ERGONOMI

Oleh: I Gusti Made Oka Suprapta

Jurusan Biologi IKIP Saraswati Tabanan

 

Tugas seorang  designer  adalah merencanakan suatu desain produk sehingga memenuhi kepentingan si pemakai. Dalam perancangan tersebut tentunya banyak aspek harus diperhatikan, seperti karakteristik si pemakai, bahan baku, nilai sosio-budaya setempat, aspek lingkungan, estetika, faktor teknis, dan daya beli masyarakat (faktor ekonomi). Masukan dari konsumen setelah produk sebelumnya dipasarkan sangat diperlukan oleh perusahan.  Hubungan perancangan dengan proses produksi dapat ditinjau dengan menerapkan lingkaran PDCA  yaitu:  P(plan), D (do), C (check), A (action). Penciptaan produk baru ini meliputi 3 hal yaitu: (a)  produk yang sama sekali baru, (b)perubahan desain (redesaign) dan (c)  pembungkusan (packaging). Produk merupakan suatu perwujudan dari hasil designer dalam upaya memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Produk-produk yang dihasilkan dan diperkenalkan ke konsumen, tidak seluruhnya dapat memuaskan atau memenuhi sesuai dengan keinginan konsumen. Hal ini disebabkan, salah satu diantaranya yaitu kesulitan designer dalam menterjemahkan keinginan konsumen yang sangat bervariasi dan berubah-ubah. Meskipun demikian, secara umum seharusnya produk yang berada di pasar dapat memberikan manfaat yang besar bagi pemakainya. Tetapi kenyataannya banyak produk yang beredar di pasar tidak disukai oleh konsumen, karena konsumen merasa tidak menyukainya atau membutuhkannya akan produk tersebut. Seluruh aktivitas yang terjadi di alam semesta ini, seluruhnya selalu berhubungan dengan kepentingan manusia. Manusia selalu dijadikan objek dalam pengembangan design produk. Produk-produk yang dihasilkan diharapkan dapat memuaskan dan memenuhi kebutuhan manusia. Tetapi banyak produk yang dijual dan beredar di pasar dinilai tidak ergonomis, dan manusia sebagai pengguna tidak menyadari akan hal tersebut karena tidak ada pilihan lain. Produk tersebut dibuat dan dirancang untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi produk tersebut dinilai tidak ergonomis, sehingga sedemikian rupa produk tersebut sedikit manfaat yang akan dirasakan oleh manusia sebagai konsumen bahkan akan memberikan efek negatif bagi penggunanya. Dengan demikian akan menguatkan hipotesis bahwa produk yang dirancang tidak menggunakan konsep ergonomis, tidak akan memberikan manfaat yang besar bagi pemakainya sehingga tidak akan diminati dan dibeli oleh manusia sebagai konsumen, dimana produk tersebut tidak akan memberikan nilai jual yang tinggi dan tidak memiliki keunggulan bersaing. Sedikit produk yang dirancang secara ergonomis, atau pemasaran produknya dengan menjual citra (image) ergonomis, bahkan masih sedikit pihak yang berkepentingan (baik produsen maupun konsumen) memahami pentingnya konsep ergonomi dalam pengembangan design produk. Hal ini disebabkan belum adanya proses sosialisasi konsep ergonomi secara terpadu dan berkesinambungan ke masyarakat luas, dimana konsep ergonomi masih dipandang sebagai konsep yang tidak ada gunanya dan membuang-buang biaya, atau setidaknya masih memberikan kesan akan membuat harga produk menjadi mahal sehingga sulit laku dan bersaing di pasaran. Anggapan dan kesan ini menjadi ganjalan dan perlu dikikis secara bertahap dan perlunya sosialisasi aplikasi konsep ergonomi dalam pengembangan design produk tidak akan membuat harga produk menjadi mahal, bahkan akan memberikan nilai tambah terhadap fungsi produk tersebut sehingga sedemikian rupa aplikasi konsep ergonomi tersebut akan memberikan nilai jual produk yang tinggi (superior customer value) dan keunggulan bersaing (competitive advantage).

Ergonomi merupakan suatu cabang ilmu yang mempelajari sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia, dimana secara hakiki akan berhubungan dengan segala aktivitas manusia yang dilakukan untuk menunjukkan performansinya yang terbaik. Produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan, pada dasarnya merupakan perwujudan terhadap pemenuhan keinginan manusia (customers needs) sebagai konsumen.  Keinginan konsumen tersebut dilahirkan dari keinginan manusia yang secara alamiah akan memunculkan keinginan dan harapan yang akan selaras dengan konsep ergonomi. Seorang Designer, sebagai kepanjangtanganan dari perusahaan manufaktur, untuk mendesign atau merancang suatu produk yang diilhami dari keinginan konsumen (customers needs). Dalam menciptakan suatu design produk yang sesuai dengan keinginan konsumen, banyak kendala dan hambatan (constrains) yang dihadapi, seperti bervariasinya keinginan konsumen, belum tersedianya teknologi (kalaupun ada masih relatif mahal), persaingan yang ketat antar perusahaan, dan sebagainya. Terlepas dari kendala tersebut, sebagai kunci keberhasilan yaitu seorang designer harus menetapkan bahwa konsep ergonomi harus dijadikan sebagai kerangka dasar dalam pengembangan design produk, sedangkan atribut dan karakteristik lainnya dapat mengikuti sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan yang ada. Design produk yang dihasilkan diharapkan akan memenuhi keinginan konsumen dan diharapkan memiliki nilai tambah, dimana manfaat  yang akan dirasakan konsumen memiliki totalitas manfaat yang lebih dibandingkan biaya korbanan yang harus dikeluarkan. Dengan demikian design produk tersebut memiliki superior customer value dibandingkan pesaingnya.  Keunggulan bersaing harus diciptakan sejak design produk dan diwujudkan dengan produk jadi (finished goods) sebagai indikator performansi nyata  yang akan dilihat dan dirasakan oleh konsumen. Penilaian konsumen terhadap produk merupakan perwujudan tingkat performansi dari produk yang dihasilkan perusahaan. Kemudian apakah konsumen akan merasakan puas (satisfied) jika performansi produk sesuai dengan harapan dari keinginan konsumen, atau tidak puas (dissatisfied) jika performansi produk dibawah harapan dari keinginan konsumen, atau sangat puas (delighted) jika performansi produk melebihi harapannya. Dengan demikian, konsep ergonomi harus dijadikan sebagai kerangka dasar dalam pengembangan design produk sehingga diharapkan hasil design dan produknya memiliki nilai tambah yang dapat meningkatkan manfaat  yang akan dirasakan oleh konsumen serta sekaligus dapat memenuhi harapannya sehingga dapat memberikan kepuasan bagi pemakainya.  Dalam menjembatani kesenjangan antara konsep ergonomi yang secara alamiah berhubungan dengan segala aktivitas manusia yang dilakukan, dengan pengembangan produk sehingga sedemikian rupa produk yang dihasilkan dapat memberikan manfaat yang besar bagi konsumen dan juga sekaligus memberikan daya jual produk yang tinggi, antara lain sebagai berikut : (a) seorang designer harus memahami pentingnya konsep ergonomi dalam pengembangan produk, terutama dalam tahapan design dimana konsep ergonomi harus dijadikan kerangka dasar dari segala kepentingan, sedangkan atribut dan karakteristik produk lainnya melengkapi kerangka dasar tersebut; (b) konsep ergonomi  sebenarnya merupakan salah satu variabel dari keinginan konsumen, tetapi konsumen pada umumnya belum memahami apa itu ergonomi dan bagaimana pentingnya aplikasi ergonomi dalam pengembangan design produk, sehingga terlupakan oleh variabel lain yang dianggap penting. Yang paling penting adalah seorang designer harus lebih memahami konsep ergonomi  sehingga akan mendorong dan memahami konsep ergonomi melalui hasil design produknya sebagai proses pembelajaran dan sosialisasi terhadap masyarakat luas sebagai pengguna; (c) adanya link & match antara industri dengan perguruan tinggi  melalui kerja sama penelitian meliputi design produk, diversifikasi produk, customer needs, dan sebagainya; dan (d) lakukan evaluasi terhadap design produk dan produk jadi secara berkesinambungan dan menyeluruh untuk memperoleh hasil yang lebih baik dari sebelumnya, serta implementasikan hasilnya untuk menghasilkan design produk baru.

Dalam hal ini akan kita pusatkan pada penciptaan produk baru yaitu perubahan desain atau redesain. Redesain yang akan dibahas yaitu tas sekolah (jenis tas punggung). Sekarang ini, berbagai model serta ukuran tas sekolah bisa kita temukan dengan mudah di pasaran, dan  anak-anak sekolah pun amat menyukainya. Warna, bahan, serta motifnya yang amat beragam, selalu saja menarik perhatian mereka. Apalagi bila dihiasi dengan gambar tokoh idola merena seperti Batman, Princess, Barbie, dan sebagainya. Dewasa ini ada beberapa jenis tas sekolah yang  biasa digunakan oleh siswa diantaranya adalah: tas punggung (backpack), tas jinjing, dan tas bahu (tas cangklong). Tas sekolah merupakan suatu sarana tempat menyimpan barang-barang baik untuk waktu sementara maupun dalam waktu yang cukup lama. Tas sekolah telah dikenal dan digunakan sejak lama. Desain dan model silih berganti, hargapun bervariasi. Untuk kalangan sekolah taman kanak-kanak tas sekolah tidak saja berfungsi sebagai tempat menyimpan perlengkapan pelajaran tapi lebih dari itu, seperti misalnya untuk tempat makanan dan minuman.  Tas sekolah dapat memberikan semangat dan percaya diri bagi siswa yang memakainya.      Demikian juga sebuah tas sekolah untuk siswa TK, SD, SMP dan SLTA  merupakan sarana untuk penyimpanan alat-alat pelajaran pada saat pergi kesekolah. Biasanya pandangan kita pada sebuah tas sekolah adalah bentuknya yang kotak, kaku dan kurang cocok untuk digunakan selain hanya untuk kesekolah. Sesungguhnya yang diperlukan adalah tas sekolah yang  multi fungsi dengan disain modis dan ergonomis untuk berbagai aktivitas, seperti misalnya untuk les, olahraga dan kegiatan lainnya.  Sehingga perancangan tas sekolah ini supaya lebih menititik beratkan pada keperluan seorang  siswa.  Pada bagian interior tas sekolah, semestinya didesain mewakili sifat pribadi seorang siswa yang  bersemangat tinggi, dinamis, dan percaya diri. Oleh karena itu pada bagian interiornya tas sekolah, didesain dengan gambar-gambar dan warnawarna yang sesuai dengan sifat pribadi siswa tersebut. Selain itu tas sekolah didesain untuk memberikan kemudahan dalam penggunaannya yaitu tas bisa menjadi sarana untuk membawa buku-buku pelajaran,  tetapi tetap memiliki nilai fashion. Tas sekolah didesain sangat fungsional, tas bisa memyimpan semua perlengkapan-perlengkapan sekolah.

Oleh karena tas sekolah banyak jenisnya, seperti  tas punggung atau tas ransel (backpack),  tas selempang (tas dengan satu tali/ tas bahu),   tas jinjing, dan tas roda maka yang digunakan sebagai sampel pada pembahasan redesain ini adalah tas punggung (backpack),  dengan alasan tas jenis ini paling banyak digunakan di sekolah yang ada di kabupaten  Tabanan.

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: