untuk bisa menghargai setiap perbedaan; (b) pebelajar dapat menumbuh-kembangkan kesadaran dan apresiasinya terhadap suatu aturan diskusi dalam kelompoknya; (c) pebelajar diajak untuk belajar menghormati hak dan kewajiban seseorang tanpa memaksakan kehendak sendiri sehingga pebelajar bisa belajar untuk menahan diri, tidak memonopoli waktu dan tidak arogan; (d) pebelajar diajak untuk memanfaatkan kelebihan masing-masing anggota, dan mengisi kekurangan masing-masing; (e) melatih pebelajar untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi, karena kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan di masyarakat. (f) membiasakan pebelajar untuk memecahkan masalah secara holistik dan sistemik sehingga tidak hanya memandang dari satu aspek saja.
Masalah yang dibahas dalam diskusi kelompok adalah masalah yang berkaitan dengan situasi dunia nyata atau isu-isu sosial dan teknologi yang ada di masyarakat, sehingga ada hubungan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya pembelajaran menjadi bermakna atau disebut juga pembelajaran kontekstual (Dzaki, 2009; Nurohman, 2008; Sumintono, 2008; Widyatiningtyas, 2008). Selama ini pembelajaran di Jurusan Biologi IKIP Saraswati Tabanan, sebagian besar masih menggunakan pembelajaran konvensional dengan metode ceramah, padahal materi kuliah Biologi sangat cocok bila diterapkan dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat, karena materi Biologi sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan teknologi yang ada di masyarakat. Penggunaan pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat kurang diminati karena: (a) kurang PAKEM (partisipasi, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan); (b) kurang ENASE (efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien); dan (c) kurang I2M3 (inspiratif, inovatif, menantang, menyenangkan, dan memotivasi).
Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat akan menjadi pembelajaran PAKEM, ENASE, dan I2M3 (Direktorat Pembinaan TK&SD, 2009), bila dikaitkan dengan kaidah-kaidah ergonomi. Ergonomi adalah ilmu, teknologi dan seni untuk menyerasikan alat, cara kerja dan lingkungan pada kemampuan, kebolehan dan batasan manusia sehingga diperoleh kondisi kerja dan lingkungan yang sehat, aman, nyaman dan efisien sehingga tercapai produktivitas yang setinggi-tingginya (Manuaba, 2003d; 2004a). Ergonomi sangat diperlukan di dalam suatu kegiatan yang melibatkan manusia di dalamnya dengan memperhitungkan kemampuan dan tuntutan tugas. Dengan ergonomi dapat ditekan dampak negatif pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena dengan ergonomi berbagai penyakit akibat kerja, kecelakaan, pencemaran, keracunan, ketidak-puasan kerja, kesalahan unsur manusia, bisa dihindari atau ditekan sekecil-kecilnya (Manuaba, 2003b).
Kombinasi antara tugas (task), organisasi (organization) dan lingkungan (environment) merupakan kondisi kerja yang harus diterima dalam proses belajar mengajar. Bila kombinasi antara tugas, organisasi dan lingkungan tersebut belum ergonomis maka dapat menimbulkan gangguan pada diri pebelajar sehingga kondisi belajar menjadi tidak sehat, tidak aman, tidak nyaman dan tidak efektif. Kapasitas pebelajar dalam menerima tugas dan lingkungan belajar yang tidak ergonomis berbeda-beda tergantung pada kemampuan, kebolehan dan keterbatasan masing-masing. Tubuh akan berusaha melakukan adaptasi terhadap perubahan tersebut. Bila tubuh tidak mampu beradaptasi maka akan menimbulkan gangguan kesehatan, seperti keluhan muskuloskeletal meningkat, kelelahan meningkat dan kebosanan meningkat. Penurunan kesehatan akan berpengaruh terhadap luaran proses belajar. Pendapat ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sutajaya (2006) bahwa pembelajaran melalui pendekatan SHIP dapat mengurangi keluhan muskuloskeletal sebesar 22,31%, kelelahan sebesar 33,11%, kebosanan sebesar 19,55%, luaran proses belajar dilihat dari interaksi mahasiswa selama kegiatan PBM meningkat sebesar 37,13%, motivasi, ketekunan dan kegairahan mahasiswa dalam mengikuti proses belajar mengajar meningkat sebesar 28,18%, partisipasi mahasiswa dalam proses belajar mengajar meningkat sebesar 26,51%, keberanian dan kemampuan mahasiswa mengemukakan pertanyaan atau pendapat meningkat sebesar 28,51%, hubungan antar mahasiswa dalam proses belajar mengajar meningkat sebesar 33,95%, dan efektivitas pemanfaatan waktu belajar meningkat sebesar 33,75%.
Dari hasil penelitian pendahuluan yang dilakukan di Jurusan Biologi IKIP Saraswati Tabanan, ditemukan bahwa pembelajaran dan sarana prasarana pembelajaran yang tidak mengacu kepada kaidah-kaidah ergonomi berpengaruh terhadap kualitas kesehatan mahasiswa seperti: (a) keluhan muskuloskletal meningkat sebesar 18,35% (p < 0,05); (b) kelelahan subjektif meningkat sebesar 15,81% (p < 0,05); dan (c) rerata kebosanan adalah sebesar 44,19 ± 2,994. Disamping itu kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap rerata luaran proses belajar mahasiswa adalah sebesar 24.12 ± 2,872 dan rerata prestasi belajar mahasiswa adalah sebesar 60,94 ± 5,836. Pembelajaran dan sarana prasarana pembelajaran yang tidak mengacu kepada kaidah-kaidah ergonomi ditemukan sebagai berikut.
Tinggi tempat duduk 40 cm, sedangkan tinggi popliteal pada posisi duduk (persentil 5) adalah 43,65 cm, dan tinggi meja belajar 80 cm, sedangkan tinggi siku pada posisi duduk (persentil 50) adalah 27 cm ditambah tinggi popliteal 43,65 cm, sehingga tinggi meja belajar seharusnya 70,65 cm, menyebabkan posisi bahu terangkat saat beraktivitas di atas meja. Permasalahan lainnya adalah tinggi tepi atas papan tulis 195 cm dan tinggi tepi atas layar LCD 210 cm. Seharusnya tinggi tepi atas papan tulis dan layar LCD adalah (tg 50 x 6,65) + tinggi mata posisi duduk persentil 5 (sebesar 113,50 cm) atau 58 + 113,50 cm = 171,5 cm. Dengan demikian penempatan papan tulis dan layar LCD tidak sesuai dengan antropometri pebelajar. Akibatnya, posisi kepala tengadah dalam jangka waktu relatif lama. Sikap kerja yang bertentangan dengan sikap alami tubuh, akan menimbulkan kelelahan dan cedera otot-otot. Dalam sikap yang tidak alamiah tersebut akan banyak terjadi gerakan otot yang tidak fisiologis sehingga boros energi. Hal itu akan menimbulkan strain dan cedera otot-otot skeletal (Adiputra, 2008b).
Penggunaan otot pada proses pembelajaran bersifat statis, karena proses tersebut bersifat teacher centered sehingga pembelajaran didominasi oleh dosen. Pada proses pembelajaran sebagian besar dosen (92,6%) masih menggunakan metode ceramah. Mahasiswa duduk statis dalam jangka waktu lama, aktivitas bersifat monoton dan tidak disertai dengan istirahat aktif. Kontraksi otot statis (isometrik) dalam waktu relatif lama menyebabkan sirkulasi darah tidak optimal, sehingga mengurangi asupan oksigen dan zat makanan. Dengan demikian asupan energi berkurang sehingga mempercepat timbulnya kelelahan. Disamping itu akumulasi asam laktat merangsang reseptor rasa nyeri sehingga dirasakan sebagai keluhan muskuloskeletal. Dengan demikian kerja otot statis mempercepat timbulnya kelelahan dan keluhan muskuloskeletal (Guyton dan Hall, 2000).
Aspek lingkungan kerja sangat menentukan prestasi kerja seseorang. Lingkungan yang tidak kondusif di tempat kerja, akan memberikan beban tambahan bagi tubuh, padahal tubuh sedang melaksanakan beban utama yaitu aktivitas yang sedang dilaksanakan. Demikian juga lingkungan dingin, kelembaban relatif, penipisan kadar oksigen, adanya zat pencemar dalam udara juga akan mempengaruhi penampilan kerja. Permasalahan yang dijumpai di ruang belajar jurusan Biologi IKIP Saraswati Tabanan adalah intensitas pencahayaan hanya 200 lux. Padahal Grandjean dan Kroemer (2000) mempersyaratkan 350–700 lux untuk kegiatan membaca dan menulis. Kondisi tersebut diprediksi dapat menimbulkan kelelahan mata pebelajar. Disamping itu Adiputra (2008b) menyatakan bahwa penerangan di tempat kerja, adanya kebisingan, lingkungan kimia, biologi dan lingkungan sosial di tempat kerja berpengaruh terhadap prestasi dan produktivitas kerja.
Kondisi waktu perlu diperhatikan agar pada diri mahasiswa tidak terjadi kelelahan yang berlebihan, dan perlu penyesuaian antara lama pembelajaran dengan jumlah waktu istirahat. Permasalahan yang dijumpai terkait dengan kondisi waktu adalah belum diterapkan istirahat aktif, sehingga mahasiswa duduk dalam jangka waktu lama saat beraktivitas. Pembelajaran dengan pendekatan ergonomi menekankan agar kerja otot lebih dinamis dan lebih bervariasi sehingga mahasiswa dapat melakukan istirahat aktif, karena istirahat aktif dapat mempercepat waktu pemulihan (Husein, 2007).
Permasalahan yang berkaitan dengan kondisi informasi adalah tidak adanya papan kerja yang berfungsi sebagai tempat untuk menempel informasi hasil kerja mahasiswa. Demikian pula informasi yang disampaikan dalam bentuk media pembelajaran oleh dosen ke mahasiswa belum memenuhi kaidah-kaidah ergonomi, seperti ukuran huruf dan penempatannya. Penggunaan huruf di papan tulis ukurannya tidak beraturan dan tidak konsisten atau tidak sesuai dengan rumus huruf yang ergonomis. Rumus huruf yang ergonomis adalah tinggi huruf (dalam mm) = jarak baca (dalam mm) dibagi 200 (Grandjean dan Kroemer, 2000). Jarak baca dari mahasiswa yang duduk paling belakang dengan papan tulis adalah 6 meter. Ukuran huruf yang tertulis di papan tulis dengan ukuran tertinggi 4,5 cm dan ukuran terrendah 2 cm. Dari data tersebut, jika dihitung dengan rumus maka tinggi huruf seharusnya 3 cm. Demikian pula tinggi tepi atas papan tulis 195 cm, seharusnya 171,5 cm, sehingga tulisan di papan tulis penempatannya tidak sesuai dengan tinggi mata pada posisi duduk (persentil 5). Bila kondisi ini dibiarkan maka akan terjadi kelelahan dan kebosanan pada diri mahasiswa (Pardede, 2008)
Permasalahan yang berkaitan dengan kondisi sosial budaya adalah belum diterapkannya pemberian penghargaan dan hukuman oleh dosen. Dalam rangka untuk membina dan meningkatkan motivasi kerja mahasiswa dalam melaksanakan tugas-tugasnya, ternyata kondisi sosial seperti pemberian penghargaan bagi yang berhasil dan hukuman bagi yang salah belum dilakukan oleh dosen, karena orientasinya hanya hasil pembelajaran. Kondisi sosial seharusnya banyak dimanfaatkan oleh pimpinan tempat kerja untuk membina dan membangkitkan motivasi kerja, seperti sistem penghargaan bagi yang berhasil dan hukuman bagi yang salah dan lalai bekerja (Adiputra, 2008b).
Agar keluhan otot, kelelahan dan kebosanan dapat diminalkan maka tugas (task), organisasi (organization) dan lingkungan (environment) perlu diserasikan dengan kemampuan, kebolehan dan keterbatasan mahasiswa sehingga terwujud pembelajaran yang lebih manusiawi. Berdasarkan masalah yang dipertimbangkan dengan aspek-aspek ergonomi tersebut di atas maka perlu perbaikan pembelajaran dengan memperhatikan sklala prioritas, seperti: (a) intensitas pencahayaan diupayakan antara 350–700 lux; (b) memperbaiki stasiun kerja dengan menyesuaikan meja dan kursi belajar dengan antropometrik mahasiswa; (c) memperbaiki penempatan papan tulis dan tinggi layar LCD yang disesuaikan dengan tinggi mata mahasiswa yang duduk paling belakang, sehingga gerakan kepala tetap berada pada rentangan 5o di atas bidang horizontal dan 30o di bawah bidang horizontal; (d) penambahan papan kerja dan penempatannya disesuaikan dengan tinggi mata mahasiswa pada posisi berdiri; (e) memperbaiki media pembelajaran khususnya media power point sehingga mengikuti kaidah-kaidah ergonomi; dan (f) memperbaiki teknik pembelajaran melalui pembelajaran bioteknologi dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi. Sehingga melalui perbaikan ini diharapkan dapat meningkatkan kesehatan, luaran proses belajar dan hasil belajar mahasiswa Jurusan Biologi IKIP Saraswati Tabanan.
1.2 Rumusan Masalah
Pada penelitian ini dikaji beberapa permasalahan mengenai pembelajaran bioteknologi dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi, yang dikaitkan dengan kesehatan dengan indikator berupa keluhan muskuloskeletal, kelelahan dan kebosanan serta luaran proses belajar dan prestasi belajar mahasiswa. Dengan demikian dapat diuraikan rumusan masalah sebagai berikut.
1. Apakah pembelajaran bioteknologi dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi dapat meningkatkan kesehatan dilihat dari penurunan keluhan muskuloskeletal mahasiswa?
2. Apakah pembelajaran bioteknologi dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi dapat meningkatkan kesehatan dilihat dari penurunan kelelahan mahasiswa?
3. Apakah pembelajaran bioteknologi dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi dapat meningkatkan kesehatan dilihat dari penurunan kebosanan mahasiswa?
4. Apakah pembelajaran bioteknologi dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi dapat meningkatkan luaran proses belajar mahasiswa?
5. Apakah pembelajaran bioteknologi dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui aplikasi pembelajaran bioteknologi dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi dalam upaya menyerasikan alat, cara kerja dan lingkungan pada kemampuan, kebolehan dan keterbatasan mahasiswa, sehingga diperoleh kondisi kerja dan lingkungan yang sehat, aman, nyaman dan efisien dan akhirnya tercapai peningkatan kesehatan mahasiswa yang dinilai dari pengurangan keluhan muskuloskletal, kelelahan dan kebosanan. Serta peningkatan luaran proses belajar dan hasil belajar mahasiswa.
1.3.2 Tujuan khusus
Tujuan khusus penelitian mengenai pembelajaran bioteknologi dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbais ergonomi, yang dikaitkan dengan kesehatan dengan indikator berupa keluhan muskuloskeletal, kelelahan dan kebosanan serta luaran proses belajar dan hasil belajar mahasiswa, sebagai berikut.
1. Mengetahui pembelajaran bioteknologi dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi dapat meningkatkan kesehatan dilihat dari penurunan keluhan muskuloskeletal mahasiswa.
2. Mengetahui pembelajaran bioteknologi dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi dapat meningkatkan kesehatan dilihat dari penurunan kelelahan mahasiswa.
3. Mengetahui pembelajaran bioteknologi dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi dapat meningkatkan kesehatan dilihat dari penurunan kebosanan mahasiswa.
4. Mengetahui pembelajaran bioteknologi dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi dapat meningkatkan luaran proses belajar mahasiswa.
5. Mengetahui pembelajaran bioteknologi dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa.

BILA INGIN LANJUTANNYA TULISAN INI HUBUNGI EMAIL: gustimadeoka@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: