ERGONOMI DALAM TAKSONOMI BLOOM Oleh : Dra. Ni Komang Dewi Murniati

 

ERGONOMI DALAM TAKSONOMI BLOOM

Oleh:

Dra. Ni Komang Dewi Murniati

 

Pada tahun 1950-an Benyamin Bloom memimpin suatu tim yang terdiri atas para ahli psikologi dalam menganalisis perilaku belajar akademik. Hasil pekerjaan tim ini dikenal dengan taksonomi Bloom. Taksonomi Bloom menggolongkan tiga kategori perilaku belajar yang berkaitan dan saling melengkapi (overlapping). Ketiga kategori ini disebut ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

 

RANAH KOGNITIF

Bloom menggolongkan enam tingkatan pada ranah kognitif dari pengetahuan sederhana atau penyadaran terhadap fakta-fakta sebagai tingkatan paling rendah ke penilaian (evaluasi) yang lebih kompleks dan abstrak sebagai tingkatan yang paling tinggi. Berikut adalah tingkatan yang dimaksud:

  • 1. PENGETAHUAN, didefinisikan sebagai ingatan terhadap hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya. Kemampuan ini merupakan kemampuan awal meliputi kemampuan mengetahui sekaligus menyampaikan ingatan bila diperlukan. Hal ini termasuk mengingat bahan-bahan, benda, fakta, gejala, dan teori. Hasil dari pengetahuan merupakan tingkatan rendah. Contoh kata kerja: meniru, menyebutkan, menghafal, mengulang, mengenali, menamakan atau memberi label, mendaftar, mengurutkan, menyadari, menyusun, mengaitkan, dan mereproduksi.
  • 2. PEMAHAMAN, didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami materi/bahan. Proses pemahaman terjadi karena adanya kemampuan menjabarkan suatu materi/bahan ke materi/bahan lain. Seseorang yang mampu memahami sesuatu antara lain dapat menjelaskan narasi (pernyataan kosakata) ke dalam angka, dapat menafsirkan sesuatu melalui pernyataan dengan kalimat sendiri atau dengan rangkuman. Pemahaman juga dapat ditunjukkan dengan kemampuan memperkirakan kecenderungan, kemampuan meramalkan akibat-akibat dari berbagai penyebab suatu gejala. Hasil belajar dari pemahaman lebih maju dari ingatan sederhana, hafalan, atau pengetahuan tingkat rendah.
  • 3. PENERAPAN, merupakan kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari dan dipahami ke dalam situasi konkret, nyata, atau baru. Kemampuan ini mencakup penggunaan pengetahuan, aturan, rumus, konsep, prinsip, hukum, dan teori. Hasil belajar untuk kemampuan menerapkan ini tingkatannya lebih tinggi dari pemahaman. Contoh: menerapkan, menggunakan, memilih, menentukan, mendemonstrasikan, mendramatisi, mengajukan permohonan, menafsirkan, mempraktikkan, menjadwalkan, mensketsa, mencari jawaban, dan menulis.
  • 4. ANALISIS, merupakan kemampuan untuk menguraikan materi ke dalam bagian-bagian atau komponen-komponen yang lebih terstruktur dan mudah dimengerti. Kemampuan menganalisis termasuk mengidentifikasi bagian-bagian, menganalisis kaitan antarbagian, serta mengenali atau mengemukakan organisasi dan hubungan antarbagian tersebut. Hasil belajar analisis merupakan tingkatan kognitif yang lebih tinggi dari kemampuan memahami dan menerapkan, karena untuk memiliki kemampuan menganalisis, seseorang harus mampu memahami isi/substansi sekaligus struktur organisasinya.
    Contoh kata kerja: membedakan, membandingkan, mengolah, menanganalisis, memberi harga/nilai, menilai, mengategorikan, mengontraskan, mendiversifikasi, mengkritik, mengunggulkan, melakukan pengujian, melakukan percobaan, mempertanyakan, dan mengetes.
  • 5. SINTESIS, merupakan kemampuan untuk mengumpulkan bagian-bagian menjadi suatu bentuk yang utuh dan menyeluruh. Kemampuan ini meliputi memproduksi bentuk komunikasi yang unik dari segi tema dan cara mengomunikasikannya, mengajukan proposal penelitian, membuat model atau pola yang mencerminkan struktur yang utuh dan menyeluruh dari keterkaitan pengertian atau informasi abstrak. Hasil belajar sintesis menekankan pada perilaku kreatif dengan mengutamakan perumusan pola atau struktur yang baru dan unik.
    Contoh kata kerja: menyiapkan, menyusun, mengoleksi, menulis, mengubah, mengkonstruksi, menciptakan, merancang, mendesain, merumuskan, membangun, mengelola, mengorganisasikan, merencanakan, mengajukan proposal, membentuk, membuat pola/model, dan menulis.
  • 6. PENILAIAN, merupakan kemampuan untuk memperkirakan dan menguji nilai suatu materi (pernyataan, novel, puisi, laporan penelitian) untuk tujuan tertentu. Penilaian didasari dengan kriteria yang terdefinisikan. Kriteria terdefinisi ini mencakup kriteria internal (organisasi) ata kriteria eksternal (terkait dengan tujuan) yang telah ditentukan. Peserta didik dapat menentukan kriteria sendiri atau memperoleh kriteria dari nara sumber. Hasil belajar penilaian merupakan tingkatan kognitif paling tinggi sebab berisi unsur-unsur dari semua kategori, termasuk kesadaran untuk melakukan pengujian yang sarat nilai dan kejelasan kriteria. Contoh kata kerja: menghargai, menyanggah, menilai, menguji, mengintegrasikan, mempertahankan, meramalkan, mendukung, memilih, dan mengevaluasi.

 

RANAH AFEKTIF

Taksonomi Krathwohl dalam ranah afektif adalah yang paling populer dan banyak digunakan. Krathwohl mengurutkan ranah afektif berdasarkan penghayatan. Penghayatan tersebut berhubungan dengan proses ketika perasaan seseorang beralih dari kesadaran umum ke penghayatan yang mengatur perilakunya secara konsisten terhadap sesuatu. Berikut urutan ranah yang dimaksud oleh Krathwohl:

  • 1. PENERIMAAN, merupakan kesadaran atau kepekaan yang disertai keinginan untuk menenggang atau bertoleransi terhadap suatu gagasan, benda, atau gejala. Hasil belajar penerimaan merupakan pemilikan kemampuan untuk membedakan dan menerima perbedaan.Contoh: menunjukkan penerimaan dengan mengiyakan, mendengarkan, dan menanggapi sesuatu.
  • 2. PENANGGAPAN, merupakan kemampuan memberikan tanggapan atau respon terhadap suatu gagasan, benda, bahan, atau gejala tertentu.
    Hasil belajar penanggapan merupakan suatu komitmen untuk berperan serta berdasarkan penerimaan. Contoh: mematuhi, menuruti, tunduk, mengikuti, mengomentari, bertindak sukarela, mengisi waktu senggang, atau menyambut.
  • 3. PERHITUNGAN ATAU PENILAIAN, merupakan kemampuan memberi penilaian atau perhitungan terhadap gagasan, bahan, benda, atau gejala. Hasil belajar perhitungan atau penilaian merupakan keinginan untuk diterima, diperhitungkan, dan dinilai orang lain. Contoh: meningkatkan kelancaran berbahasa atau dalam berinteraksi, menyerahkan, melepaskan sesuatu, membantu, menyumbang, mendukung, dan mendebat.
  • 4. PENGATURAN ATAU PENGELOLAAN, merupakan kemampuan mengatur atau mengelola berhubungan dengan tindakan penilaian dan perhitungan yang telah dimiliki. Hasil belajarnya merupakan kemampuan mengatur dan mengelola sesuatu secara harmonis dan konsisten berdasarkan pemilikan filosofi yang dihayati Contoh: mendiskusikan, menteorikan, merumuskan, membangun opini, menyeimbangkan, dan menguji.
  • 5. BERMUATAN NILAI, merupakan tindakan puncak dalam perwujudan perilaku seseorang yang secara konsisten sejalan dengan nilai atau seperangkat nilai-nilai yang dihayatinya secara mendalam. Hasil belajarnya merupakan perilaku seimbang, harmonis, dan bertanggung jawab dengan standar niali yang tinggi. Contoh: memperbaiki, membutuhkan, menempatkan pada standar yang tinggi, mencegah, berani menolak, mengelola, dan mencari penyelesaian dari suatu masalah.

 

 

RANAH PSIKOMOTOR

Anita Harrow mengelola taksonomi ranah psikomotor menurut derajat koordinasi yang meliputi koordinasi ketaksengajaan dan kemampuan yang dilatihkan. Taksonomi ini dimulai dengan refleks yang sederhana pada tingkatan rendah ke gerakan saraf otot yang lebih kompleks pada tingkatan tertinggi. Hierarki ranah psikomotor yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • 1. GERAKAN REFLEKS, merupakan tindakan yang ditunjukkan tanpa belajar dalam menanggapi stimulus. Contoh: merentangkan, memperluas, melenturkan, meregangkan, dan menyesuaikan postur tubuh dengan keadaan.
  • 2. GERAKAN DASAR, merupakan pola gerakan yang diwarisi yang berbentuk berdasarkan campuran gerakan refleks dan gerakan yang lebih kompleks. Hasil belajarnya sesuai dengan contoh berikut. Contoh kata kerja: berlari, berjalan, mendorong, menelikung, menggenggam, mencengkram, mencekal, merengut, menyambar, memegang, merebut, menggunakan, atau memanipulasi.
  • 3. GERAKAN TANGGAP (PERCEPTUAL), merupakan penafsiran terhadap segala rangsang yang membuat seseorang mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Hasil belajarnya merupakan kewaspadaan berdasarkan perhitungan dan kecermatan. Contoh: waspada (awas), kecermatan melihat, mendengar dan bergerak, atau ketajaman dalam melihat perbedaan, misalnya pada gerakan terkoordinasi, seperti meloncat, bermain tali, menangkap, menyepak, dan mengalah.
  • 4. KEGIATAN FISIK, merupakan kegiatan yang memerlukan kekuatan otot, kekuatan mental, ketahanan, kecerdasan, kegesitan, dan kekuatan suara. Hasil belajarnya sesuai dengan contoh berikut. Contoh: semua kegiatan fisik yang memerlukan usaha dalam jangka panjang dan berat, pengerahan otot, gerakan sendi yang cepat, serta gerakan yang cepat dan tepat.
  • 5. KOMUNIKASI TIDAK BERWACANA, merupakan komunikasi melalui gerakan tubuh. Gerakan tubuh ini merentang dari ekspresi mimik muka sampai dengan gerakan koreografi yang rumit.

 

 

 

Kesehatan Mahasiswa dan Kaitannya dengan Aktivitas dan Hasil Belajar Oleh : Dr. I Gusti Made Oka Suprapta

ERGONOMI

Kesehatan Mahasiswa dan Kaitannya dengan Aktivitas dan Hasil Belajar

Oleh:

Dr. I Gusti Made Oka Suprapta

 

Keluhan muskuloskeletal yang terjadi pada organ tertentu dapat ditelusuri dengan menggunakan Nordic Body Map yang pada dasarnya dibuat dengan ketentuan kelompok otot yang ada pada organ tersebut. Para ahli melaporkan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan di tempat kerja yang tidak ergonomik dapat menimbulkan keluhan pada otot dan persendian. Dalam hal ini proses pembelajaran yang didominasi oleh aktivitas mental juga berpeluang memunculkan keluhan muskuloskeletal, konsekuensinya luaran proses belajar akan menurun (Sutajaya, 2006). Sistem muskuloskletal sering juga disebut sistem otot rangka atau otot yang melekat pada tulang yang terdiri dari otot-otot striata yang bersifat voluntir. Fungsi otot rangka adalah: (a) menyelenggarakan pergerakan yaitu menggerakkan bagian-bagian tubuh; (b) mempertahankan sikap tertentu, karena adanya kontraksi otot secara lokal yang memungkinkan kita mengambil sikap berdiri, duduk, jongkok, dan sikap-sikap lainnya; dan (c) menghasilkan panas karena adanya proses-proses kimia dalam otot yang dapat digunakan untuk mempertahankan suhu tubuh. Sikap kerja yang tidak alamiah menimbulkan kerja otot statis pada sejumlah besar sistem otot tubuh manusia dan kerja otot statis merupakan kerja berat. Jika dibandingkan dengan kerja otot dinamis maka kerja otot statis dapat mengakibatkan: konsumsi energi lebih tinggi, denyut nadi meningkat, cepat merasa lelah, dan setelah bekerja, otot memerlukan waktu pemulihan lebih lama sehingga memerlukan waktu istirahat lebih lama (Kroemer dan Grandjean, 2000). Keluhan muskuloskletal terjadi pada sistem muskuloskeletal yang meliputi: (a) tulang-tulang yang merupakan struktur penyangga tulang; (b) jaringan otot yang berkontraksi sehingga menimbulkan gerakan; (c) tendo yang merupakan jaringan penghubung otot dengan tulang; (d) ligamem yang merupakan jaringan penghubung tulang dengan tulang; (e) kartilago (tulang rawan) yang berfungsi sebagai bantalan sendi; dan (f) pembuluh darah yang berfungsi sebagai organ transportasi nutrisi ke seluruh jaringan tubuh melalui darah dan ke organ pembuangan (Susila, 2002).

Kelelahan sebagai parameter kualitas kesehatan secara umum merupakan suatu keadaan yang tercermin dari gejala perubahan psikologis berupa kelambanan aktivitas motoris dan respirasi, adanya perasaan sakit, berat pada bola mata, pelemahan motivasi, aktivitas dan fisik lainnya yang akan mempengaruhi aktivitas fisik maupun mental (Kroemer dan Grandjean, 2000). Kelelahan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kelelahan secara umum dan kelelahan otot. Kelelahan umum merupakan gejala-gejala terhadap adanya perubahan psikofisiologis berupa kelambanan aktivitas motoris, respirasi, perasaan sakit, berat pada bola mata sehingga mempengaruhi kerja fisik maupun intelektual. Sedangkan Kelelahan otot dirasakan karena kemampuan otot berkontraksi berkurang, ditandai dengan diperlukannya waktu tenggang yang cukup lama dan tenaga untuk menggerakkan otot berikutnya. Juga dirasakan sebagai fenomena rasa sakit oleh adanya tekanan pada otot, akan tetapi sifatnya lokal. Dari pandangan ini dapat diartikan bahwa faktor fisiologis dan psikologis merupakan satu kesatuan yang saling berpengaruh di dalam bekerja yang dapat menimbulkan suatu kelelahan. Proses pembelajaran tidak bisa terlepas dari beban belajar karena dalam proses pembelajaran diperlukan aktivitas fisik dan mental yang secara terpadu dapat diekspresikan melalui kelelahan yang ditandai dengan adanya perubahan frekuensi denyut nadi. Walaupun diprediksi bahwa perubahan frekuensi denyut nadi pada proses pembelajaran relatif kecil akan tetapi perlu dikaji keterkaitannya dengan kelelahan. Munculnya kelelahan dini sebagai ekspresi beban belajar menunjukkan bahwa proses pembelajaran memerlukan energi yang relatif banyak apalagi kalau disertai dengan kondisi lingkungan yang tidak memadai yang membuat energi terkuras untuk mengatasinya (Sutajaya, 2006). Kelelahan merupakan suatu mekanisme perlindungan tubuh agar terhindar dari kerusakan lebih lanjut atau dapat dikatakan sebagai alarm tubuh yang mengisyaratkan seseorang untuk segera beristirahat. Mekanisme kelelahan diatur oleh sistem saraf pusat yang dapat mempercepat impuls yang terjadi di sistem aktivasi oleh sistem saraf simpatis dan memperlambat impuls yang terjadi di sistem inhibisi oleh saraf parasimpatis. Menurunnya kemampuan dan ketahanan tubuh akan mengakibatkan menurunnya efisiensi dan kapasitas kerja. Kroemer dan Grandjean (2000) menyatakan bahwa kelelahan yang berlanjut dapat menyebabkan kelelahan kronis dengan gejala sebagai berikut. (a) terjadi penurunan kesetabilan fisik; (b) kebugaran berkurang; (c) gerakan lamban dan cenderung diam; (d) malas bekerja atau beraktivitas; (e) adanya rasa sakit yang semakin meningkat. Jika ini terjadi dalam proses pembelajaran tentu akan berdampak buruk terhadap luaran proses belajar. Dengan adanya istirahat aktif pada pembelajaran dengan pendekatan ergonomi maka kelelahan dapat diturunkan. Untuk mengatasi kelelahan otot pada proses pembelajaran, dapat dilakukan dengan jalan istirahat aktif. Hal ini akan dapat mengurangi timbunan asam laktat sehingga terjadi upaya pemulihan (recovery) otot skeletal. Nala (2002) menyatakan bahwa proses pemulihan berusaha untuk mengembalikan kondisi tubuh ke keadaan semula. Di sini diupayakan agar darah yang terkumpul di otot skeletal secepatnya bisa ditarik ke peredaran sentral. Selain itu berfungsi pula untuk membersihkan darah dari sisa hasil metabolisme berupa tumpukan asam laktat yang berada di dalam otot dan darah. Asam laktat ini yang merupakan limbah hasil metabolisme sel otot sebagian besar (65%) akan didaur ulang dengan cara oksidasi (sistem aerobik) menjadi karbondioksida dan air. Sisanya diubah menjadi glikogen hati dan darah (20%) serta protein (15%) yang dapat dimanfaatkan kembali untuk menjadi energi. Itu bisa terjadi melalui proses pemulihan, yang salah satunya adalah dengan cara melakukan berbagai gerakan aktif yang ringan seperti misalnya mahasiswa berjalan menuju ke papan kerja. Tata ruang kelas yang kurang nyaman, pencahayaan kurang memadai, tinggi kursi tidak sesuai dengan antropometri, jarak papan dengan mahasiswa terlalu dekat/terlalu jauh, display yang tidak jelas, dan waktu belajar terlalu lama akan memperparah kelelahan tersebut. Kelelahan yang dialami oleh mahasiswa adalah kelelahan fisik dan kelelahan mental. Kelelahan fisik dapat di tes dengan menggunakan kuesioner kelelahan secara umum dengan skala likert. Kuesioner skala likert mempunyai tingkat jawaban dari sangat positif sampai negatif.

Kebosanan (boredom) disebut sebagai kelelahan mental karena merupakan ungkapan perasaan yang tidak enak secara umum, seperti kurang menyenangkan, perasaan resah dan lelah yang menguras seluruh minat dan tenaga (Anoraga, 2006). Kebosanan umumnya menyertai mahasiswa yang memiliki motivasi kurang dalam proses pembelajaran. Di sisi lain pengajar yang kurang mampu mengelola kelas secara efektif dan efisien juga dapat bertindak sebagai pemicu munculnya kebosanan (Marjohan, 2010). Jika suatu aktivitas yang dilakukan dalam suasana membosankan akan mengakibatkan: (a) munculnya kelelahan lebih dini; (b) munculnya keinginan untuk menunda atau menghindari pekerjaan tersebut; (c) muncul perasaan gelisah, bingung, cemas, tertekan, dan kehilangan semangat; (d) kinerja menurun, kepuasan kerja rendah; (e) kehilangan spontanitas dan kreatifitas; dan (f) berkurangnya konsentrasi, tidak bisa berfikir jernih, dan sulit membuat keputusan (Azzaniar, 2010).

Menyimak pendapat tersebut berarti pada proses pembelajaran yang melibatkan mental dan fisik mahasiswa tentunya harus diupayakan agar tidak berada dalam suasana yang membosankan.

 


 

Kaidah ergonomi dalam menentukan mikroklimat di ruang kuliah Oleh : Dr. I Gusti Made Oka Suprapta

ERGONOMI

Kaidah ergonomi dalam menentukan mikroklimat di ruang kuliah

Oleh:

Dr. I Gusti Made Oka Suprapta

 

Mikroklimat di ruang kuliah ditentukan oleh suhu udara, suhu permukaan (suhu di atas meja, jendela, dinding, lantai dan lain-lain), kelembaban udara, gerakan udara, dan kualitas udara. Suhu yang dirasakan seseorang merupakan rerata dari suhu udara dan suhu permukaan. Untuk rasa nyaman, perbedaan suhu udara dan suhu permukaan hendaknya sekecil mungkin. Oleh karena itu, diambil patokan agar perbedaan rerata suhu permukaan hendaknya tidak lebih dari 2 – 3o C di atas atau di bawah suhu udara, sedangkan perbedaan suhu antara di dalam dan di luar ruangan, tidak lebih dari 4o C. Jika melebihi batas tersebut, hendaknya dibuat ruang antara untuk proses adaptasi terhadap perbedaan suhu tersebut (Manuaba, 2004 b).

    Suhu udara di satu ruangan, hendaknya antara 20 – 24o C pada musim dingin dan antara 23 – 26o C di musim panas (Helander & Shuan, 2005), sedangkan kelembaban relatif di satu ruangan tidak boleh kurang dari 30% atau antara 40 – 60% di musim panas, merupakan kelembaban relatif yang memberi suasana nyaman di ruangan tersebut. Suhu nyaman untuk daerah tropis adalah antara 22 s.d. 28o C dengan kelembaban relatif antara 70 s.d. 80% (Manuaba, 2004 b).

    Gerakan udara di satu ruangan memberi pengaruh kepada suhu yang dirasakan seseorang. Agar gerakan udara tersebut tidak menimbulkan dampak yang tidak diinginkan, dianjurkan agar gerakan udara di dalam ruangan tidak lebih dari 0,2 m/ detik (Manuaba, 2004 b ).

    Seandainya mikroklimat di ruang belajar tidak diperhatikan, sehingga ruang tersebut menjadi panas, akan timbul respon fisiologis sebagai berikut. (a) rasa lelah yang diikuti dengan hilangnya efisiensi kerja mental dan fisik meningkat; (b) denyut jantung meningkat; (c) tekanan darah meningkat; (d) aktivitas alat pencernaan menurun; (e) Suhu inti tubuh meningkat; (f) aliran darah ke kulit juga meningkat; dan (g) produksi keringat meningkat (Tarwaka, dkk., 2004).

Melihat dampak negatif yang ditimbulkan oleh suhu ruangan yang panas, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk mendesain ruang kuliah yang mengacu kepada kaidah-kaidah ergonomi, demi tercapainya produktivitas belajar yang setinggi-tingginya. Dengan demikian, berarti energi yang dikeluarkan sepenuhnya untuk kegiatan belajar dan tidak ada energi yang terbuang untuk mengatasi kondisi ruangan yang tidak nyaman. Pengetahuan tentang mikroklimat di ruang kuliah dapat dimanfaatkan sebagai acuan di dalam mendesain ruang kulih yang nyaman dan tidak menimbulkan respon fisiologis yang tidak diinginkan.

Kaidah ergonomi dalam mendesain pencahayaan (lighting) Oleh : Dr. I Gusti Made Oka Suprapta

ERGONOMI

Kaidah ergonomi dalam mendesain pencahayaan (lighting)

Oleh:

Dr. I Gusti Made Oka Suprapta

 

 

    Pencahayaan yang baik sangat penting, agar pekerjaan dapat dilakukan dengan benar dan dalam situasi nyaman. Di samping itu pada saat melakukan aktivitas dapat melihat objek dengan jelas dan cepat, sehingga tidak melelahkan otot-otot mata. Prinsip pencahayaan yang baik adalah sebagai berikut: (Kroemer dan Grandjean, 2000), (a) Jumlah atau intensitas pencahayaan yang diperlukan hendaknya disesuaikan dengan jenis pekerjaan, tajam penglihatan seseorang dan lingkungannya; (b) Untuk kegiatan belajar (membaca dan menulis) diperlukan intensitas pencahayaan sebesar 350–700 lux; dan (c) diupayakan agar mendapatkan penampilan penglihatan sebesar 100%.

Kaidah ergonomi dalam membuat huruf di papan tulis dan pembuatan power point Oleh:Dr. I Gusti Made Oka Suprapta

ERGONOMI

Kaidah ergonomi dalam membuat huruf di papan tulis dan pembuatan power point

Oleh:

Dr. I Gusti Made Oka Suprapta

 

    Ukuran dan warna huruf yang nyaman dibaca, hendaknya mengikuti aturan sebagai berikut. (a) Tinggi huruf (dalam mm) = jarak baca (dalam mm) dibagi 200; (b) Lebar huruf = 2/3 x tinggi huruf; (c) Tebal huruf = 1/6 x tinggi huruf; (d) Jarak antara 2 huruf = 1/5 x tinggi huruf; (e) Jarak antara 2 kata    = 2/3 x tinggi huruf; (f) Jarak antara 2 baris kalimat = 1 x tinggi huruf; (g) Jika warna hurufnya hitam maka latar belakangnya putih, kuning atau oranye muda; (h) Jika warna hurufnya biru tua atau hijau tua maka latar belakangnya putih (Kroemer dan Grandjean, 2000).


Beberapa kaidah ergonomi dalam merancang slide power point dalam pembelajaran. Dalam merancang presentasi dengan menggunakan slide power point, ada beberapa kaidah estetika dan ergonomis yang perlu diperhatikan di antaranya seperti: (1) Tata cara pembuatan judul slide power point yaitu sebagai berikut. (a) judul slide power point ringkas, dan tata letaknya pas, (b) jumlah kata 2-5 dan buat sub judul dibawahnya jika terlalu panjang, (c) besar huruf 20-28 font; (2) Tata cara pembuatan isi slide power point yaitu sebagai berikut. (a) Isi slide sederhana, bahan tidak seluruhnya dituangkan dalam slide. Satu halaman presentasi hanya mengandung satu jenis informasi atau idea, serta susunlah materi yang hendak disampaikan secara sistematik (runut), agar alur pesan dapat dicerna secara lancar. Bila menggunakan singkatan, gunakanlah yang populer. (b) Dalam satu baris gunakan 3-5 kata dan jumlah baris kalimat tidak lebih dari 9 baris, maksudnya agar tidak terkesan ruet atau tidak mengakibatkan keengganan mahasiswa untuk membaca tulisan tersebut. (c) Konsisten dalam menggunakan ukuran huruf dalam satu halaman slide, ukuran hurufnya adalah 18-24 font. (d) Konsisten dalam pengaturan warna, bila menggunakan huruf hitam maka warna dasarnya putih dan bila menggunakan huruf putih maka warna dasarnya biru tua. Penggunaan huruf yang terlalu banyak warna warni akan dapat menimbulkan kelelahan mata mahasiswa (Adri, 2008; Pardede, 2008; Hartati, 2009; Said, 2009).

 

Ditulis dalam Uncategorized. 1 Comment »

Kaidah ergonomi dalam penempatan papan tulis,layar LCD dan papan kerja oleh Dr. I Gusti Made Oka Suprapta

ERGONOMI:

Kaidah ergonomi dalam penempatan papan tulis,

layar LCD dan papan kerja

oleh

Dr. I Gusti Made Oka Suprapta

 

Penempatan papan tulis dan layar LCD yang digunakan sebagai sarana pembelajaran, tidak mengacu kepada kaidah-kaidah ergonomi, karena tinggi tepi atas papan tulis 195 cm dan tinggi tepi atas layar LCD 210 cm. Seharusnya tinggi tepi atas papan tulis dan layar LCD adalah (tg 50 x 6,65) + tinggi mata posisi duduk persentil 5 (sebesar 111 cm) atau 58 + 111 cm = 169 cm. Bila hal ini dibiarkan maka dapat memunculkan gangguan fisiologis berupa rasa sakit atau lelah pada otot-otot mata dan otot-otot leher mahasiswa saat membaca tulisan di papan tulis atau layar LCD. Kroemer dan Grandjean (2000) menganjurkan agar rotasi mata saat melihat suatu objek, tidak lebih dari 5o di atas bidang horizontal
dan 30o di bawah bidang horizontal. Itu berarti penempatan papan tulis hendaknya memperhitungkan mahasiswa yang duduk paling depan dan paling belakang, sehingga rotasi mata mereka tetap berada pada rentangan tersebut di atas. Untuk itu tinggi papan tulis dan layar LCD harus mengacu kepada tinggi mata mahasiswa dalam posisi duduk yaitu (tg 50 x 6,65) + tinggi mata posisi duduk persentil 5. Persyaratan lainnya adalah: (a) bahannya tidak mengkilat; (b) warna terang; (c) lebarnya disesuaikan dengan orientasi maksimum mata pada sudut 5o di atas bidang horizontal dan 30o di bawah bidang horizontal (Kroemer dan Grandjean, 2000).

    Ketentuan yang harus diperhatikan dalam penempatan papan kerja adalah mengacu pada tinggi mata dalam posisi berdiri. Cara mengukurnya adalah diukur dari tempat pijakan sampai sudut bagian luar mata. Perlu dipertimbangkan penambahan tinggi sepatu yaitu untuk pria 2,5 cm dan untuk wanita 3,5 cm.

Jika tidak sesuai antara tinggi mata seseorang dalam posisi berdiri, dengan penempatan objek yang akan dilihat maka mata, kepala, leher dan pinggang akan berada dalam posisi sikap kerja yang tidak alamiah (Kroemer dan Grandjean, 2000).

Pembelajaran dan Penerapan Ergonomi dalam Pembelajaran

ERGONOMI

Pembelajaran dan Penerapan Ergonomi dalam Pembelajaran

Oleh:

Dr. I Gusti Made Oka Suprapta

 

Pengertian Pembelajaran

    Pembelajaran adalah suatu proses dengan tahapan aktivitas yang terprogram sehingga pada diri pebelajar terjadi perubahan prilaku. Perubahan perilaku itu meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor (Damajanti, 2010). Ada beberapa istilah yang dikenal dalam pembelajaran, antara lain: pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, teknik pembelajaran dan model pembelajaran. Pendekatan pembelajaran adalah suatu proses pembelajaran yang sifatnya masih sangat umum. Ada dua jenis pendekatan pembelajaran, yaitu: pendekatan pembelajaran yang berpusat pada pebelajar (student centered) dan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada pembelajar (teacher centered) (Trianto, 2007). Strategi pembelajaran adalah rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Misalnya strategi pembelajaran kooperatif dapat direncanakan dengan menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok. Metode pembelajaran
dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: ceramah, demonstrasi, diskusi, simulasi, laboratorium, pengalaman lapangan, brainstorming, debat, simposium, dan sebagainya. Teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Apabila antara pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir pembelajaran (Trianto, 2007; Sanjaya, 2009; Wena, 2009).

Pembelajaran Konvensional

Selain hal tersebut di atas kita juga mengenal pembelajaran konvensional dan pembelajaran inovatif. Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang didominasi oleh pembelajar dan berlangsung secara klasikal. Pebelajar hanya menerima apa yang disampaikan oleh pembelajar, aktivitas belajar pebelajar sangat kurang dan pembelajaran kurang bermakna karena pebelajar lebih banyak menghapal. Pembelajaran konvensional memiliki kekhasan tertentu, misalnya mengutamakan hapalan daripada pengertian, mengutamakan hasil daripada proses, dan pengajaran berpusat pada pembelajar (Said, 2009). Jadi kegiatan utama pembelajar adalah menerangkan dan pebelajar mendengarkan atau mencatat apa yang disampaikan pembelajar, sehingga ciri-ciri pembelajaran konvensional sebagai berikut. (a) pembelajaran berlangsung secara klasikal; (b) pebelajar tidak mengetahui apa tujuan mereka belajar pada hari itu; (c)
pembelajar mengajar dengan berpedoman pada buku teks, dengan mengutamakan metode ceramah; (d) pebelajar harus mengikuti cara belajar yang dipilih oleh pembelajar, serta dengan patuh mempelajari urutan yang ditetapkan pembelajar; dan (e) tidak mendapat kesempatan untuk menyatakan pendapat (Said, 2009).

Pembelajaran Inovatif

Ada beberapa model pembelajaran inovatif diantaranya adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning), model pengajaran langsung (direct instruction), pengajaran berdasarkan masalah (problem based instruction) dan pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (Trianto, 2007; Madiya, dkk., 2010). Arends (2007), mengemukakan ada beberapa tipe pembelajaran kooperatif yaitu: Student Teams Achievement Division (STAD), Group Investigation, Jigsaw,
Think-Pair-Share (TPS) dan Numbered Heads Together (NHT).

Pembelajaran kooperatif lebih menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai paling sedikit ada tiga yaitu kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan bahan pelajaran, toleransi dan penerimaan terhadap keanekaragaman, serta pengembangan keterampilan sosial (Arends, 2007). Lebih jauh Sanjaya (2009) menyatakan bahwa ada empat unsur penting dalam strategi pembelajaran kooperatif, yaitu: (a) adanya peserta dalam kelompok, (b) adanya aturan kelompok, (c) adanya upaya belajar setiap anggota kelompok, (d) adanya tujuan yang harus dicapai. Aktivitas pembelajaran dilakukan dalam kegiatan kelompok, sehingga antar peserta dapat saling membelajarkan diri melalui tukar pikiran, pengalaman, maupun gagasan-gagasan.

Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning merupakan pembelajaran yang memberi kesempatan kepada pebelajar untuk bekerja sama dengan sesama pebelajar dalam tugas-tugas yang terstruktur. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok dan ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka yang bersifat efektif diantara anggota kelompok. Hubungan kerja seperti itu memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat dilakukan pebelajar untuk mencapai keberhasilan belajar berdasarkan kemampuan dirinya secara individu dan andil dari anggota kelompok lain selama belajar bersama dalam kelompok (Karlina, 2009).

Arends (2007) menyebutkan karakteristik pembelajaran kooperatif di antaranya: (a) pebelajar bekerja dalam kelompok kooperatif untuk menguasai materi akademis; (b) anggota-anggota dalam kelompok diatur terdiri dari pebelajar yang berkemampuan rendah, sedang dan tinggi; (c) jika memungkinkan, masing-masing anggota kelompok kooperatif berbeda suku, budaya, dan jenis kelamin; (d) sistem penghargaan berorientasi kepada kelompok bukan individu.

Pembelajaran dengan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM)

Pembelajaran dengan pendekatan
Sains Teknologi Masyarakat (STM) juga merupakan pembelajaran inovatif karena menggunakan pendekatan kooperatif, yaitu pembelajaran yang dilaksanakan secara tim (Madiya, dkk., 2010). Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap pebelajar belajar. Semua anggota tim (anggota kelompok) harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itulah, kreteria keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh keberhasilan tim. Setiap kelompok bersifat heterogen, yaitu kelompoknya terdiri atas anggota yang memiliki kemampuan akademik, jenis kelamin, dan latar belakang sosial yang berbeda. Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat saling memberi dan menerima pengalaman, sehingga diharapkan setiap anggota dapat memberikan kontribusi terhadap keberhasilan kelompok. (Nurohman, 2008). Pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka dan saling memberikan informasi. Interaksi tatap muka akan memberikan pengalaman yang berharga kepada setiap anggota kelompok untuk bekerja sama, menghargai setiap perbedaan, memanfaatkan kelebihan masing-masing anggota, dan mengisi kekurangan masing-masing. Pembelajaran kooperatif melatih pebelajar untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi (Karlina, 2009). Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan di masyarakat. Masalah yang dibahas dalam diskusi kelompok adalah masalah yang berkaitan dengan situasi dunia nyata atau isu-isu sosial dan teknologi yang ada di masyarakat, sehingga ada hubungan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya pembelajaran menjadi bermakna atau disebut juga pembelajaran kontekstual (Nurohman, 2008; Sumintono, 2010; Widyatiningtyas, 2008; Dzaki,
2009).

Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat menganut teori konstruktivis, yang menyatakan bahwa pengajar tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada pebelajar, tetapi pebelajar harus membangun sendiri pengetahuan didalam benaknya. Pengajar memberikan kesempatan kepada pebelajar untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui penemuan masalah-masalah yang ada di lingkungannya, isu-isu yang ada dimasyarakat dan perkembangan teknologi di masyarakat (Tamalene, 2009).

Konstruktivisme merupakan salah satu perkembangan model pembelajaran mutakhir yang mengedepankan aktivitas pebelajar dalam setiap interaksi edukatif untuk dapat melakukan eksplorasi dan menemukan pengetahuannya sendiri. Kontruktivisme menekankan bahwa semua pebelajar mulai dari usia kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi memiliki gagasan atau pengetahuan tentang lingkungan dan peristiwa atau gejala yang terjadi di lingkungan sekitarnya (Admin, 2009).

Pembelajar mempunyai peran penting untuk membantu pebelajar membangun pengetahuan dan keterampilannya. Dengan demikian, pebelajar dapat membuat suatu keputusan yang bertanggung jawab mengenai isu-isu sosial, khususnya isu yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Salah satu cara yang populer untuk memperkenalkan pebelajar dengan isu-isu sosial itu adalah dengan meminta kepada pebelajar untuk mencari artikel-artikel tentang sains, teknologi dan penggunaannya dalam masyarakat. Pencarian ini bisa di jurnal-jurnal ataupun di internet dan dibawa ke kelas pada saat proses pembelajaran. Pendekatan ini selalu mengkaitkan antara sains, teknologi dan penggunaan sains dan teknologi itu dalam masyarakat (Nurohman, 2008). Dengan penggunaan pendekatan ini dalam pembelajaran sains maka dalam proses pembelajarannya, kita mempunyai konsekuensi bahwa selain kita menanamkan pemahaman pebelajar terhadap konsep-konsep atau prinsip-prinsip sains, kita perlu juga membangun pemahaman pebelajar terhadap teknologi yang berkaitan dengan konsep itu, dan kemungkinan penggunaannya di lingkungan masyarakat atau dalam kehidupan sehari-hari (Dzaki, 2009).

Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat Berbasis Ergonomi

Materi kuliah biologi khususnya bioteknologi sangat tepat bila pembelajarannya diterapkan dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat, karena materi biologi sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan teknologi yang ada di masyarakat (Dzaki, 2009). Penggunaan pembelajaran dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat supaya lebih diminati maka pelaksanaannya harus efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien. Pelaksanaan pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat menjadi efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien bila dikaitkan dengan kaidah-kaidah ergonomi.

Ergonomi adalah ilmu, teknologi dan seni untuk menyerasikan alat, cara kerja dan lingkungan pada kemampuan, kebolehan dan batasan manusia sehingga diperoleh kondisi kerja dan lingkungan yang sehat, aman, nyaman dan efisien sehingga tercapai produktivitas yang setinggi-tingginya (Manuaba, 2003d; 2004a). Ergonomi sangat diperlukan di dalam suatu kegiatan yang melibatkan manusia di dalamnya dengan memperhitungkan kemampuan dan tuntutan tugas. Dengan ergonomi dapat ditekan dampak negatif pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena dengan ergonomi berbagai penyakit akibat kerja, kecelakaan, pencemaran, keracunan, ketidak-puasan kerja, kesalahan unsur manusia, bisa dihindari atau ditekan sekecil-kecilnya (Manuaba, 2003b).

Agar keluhan otot, kelelahan dan kebosanan dapat diminimalkan maka tugas (task), organisasi (organization) dan lingkungan (environment) perlu diserasikan dengan kemampuan, kebolehan dan keterbatasan mahasiswa sehingga terwujud pembelajaran lebih manusiawi. Sehingga perlu dipertimbangkan delapan aspek ergonomi sebagai dasar perbaikan model pembelajaran seperti faktor energi atau status gizi, sikap kerja, penggunaan tenaga otot secara maksimal dan efisien, kondisi lingkungan, kondisi waktu, kondisi informasi, kondisi sosial budaya dan interaksi manusia–mesin (Manuaba, 2003b). Analisis terhadap delapan aspek ergonomi diharapkan kondisi kerja pada saat pembelajaran dapat diterima oleh mahasiswa.

    Untuk menganalisis keserasian antara tugas (task), organisasi (organization) dan lingkungan (environment) dalam proses pembelajaran dapat digunakan delapan aspek ergonomi yaitu sebagai berikut.

Gizi mahasiswa

Status gizi mahasiswa hendaknya dalam batas normal menurut indeks massa tubuh (IMT). Indeks massa tubuh menunjukkan keseimbangan antara asupan gizi dan penggunaannya. Indeks massa tubuh di atas dan di bawah normal mempunyai risiko lebih besar terhadap berbagai keluhan dan penyakit, seperti cepat lelah atau kebugaran fisik menurun, dan gangguan berbagai penyakit (Adiatmika, 2007). Kategori indeks massa tubuh (IMT) seperti pada Tabel 2.1

Tabel 1

Kategori Indeks Massa Tubuh (Almatsier, 2003)

 

 


Kategori          Keterangan              IMT

 

 

Sangat Kurus        Kekurangan Berat Badan Tingkat Berat         < 17,0

Kurus            Kekurangan Berat Badan Tingkat Ringan        17,0 – 18,4

Normal            Normal                        18,5 – 25,0

Gemuk            Kelebihan Berat Badan Tingkat Ringan         25,1 – 27,0

Obes            Kelebihan Berat Badan Tingkat Berat        > 27,0

 

 

Sikap kerja

Sikap kerja pebelajar pada saat proses pembelajaran hendaknya dalam posisi fisiologis dan tidak menimbulkan sikap paksa (Kroemer dan Grandjean, 2000). Sikap alamiah dapat mencegah kontraksi otot dan peregangan tendo berlebihan. Antisipasi terhadap perubahan sikap tubuh pada saat pembelajaran adalah (a) laksanakan redesain alat kerja dan stasiun kerja sehingga ukuran alat kerja dan stasiun kerja disesuaikan dengan antropometri mahasiswa; (b) pada saat pembelajaran usahakan kerja otot lebih dinamis dan lebih bervariasi sehingga pebelajar dapat melakukan istirahat aktif, karena istirahat aktif dapat mempercepat waktu pemulihan (Husein, 2007).

Penggunaan tenaga otot

Setiap otot memanjang atau memendek akan membutuhkan energi, energi berasal dari simpanan energi dalam tubuh. Simpanan energi tersebut berasal dari makanan dan minuman yang dikonsumsi sebelumnya. Manusia bekerja dengan tugas berat akan membutuhkan energi lebih besar dibandingkan dengan bekerja dengan tugas ringan (Adiputra, 2008b).

Selama kontraksi otot diperlukan tersedianya ATP secara kontinyu. Ketersediaan energi tergantung pada ketersediaan oksigen dan nutrisi yang dihantarkan oleh sistem sirkulasi. Kontraksi otot statis (isometrik) dalam waktu relatif lama menyebabkan sirkulasi darah tidak optimal, sehingga mengurangi asupan oksigen dan zat makanan. Dengan demikian asupan energi berkurang sehingga mempercepat timbulnya kelelahan. Di samping itu akumulasi asam laktat merangsang reseptor rasa nyeri sehingga dirasakan sebagai keluhan muskuloskeletal. Dengan demikian kerja otot statis mempercepat timbulnya kelelahan dan keluhan muskuloskeletal (Guyton & Hall, 2000).

Untuk mengantisipasi masalah ini dalam proses pembelajaran maka stasiun kerja dan alat kerja harus disesuaikan dengan antropometri mahasiswa. Teknik pembelajaran diupayakan agar aktivitas pebelajar menjadi lebih dinamis dengan jalan kontraksi otot statis diubah menjadi dinamis (Husein, 2007).

Kondisi lingkungan.

Lingkungan kerja merupakan sumber stres yang berpengaruh pada kinerja karyawan. Aspek lingkungan kerja sangat menentukan prestasi kerja manusia. Lingkungan yang tidak kondusif untuk bekerja akan memberikan beban tambahan bagi tubuh, pada hal tubuh sedang melaksanakan beban utama yaitu tugas yang sedang dilaksanakan. Demikian juga lingkungan dingin, kelembaban relatif, penipisan kadar oksigen, adanya zat pencemar dalam udara semuanya akan mempengaruhi penampilan kerja manusia. Itulah yang menjadi fokus kajian ergonomi. Penerangan tempat kerja, adanya kebisingan, lingkungan kimia, biologi dan lingkungan sosial di tempat kerja berpengaruh terhadap prestasi dan produktivitas kerja (Adiputra, 2008b).

Kondisi waktu

Lama perkuliahan disesuaikan dengan bobot mata kuliah atau jumlah SKS mata kuliah (1 SKS = 50 menit). Bila bobot mata kuliahnya 3 SKS, maka lama perkuliahan adalah 150 menit. Untuk mengikuti perkuliahan berikutnya perlu waktu istirahat 30 menit. Waktu istirahat yang dijadwalkan 30 menit harus dimanfaatkan dengan baik oleh mahasiswa, sehingga tidak menimbulkan kelelahan yang berlebihan. Teknik pembelajaran dengan pendekatan ergonomi menekankan agar kerja otot lebih dinamis dan lebih bervariasi sehingga mahasiswa dapat melakukan istirahat aktif, karena istirahat aktif dapat mempercepat waktu pemulihan (Husein, 2007).

Kondisi informasi

    Informasi merupakan hal yang penting dalam proses pembelajaran dan sangat dibutuhkan oleh pebelajar. Pesan dalam bentuk display yang dibuat oleh pembelajar seperti model, bagan, grafik, alat peraga, power point, tulisan di papan tulis harus disesuaikan dengan kaidah-kaidah ergonomi (Adri, 2008; Pardede, 2008; Hartati, 2009; Said, 2009).

Kondisi sosial budaya

    Rasa nyaman di tempat kerja dipengaruhi pula oleh kondisi sosial budaya di lingkungan kerja, lingkungan keluarga maupun masyarakat (Nala, 2001). Pebelajar akan merasa nyaman bila hubungan dengan keluarganya baik, hubungan antar pebelajar baik dan hubungan dengan civitas akademika juga harus baik.

    Kondisi sosial budaya yang harmonis akan memungkinkan pebelajar hanya memikirkan proses pembelajaran, sehingga pebelajar lebih fokus mengikuti pembelajaran. Melalui pembelajaran kooperatif pebelajar akan berhubungan secara harmonis dengan teman sekelompok dan teman anggota kelompok lain. Demikian pula akan berhubungan secara harmonis dengan pembelajar atau fasilitator (Trianto, 2007). Kondisi sosial budaya di luar sekolah atau di lingkungan masyarakat juga sangat berpengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar. Misalnya, bila pebelajar di sekolah memperoleh prestasi belajar yang tinggi, maka akan mudah mencari pekerjaan sesuai dengan bidangnya. Bila kondisi seperti ini berlaku, maka pebelajar akan termotivasi untuk belajar lebih giat.

Kondisi manusia-peralatan kerja

Setiap pekerjaan memerlukan alat untuk membantu pekerjaan sehingga terlaksana secara efektif dan efisien. Interaksi pebelajar dengan peralatan yang digunakan dalam proses belajar mengajar harus serasi sehingga hasilnya optimal. Sehingga dengan demikian pemilihan alat harus disesuaikan dengan antropometri pebelajar (Kroemer dan Grandjean, 2000).

Kapasitas pebelajar dalam menghadapi kondisi kerja ditentukan oleh kemampuan, kebolehan dan keterbatasan. Pebelajar melakukan adaptasi terhadap kondisi kerja. Kemampuan pebelajar beradaptasi terhadap kondisi kerja memiliki batasan tertentu. Bila kondisi kerja melebihi kemampuan adaptasi akan menimbulkan berbagai keluhan baik objektif maupun subjektif. Oleh karena itu setiap perbaikan ergonomi dalam dunia pendidikan selalu memperhatikan kapasitas pebelajar serta kondisi kerjanya (Manuaba, 2003c).

Dari beberapa perbaikan ergonomi yang telah dilakukan oleh para ahli terbukti bahwa dengan penerapan ergonomi mampu memberikan keuntungan secara ekonomi, meningkatkan keselamatan dan kenyamanan kerja. Menurut Manuaba (2000) Penerapan ergonomi yang baik dan benar memberikan manfaat: (a) pemakaian tenaga otot bisa lebih efisien; (b) pemanfaatan waktu lebih efisien; (c) kelelahan berkurang; (d) kecelakaan kerja berkurang atau dapat ditiadakan; (e) penyakit akibat kerja berkurang; (f) kenyamanan dan kepuasan kerja meningkat; (g) efisiensi kerja meningkat; (h) mutu produk dan produktivitas kerja meningkat; (i) kesalahan kerja berkurang dan kerusakan dapat diminimalkan; dan (j) pengeluaran untuk mengatasi kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat dikurangi yang konsekuensinya biaya operasional dapat ditekan.

    Salah satu bentuk pendekatan yang dipergunakan untuk perbaikan kondisi kerja adalah pendekatan ergonomi total (Manuaba, 2005; 2006). Pendekatan ergonomi total adalah suatu pendekatan yang menggabungkan antara konsep penerapan teknologi tepat guna (TTG) dan pendekatan SHIP (Sistemik, Holistik, Interdisipliner, dan Partisipatori). Pendekatan ergonomi total pada pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat mengandung dua aspek yaitu: (a) pendekatan sistemik, holistik, interdisipliner dan partisipatori (SHIP); dan (b) pemanfaatan teknologi tepat guna (TTG). Pada fase persiapan pembelajaran dikaji menggunakan pendekatan SHIP dan TTG, yaitu mengenai: ukuran meja dan kursi belajar, penempatan papan tulis dan layar OHP, pembuatan papan kerja, penambahan lampu penerangan, dan pembuatan media pembelajaran. Pada fase inti proses pembelajaran, dirancang menggunakan pendekatan sains teknologi masyarakat (STM) yang dikombinasikan dengan pendekatan sistemik, holistik, interdisipliner dan partisipatori (SHIP) untuk memecahkan masalah-masalah yang diberikan oleh pembelajar (Manuaba, 2005; 2006).

    Kajian teknologi tepat guna sangat penting dilakukan dalam alih teknologi dari negara maju ke negara berkembang seperti Indonesia khususnya, sehingga memenuhi kriteria teknologi tepat guna yang harus dapat dipertanggungjawabkan baik secara teknis, ekonomis, ergonomis maupun secara sosio-kultural. Di samping itu teknologi dimaksudkan agar hemat energi dan tidak merusak lingkungan.

    Supaya lebih terperinci maka perlu diuraikan satu persatu dari sisi teknis, ekonomis, ergonomis, sosio-kultural, hemat energi, dan tidak merusak lingkungan. Demikian pula dari konsep SHIP diuraikan secara rinci dan aplikasinya dalam dunia pendidikan seperti di bawah ini.


1. Secara teknis

Setiap perbaikan hendaknya bertujuan untuk mempermudah dan mempercepat proses kerja. Peralatan hendaknya dirancang dengan mempertimbangkan kemudahan untuk memperoleh bahan baku yang memenuhi standar, mudah dibuat, mudah dalam pemeliharaan (Manuaba, 2004c).

Aplikasi konsep ini ke dalam dunia pendidikan khususnya dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut.

Dalam pelaksanaan pembelajaran bioteknologi dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi perlu dibuat media pembelajaran, papan kerja dan kursi kuliah. Bahan-bahan bekas yang tidak berguna seperti triplek dan kayu dimanpaatkan untuk pembuatan papan kerja dan media pembelajaran, sehingga konsep daur ulang tepat sasaran. Konsep ini juga diterapkan dalam rangka untuk membuat kursi kuliah. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan kursi kuliah juga dibeli dari masyarakat setempat. Dalam pembuatan kursi kuliah ini tetap mengacu pada konsep ergonomi, yaitu ukuran meja dan kursi disesuaikan dengan antropometri mahasiswa. Jadi dengan demikian secara teknis dapat diterima baik dari segi aspek ergonomis, pemanfaatan bahan yang mudah dirawat dan penerapan aspek daur ulang.

2. Ekonomis

Setiap perbaikan hendaknya tidak sampai menimbulkan biaya tinggi, dan penentuan efisiensi hendaknya memperhatikan dampak sosial. Oleh karena itu pemanfaatan ekonomi biaya tinggi dan penggunaan teknologi tinggi hendaknya dilaksanakan dengan bijaksana dengan mempertimbangkan dampaknya kepada manusia (Manuaba, 2004c). Ditinjau dari ekonomis, maka pemanfaatan teknologi tepat guna diharapkan mampu menekan biaya pembangunan.

Aplikasi konsep ini ke dalam dunia pendidikan khususnya dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut.

Secara ekonomis dalam pelaksanaan pembelajaran bioteknologi dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergononomi dapat dijangkau, karena pembuatan media pembelajaran, papan kerja dan sarana prasarana yang lainnya menggunakan bahan-bahan bekas. Pemanpaatan bahan-bahan bekas seperti triplek dan kayu yang ada di lingkungan sekolah dapat digunakan untuk memecahkan masalah dari sisi finansial karena mahalnya bahan-bahan yang dibeli dipasaran.

 

3. Ergonomis

Setiap perbaikan bertujuan untuk meningkatkan kesehatan secara fisik dan mental sehingga tercapai kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu hendaknya selalu memperhatikan kondisi kerja dalam rangka mencegah timbulnya penyakit dan cedera akibat kerja, mengurangi beban kerja fisik dan mental, meningkatkan kepuasan kerja, kehidupan sosial budaya, serta mengupayakan pengaturan sistem kerja sehingga terjadi keseimbangan unsur ekonomi, sosial budaya dan antropometri dalam hubungan manusia-mesin untuk meningkatkan efisiensi kerja (Manuaba, 2004c).

Aplikasi konsep ini ke dalam dunia pendidikan khususnya dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut.

     Perbaikan pada aspek task seperti kursi kuliah, penempatan papan tulis dan layar LCD, penambahan papan kerja, dan perbaikan media pembelajaran, diharapkan suasana belajar lebih nyaman dan menyenangkan sehingga keluhan muskuloskletal, kebosanan, kelelahan dapat diminimalkan sedangkan aktivitas belajar dan hasil belajar dapat ditingkatkan.

Perbaikan kondisi lingkungan, seperti perbaikan terhadap penerangan ruangan diupayakan antara 350-700 lux untuk membaca dan menulis (Kroemer dan Grandjean, 2000). Perbaikan kondisi lingkungan ruang belajar ini menjadikan pebelajar belajar lebih nyaman, sehat, efisien dan menyenangkan.

Perbaikan di bidang organisasi pada pebelajar dimulai dengan penerapan pembentukan kelompok diskusi, karena menganut model pembelajaran kooperatif (Trianto, 2007). Dengan memperbaiki teknik pembelajaran dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi, maka pembelajaran didominasi oleh pebelajar, karena pebelajar aktif melakukan diskusi kelompok dan presentasi. Pebelajar dapat melakukan istirahat aktif. Dengan pendekatan ini aktivitas pebelajar menjadi lebih dinamis, karena kontraksi otot statis diubah menjadi dinamis (Husein, 2007). Sehingga mahasiswa tidak hanya berada di satu tempat akan tetapi mereka harus berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain atau ke papan tulis dan papan kerja untuk memasang hasil kerja kelompok. Dengan perbaikan pada aspek task, lingkungan dan organisasi ini dengan mengacu pada kaidah ergonomi akan berdampak positif pada pengguna baik pebelajar itu sendiri maupun pada pembelajar. Pada pebelajar akan dapat merasakan berkurangnya rasa lelah dalam mengikuti aktivitas pembelajaran, mengurangi keluhan muskuloskeletal, kebosanan, meningkatkan aktivitas belajar dan semuanya bermuara pada peningkatan prestasi belajar pebelajar. Sedangkan pada pembelajar akan merasakan kondisi pembelajaran yang efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien selama berinteraksi dengan pebelajar.


4. Sosio-budaya

Kondisi sosial budaya disertai dengan nilai-nilai estetika hendaknya menjadi perhatian sehingga benar-benar dapat diterima oleh semua pihak serta tidak menimbulkan benturan dengan masyarakat setempat (Manuaba, 2004c).

Aplikasi konsep ini ke dalam dunia pendidikan khususnya dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut.

Dalam rangka untuk membina dan meningkatkan motivasi kerja pebelajar pada pembelajaran bioteknologi dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi, ternyata kondisi sosial seperti pemberian penghargaan bagi yang berhasil dan hukuman bagi yang salah harus dilakukan oleh pembelajar untuk memotivasi belajar pebelajar. Kondisi sosial seharusnya banyak dimanfaatkan oleh pimpinan tempat kerja untuk membina
dan membangkitkan motivasi kerja, seperti sistem penghargaan bagi yang berhasil dan hukuman bagi yang salah dan lalai bekerja (Adiputra, 2008b).

Dalam melakukan perbaikan task dan lingkungan sekolah, para teknisinya atau tukang yang diajak bekerja diambil dari pegawai yang bekerja di sekolah tersebut. Jadi dengan demikian perbaikan task dan lingkungan sekolah yang menuju ke arah yang lebih ergonomis secara sosial budaya akan dapat diterima oleh masyarakat setempat karena mereka ikut terlibat secara langsung di dalamnya.

5. Hemat energi

Hendaknya dihindari peningkatan penggunaan energi secara berlebihan sehingga merusak tatanan alam yang sudah ada, Hal ini penting dilakukan mengingat sumber daya alam yang tersedia sangat terbatas, sehingga tidak mengganggu kehidupan manusia dimasa yang akan datang. Dalam pemanfaatan teknologi perlu diupayakan penggunaan energi secara efisien (Manuaba, 2004c).

Aplikasi konsep ini ke dalam dunia pendidikan khususnya dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut.

    Penggunaan energi listrik dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal ini, penggunaan lampu neon (TL) lebih baik daripada lampu pijar, karena lampu TL memberi penerangan sebesar 75% dan panas hanya 25%. Sedangkan lampu pijar mengeluarkan panas 75% dan memberi penerangan hanya 25%. Di samping kelebihan tersebut, lampu TL juga memiliki kekurangan, yaitu adanya efek getaran. Masalah ini dapat diatasi dengan jalan menutup ujung-ujung lampu TL, jika digunakan hanya satu lampu, tapi jika digunakan lebih dari satu lampu TL, hendaknya dipasang dengan T sistem (Sutajaya, 2007).

6. Tidak merusak lingkungan

     Teknologi yang dibuat tidak menimbulkan dampak bagi lingkungan, bahkan tidak merusak lingkungan itu sendiri. Penggunaan material yang dapat merusak lingkungan harus dihindari, polusi, emisi dan perusakan lingkungan dicegah semaksimal mungkin. Hal ini untuk menjaga daya dukung alam dan lingkungan bagi kehidupan manusia secara berkelanjutan (Manuaba, 2004c; Sudiarno, 2008).

Aplikasi konsep ini ke dalam dunia pendidikan khususnya dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut.

    Pemanpaatan barang bekas untuk alat dan bahan media pembelajaran seperti sampah anorganik, sisa-sisa kayu mebuler, kardus, bekas botol aqua, kaleng dan lain-lainnya memberikan makna tidak merusak lingkungan, sehingga pemanpaatan sisa-sisa limbah ini sebagai wujud ikut menjaga kesehatan lingkungan dan pelestarian lingkungan.

  1. Trendy

        Perbaikan yang dilakukan hendaknya memperhatikan aspek perkembangan mode terbaru di masyarakat, sehingga memiliki nilai estitika dan nilai jual yang tinggi (Sihombing, 2007). Aplikasi konsep ini ke dalam dunia pendidikan khususnya dalam penelitian ini adalah penambahan fasilitas seperti papan kerja, kursi kuliah memakai desain yang terbaru yaitu alas kursi menggunakan bahan spon dan ukuran-ukurannya disesuaikan dengan antropometrik mahasiswa.

Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi berorientasi pada pendekatan SHIP (Sistemik, Holistik, Interdisipliner, dan Partisipatori). Pendekatan SHIP akhir-akhir ini menjadi suatu kajian menarik yang banyak didiskusikan oleh para ahli mengingat keampuhannya di dalam mengelola suatu aktivitas di tempat kerja. Pendekatan ini harus dilaksanakan secara konsekuen agar diperoleh hasil yang maksimal dan dampak negatif yang ditimbulkan akan bisa ditekan seminimal mungkin (Manuaba, 2004a). Penerapan ergonomi sebaiknya dilakukan secara sistemik, dikaji melalui lintas disiplin ilmu (interdisipliner) dan holistik serta menggunakan pendekatan partisipatori, agar semua komponen yang ada dapat diajak atau dilibatkan berpartisipasi sejak perencanaan sampai tahap pelaksanaan maupun dalam evaluasinya, sehingga mereka akan mengetahui keberhasilan atau kegagalannya dan secara bersama-sama mencari kembali solusinya serta mereka akan merasa ikut memiliki. Pembelajaran dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi menekankan pada pendekatan ergonomi total. Pendekatan ergonomi total adalah suatu bentuk pendekatan yang menggabungkan antara konsep penerapan teknologi tepat guna dan pendekatan SHIP (Manuaba, 2005; 2006).

    Bentuk pemecahan masalah pada proses pembelajaran dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat juga menggunakan pendekatan SHIP, antara lain:

1. Sistemik

Secara sistemik, adalah semua faktor yang berada di dalam suatu sistem dan diperkirakan dapat menimbulkan masalah harus ikut diperhitungkan sehingga tidak ada lagi masalah yang tertinggal atau munculnya masalah baru sebagai akibat dari keterkaitan sistem (Manuaba, 2005).


2. Holistik

     Secara holistik, artinya semua faktor atau sistem yang terkait atau diperkirakan terkait dengan masalah yang ada, harus dipecahkan secara proaktif dan menyeluruh (Manuaba, 2003d). Dengan pendekatan sistemik dan holistik ini, akan membiasakan pebelajar untuk melihat dan mengkaji masalah secara holistik dan sistemik, bukan hanya memandang dari satu aspek saja (Rosadhi, 2009; Sudrajat, 2008; Susento. 2009).


3. Interdisipliner


Secara interdisipliner, artinya semua disiplin yang terkait harus dimanfaatkan, karena semakin kompleksnya permasalahan yang diasumsikan tidak akan terpecahkan secara maksimal jika hanya dikaji melalui satu disiplin, sehingga perlu dikaji melalui lintas disiplin ilmu (Manuaba, 2003a; 2005). Pada saat perencanaan redesain stasiun kerja melibatkan banyak disiplin ilmu, seperti: teknik, desain, budaya, faal, dan ekonomi.

4. Partisipatori

Secara partisipatori, artinya semua orang yang terlibat dalam pemecahan masalah tersebut harus dilibatkan sejak awal secara maksimal agar dapat diwujudkan mekanisme kerja yang kondusif dan diperoleh produk yang berkualitas dan sesuai dengan tuntunan zaman (Manuaba, 2003a; Purwanto.2008; Afifuddin, 2009). Pihak yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah mahasiswa, tim dosen, pimpinan fakultas, ahli desain, tukang kayu, ahli ergonomi dan ahli pendidikan.

     Memperhatikan hal tersebut di atas maka pembelajaran dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi menggunakan pendekatan SHIP. Dengan demikian pembelajaran dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi dapat diartikan sebagai upaya pemberdayaan seseorang agar lebih terbuka, transparan, delegatif, kolaboratif, dapat menghargai perbedaan, dapat menghargai manajemen waktu dan konflik, mampu bekerja dalam tim, mampu mengurangi arogansi, tidak memonopoli waktu, dan sadar akan demokrasi dan hak-hak asasi manusia (Manuaba, 2004a). Pembelajaran dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi dapat menyeimbangkan antara tuntutan tugas (beban kerja) dan kapasitas (kemampuan, kebolehan dan keterbatasan) pebelajar sehingga mereka dapat belajar secara efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien serta tercapai prestasi yang setinggi-tingginya.

Pembelajaran dengan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat berbasis ergonomi menuntut aktivitas kelas berpusat pada pebelajar, bermakna dan otentik. Pembelajaran ini menggunakan pengetahuan awal, pengalaman, dan minat pebelajar dalam pembelajaran yang mendukung pengkonstruksian pengetahuan secara aktif. Pembelajaran ini juga menyediakan makna dan tujuan belajar serta melibatkan para pebelajar dalam interaksi sosial untuk mengembangkan pengetahuan. Pembelajaran dengan pendekatan ini, juga menghendaki pergeseran peran pebelajar dari pengamat informasi secara pasif menjadi pebelajar yang aktif, kritis, dan kreatif dalam menganalisis dan mengaplikasikan fakta-fakta, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari (Widyatiningtyas, 2008).

%d bloggers like this: